Toxic Love

Toxic Love
Hadiah Pak Rezvan


__ADS_3

POV Luna


Menurut cerita Ariel, setelah malam itu bertengkar hebat dan mendapat bogem mentah dari Bapaknya Ariel, Noah merasa takut. Bukan hanya karena takut dihajar Bapaknya Ariel namun juga karena ancaman Bapaknya Ariel yang akan memenjarakannya atas tuduhan pemerkosaan.


Orang tua Noah sampai datang dan membereskan ulah anaknya tersebut. Biaya rumah sakit Ariel ditanggung orang tua Noah sebagai wujud tanggung jawab. Orang tua Noah berharap keluarga Ariel tidak membawa kasus ini ke jalur hukum.


Ariel yang sudah pasrah dengan jalan hidupnya memutuskan untuk mengikhlaskan Noah. Ariel tak mau lagi berurusan dengan Noah. Baginya Noah hanya masa lalu.


Rina bilang Noah sudah jarang terlihat di kampus. Hanya sesekali jika sedang konsultasi skripsi saja, sisanya Noah tak pernah datang lagi. Noah juga mundur dari senat mahasiswa.


Begitulah kalau pengecut, hanya bisa lari dari tanggung jawab. Beruntung aku tak sampai hamil dengannya.


Aku melirik lelaki tampan di sampingku. Mas Bahri memang tidak setampan Noah namun hatinya jauh lebih baik dari Noah. Sikapnya santun dan begitu menyayangiku. Meski harus lembur, Mas Bahri selalu membawakanku makan malam. Mas Bahri bilang sebagai balasan karena tak bisa mengantarku pulang.


Kini lelaki baik itu sudah jadi imamku. Akan aku jadi semaksimal mungkin. Tak akan kubiarkan ada yang merebutnya.

__ADS_1


"Kenapa sih liatin aku terus? Ada upil ya?" tanya Mas Bahri yang sadar kalau aku sedang menatapnya.


"Kenapa upil sih? Bukan, Mas. Ada sesuatu," jawabku.


"Apa?"


"Ada aku di hati kamu," kataku menggoda Mas Bahri.


"Itu sih pasti," jawab Mas Bahri.


"Sabar ya, ayo, senyum lagi!" kata Mas Bahri menyemangatiku.


Aku kembali memasang senyumku sampai para tamu akhirnya tak lagi datang. Lelah sekali. Aku sampai memukul-mukul lututku karena lelah. Coba kalau aku mengikuti saran Mas Bahri, tak perlu resepsi, pasti aku sedang santai menikmati malam pengantin kami.


Tak apalah, di resepsi ini aku bisa melihat Papa dan Mama yang begitu kompak menyiapkan semuanya demi acaraku. Di resepsi ini aku melihat Papa dan Mama yang berbahagia menyambut para tamu. Semua ini harus aku bayar dengan rasa pegal yang tak seberapa.

__ADS_1


Aku masuk ke kamarku lagi untuk berganti pakaian dan menghapus make up. Meski malu-malu, Mas Bahri mau membantuku melepas baju dan kain yang melilit. Mas Bahri juga membantu melepas hiasan di kepalaku.


Selesai membersihkan wajah dan tubuhku, kami pun sholat isya berjamaah. Setelah semuanya siap, kami pun pamit. Kami akan ke hotel untuk menikmati malam pertama kami. Rencananya selama 3 hari kami akan staycation. Pak Rezvan sendiri yang memberikan kami voucher menginap di hotel bintang 5 selama 3 hari. Kata Pak Rezvan percuma ke luar kota, toh kami akan ngamar lagi, ngamar lagi.


Mas Bahri mengendarai mobilnya sambil menggenggam tanganku. Sesekali ia mencium tanganku dengan penuh cinta. Betapa Mas Bahri begitu memujaku dan memberikanku banyak cinta. Rasa syukurku semakin bertambah saja.


Kami sampai di hotel sekitar jam 10 malam. Kami langsung check in dan menuju kamar pengantin kami yang besar dan sudah dihiasi bunga. Sungguh hadiah bulan madu yang bagus sekali. Mas bahri beruntung memiliki bos sebaik Pak Rezvan.


"Wow ... pemandangannya bagus sekali, Mas!" kataku seraya melihat pemandangan malam dari gedung tinggi ini. Pemandangan kota Jakarta yang dihiasi lampu di malam hari ditambah langit malam yang cerah berhiaskan banyak bintang. Indah sekali.


"Mas mandi dulu ya!"


Aku menganggukkan kepalaku. Saat Mas Bahri masuk ke dalam kamar cepat-cepat aku menyiapkan diriku. Aku memang sudah tidak suci lagi namun bukan berarti aku tak bisa membahagiakan suamiku tercinta di malam ini.


"Mas, bersiaplah karena malam ini tak akan pernah kamu lupakan!"

__ADS_1


****


__ADS_2