Toxic Love

Toxic Love
Tak Sabar


__ADS_3

POV Luna


Selesai akad nikah, aku dan Mas Bahri masuk ke dalam ruang ganti. Kamar lamaku sengaja disulap menjadi ruang ganti dadakan. Aku dan Mas Bahri masih malu-malu karena kami harus mengganti baju yang dipakai saat akad nikah dengan baju untuk resepsi. Aku dan Mas Bahri sampai berbalik badan dua-duanya. Kami jadi bahan tertawaan penata rias yang membantuku memakai kebaya pengantin.


Aku juga disuruh makan dahulu sebelum mulai menerima tamu. Aku dan Mas Bahri yang berada di kamar ditinggalkan oleh para penata rias agar bisa menikmati waktu berdua.


"Cantik banget sih kamu!" puji Mas Bahri padaku.


"Iya dong 'kan sekarang aku sudah jadi istrinya Mas Bahri," kataku sambil tersenyum malu.


"Malam hari masih lama ya? Aku sudah tak sabar nih!" kata Mas Bahri membuatku semakin tersipu malu saja mendengarnya.


"Ih, Mas, aku malu. Kamu udah enggak sabar banget ya?" tanyaku balik.


"Iyalah. Untung kita sudah menyewa hotel. Aku ingin puas-puasin nanti malam sama kamu. Oh iya, kata Pak Rezvan aku harus membeli obat kuat. Memangnya harus pakai ya?" tanya Mas Bahri dengan polosnya padaku.


Aku menahan malu saat aku mendengar pertanyaan Mas Bahri yang terdengar polos tersebut. Lugu sekali suamiku ini. Aku yang sudah pengalaman jadi merasa malu dan tak enak hati. Menjawab salah, tidak menjawab juga salah. Kalau aku jawab, kesannya aku pengalaman banget, kalau tidak aku jawab, aku akan membuatnya berpikir aku tak mau berbagi info.

__ADS_1


"Kita coba aja dulu ya, Mas. Kalau memang tidak berhasil, Mas boleh kok pakai obat kuat," jawabku malu-malu.


Mas Bahri tersenyum lebar. "Aku enggak sabar!"


Aku jadi tersenyum setiap kali mendengar perkataannya yang lucu dan lugu tersebut. Ya Allah ... aku beruntung banget mendapatkan Mas Fahri. Polos, baik hati dan idaman banget. Aku sadar kalau aku tuh harus mendapatkan yang buruk dulu agar aku bisa tahu mana yang baik.


"Aku juga!" jawabku. Aku jadi ikut-ikutan tersipu malu mendengar apa yang kukatakan.


"Mas, kita makan dulu ya! Nanti tamunya banyak, kita enggak sempat makan. Ayo, aku suapin!" Aku mengambil piring berisi nasi dan lauk yang sudah diambilkan untuk kami lalu mulai menyuapi Mas Bahri. Rasanya nikmat sekali menyuapi suami sendiri. Gantian, Mas Bahri juga menyuapiku. Mungkin ini yang dinamakan orang, indahnya di awal pernikahan. Ya ... memang seindah itu. Suap-suapan makanan saja rasanya romantis sekali.


Selesai makan, aku diminta keluar dan menyambut tamu undangan yang datang ke resepsiku. Rupanya banyak juga tamu yang Papa undang. Teman-teman kerjanya semua memuji kecantikanku, membuat Papa bangga mendengarnya. Papa dan Mama nampak serasi dengan seragam yang sama. Mereka tertawa bareng dan sesekali mengobrol akrab. Aku senang sekali melihat perubahan mereka. Terserah mereka jika memang nantinya mau rujuk lagi. Yang penting bagiku adalah melihat mereka bahagia.


Setelah Baby, Pak Rezvan datang bersama istrinya yang cantik bak malaikat. Pak Rezvan memeluk Mas Bahri dengan erat seraya memasukkan sesuatu ke saku jas Mas Bahri. Entah apa itu, yang pasti sesuatu yang jahil. Aku yakin itu.


Tak hanya Pak Rezvan saja, Rina dan Kak Azizah juga datang. Meski tanpa senyum, Kak Azizah tetap mendoakan kami. Rina merangkul Kakaknya dan memberinya dukungan agar kuat dan ikhlas. Benar-benar adik yang baik.


"Lunlun, selamat ya!" Rina memelukku dengan erat. "Semoga kamu dan Kak Bahri bahagia selamanya!"

__ADS_1


"Aamiin," jawabku dan Mas Bahri kompak.


"Cepat punya dede bayi ya. Jangan lupa kamu harus sering main ke kostan dan buatkan aku seblak, oke?" pesan Rina.


"Siap. Doakan saja ya semoga bayinya cepat otw!" jawabku.


Kini aku gantian menyalami Kak Azizah. Aku menarik Kak Azizah dan memeluknya erat. "Maafkan aku ya, Kak. Aku janji akan menjaga dan membahagiakan Mas Bahri selamanya."


Kak Azizah menepuk punggungku pelan. "Aku akan tagih janji kamu kalau Bahri sampai menderita!" Kak Azizah melepaskan pelukanku dan tersenyum. Gantian Kak Azizah mengucapkan selamat pada Mas Bahri.


Aku tersenyum melihat Kak Azizah berusaha ikhlas menerimanya. Ya, terkadang seseorang memang perlu diberi ketegasan agar sadar kalau dirinya salah.


Tamu selanjutnya yang datang adalah sahabatku, Ariel. Ariel terlihat mengenakan hijab. Cantik sekali. Aku masih sering mengobrol dengan Ariel di telepon. Ariel memutuskan hijrah dan menyesali perbuatannya di masa lalu.


Ariel sadar kalau apa yang dilakukannya dulu sudah mempermalukan dirinya sendiri dan kedua orang tuanya. Tatapan mata Bapaknya yang kecewa saat tahu kalau anaknya tega menjual diri hanya demi membantu perekonomian keluarga membuat Ariel menyesal bukan main. Bapaknya sempat tak mau makan dan hanya melamun karena merasa dirinya gagal menjadi orang tua. Ariel tak mau Bapaknya menyalahkan dirinya sendiri karena itu Ariel berhenti dengan pekerjaan haramnya.


Ariel berubah sedikit demi sedikit dan memperdalam ilmu agama. Ia taubat untuk menghapus dosa-dosanya yang banyak. Sungguh akhir cerita yang indah.

__ADS_1


Lalu bagaimana dengan Noah?


***


__ADS_2