Toxic Love

Toxic Love
Tawaran Pekerjaan


__ADS_3

Luna


Hari ini Noah tak datang ke kostanku. Alasannya karena ada masalah di keluarganya.


Ya, keluarga Noah tak lebih baik dari keluargaku. Terlihat dari luar baik-baik saja padahal di dalamnya banyak masalah.


Noah memang tinggal di keluarga yang berkecukupan. Namun semua itu tak menjamin kebahagiaan. Saat sedang jalan di Mall bersamaku waktu itu, aku pernah melihat Noah bergumam dan menyebut 'Mama'. Aku pun mengikuti arah pandangannya.


Dari kejauhan nampak seorang perempuan berusia hampir kepala lima sedang bergandengan tangan dengan seorang laki-laki yang usianya jauh lebih muda. Tak beda jauh dari Noah. Dalam sekali lihat aku bisa tahu kalau hubungan di antara mereka bukan hubungan antara anak dan ibu, melainkan hubungan sepasang kekasih.


Aku menatap Noah. Wajah Noah memerah dengan tangan yang terkepal sampai buku jarinya memutih. Noah memendam kemarahannya. Entah agar aku tak tahu atau memang terbiasa menyembunyikan yang ia tahu? Entahlah.


Sejak saat itu aku yakin kalau keluarga Noah tak lebih baik dariku. Setidaknya Mama hidup benar, tak pacaran dengan berondong yang lebih cocok menjadi anaknya. Hanya Papa saja di keluargaku yang tak beres. Hobbynya centil terhadap janda muda. Suka kawin cerai secara siri. Entah sudah berapa janda yang beliau nikahi lalu dicerai begitu saja.


Satu yang kusyukuri adalah Papa memiliki masalah dengan kesuburan. Kelahiranku adalah keajaiban baginya. Aku anak satu-satunya Papa. Mungkin ini balasan dari Tuhan karena Papa suka berselingkuh dari Mama. Papa didiagnosis akan sulit memiliki anak lagi. Jadi, meski Papa memiliki banyak istri siri di luar sana, aku tak memiliki adik dari istrinya yang lain.


Aku baru saja menyalakan laptop dan hendak menyelesaikan skripsiku ketika Mama menelepon. Suara Mama terdengar serak, pasti habis bertengkar lagi dengan Papa. Aku kasihan sama Mama namun aku sudah lelah menasehati Mama untuk meninggalkan Papa dan selalu mendapat penolakan darinya.


"Iya, Ma," jawabku sambil tetap fokus menatap layar laptopku.


"Luna, bagaimana kabar kamu? Sedang apa kamu, Nak? Sudah makan belum?" tanya Mama.


"Sudah, Ma. Kabar aku baik-baik saja. Aku sedang mengerjakan skripsiku di kamar kos," jawabku.


"Syukurlah kamu baik-baik saja. Kamu mau makan apa? Nanti Mama pesankan untuk kamu," tanya Mama.


"Aku tak mau apa-apa, Ma. Aku bisa beli di warteg dekat kostan," jawabku dingin. Aku tahu pertanyaan basa-basi ini akan segera berganti ke pokok bahasan penting. Tak perlu berlama-lama, langsung ke intinya saja.


"Luna, Papa tadi pagi datang."

__ADS_1


"Lalu?"


"Papa kamu ... marah-marah sama Mama. Papa mengomeli Mama. Papa bilang, Mama tak becus mengurus kamu, sampai kamu pergi dari rumah." Terdengar Mama membersihkan hidungnya yang mampet karena kebanyakan menangis. Suara Mama juga makin serak saja. Kalau sudah begini, entah berapa banyak lagi piring dan perabotan di rumah yang pecah. Lama kelamaan semua aku ganti dengan plastik atau baja saja agar lebih awet dari sikap tempramen Papa. Huft ....


"Kamu ... pulang saja ya, Lun. Jangan buat Papa kamu semakin marah sama Mama," pinta Mama padaku.


Pulang? Jangan harap! Untuk apa aku pulang ke rumah dan mendengarkan mereka bertengkar terus lalu membereskan bekas pertengkaran mereka?


"Aku tak mau, Ma," tolakku tanpa pikir panjang.


"Lun, Papa kamu mengkhawatirkan kamu. Kamu itu anak Papa satu-satunya. Wajar kalau Papa cemas kamu tinggal seorang diri," pinta Mama lagi.


"Aku tak mau, Ma. Jangan paksa aku. Aku sudah hidup tenang di kostan. Aku bosan mendengar pertengkaran kalian terus setiap hari!"


"Tapi Lun-"


Belum selesai Mama bicara sudah aku potong. "Ma, kalau Mama mau hidup tenang seperti aku, ya Mama bercerai saja dari Papa. Mudah bukan? Ma, kita berdua sama-sama tahu bagaimana sifat Papa. Egois dan mau menang sendiri. Kita disuruh menuruti apa kemauannya sementara Papa suka bertindak seenaknya sendiri. Aku tak mau Ma, terus menuruti apa yang Papa perintahkan."


"Sudah deh, Ma. Jangan membela Papa terus. Mama tidak capek apa, hidup dengan Papa yang terus bersikap egois dan seenaknya sendiri?"


Mama terdiam mendengar perkataan pedasku. "Aku tutup teleponnya ya, Ma. Aku mau konsentrasi mengerjakan skripsi."


Tanpa menunggu jawaban Mama, aku mengakhiri panggilan Mama. Moodku kembali hancur. Kenapa selalu saja kedua orang tuaku mengatur hidupku. Memangnya aku tak bisa hidup dengan benar apa?


Pintu kamarku tiba-tiba diketuk. Aku pikir Noah yang datang namun ternyata Ariel. "Masuklah!" kataku dengan malas.


"Lun, aku buat puding. Kita makan sama-sama ya!" Ariel tersenyum lebar. Mana bisa aku menolak kebaikannya?


Kami memakan puding buatan Ariel. Enak. Jago juga dia masak. "Lun, Papa kamu memperbolehkan kamu tinggal di kostan? Bukankah Papa kamu agak keras ya orangnya?" tanya Ariel.

__ADS_1


"Tentu saja tidak, Riel. Mana mau Papa membiarkanku tinggal di kostan?"


"Lalu? Papa kamu marah?" tanya Ariel.


"Begitulah. Aku tak peduli, Riel. Uang dari Papa cukup untuk membayar kostanku selama 6 bulan. Sisanya aku bisa bertahan dengan uang jajan dari Mama. Aku mau mencari pekerjaan untuk menambah pemasukan. Kira-kira ada tidak ya yang mau mempekerjakanku? Aku hanya tamatan SMA, kuliah saja belum selesai." Aku menghabiskan puding buatan Ariel. Saat emosi, memang makan manis adalah yang terbaik.


"Hmm ... agak susah sih, Lun. Saingan kita banyak. Yang lulus kuliah saja sulit dapat pekerjaan, apalagi kita yang belum selesai kuliah?" Ariel terlihat berpikir sejenak. "Ada sih pekerjaan yang pernah ditawarkan sama aku, tapi aku tolak."


Mataku berbinar mendengar tawaran dari Ariel. "Pekerjaan apa? Kenapa kamu tolak? Siapa tahu cocok sama aku."


Ariel menggelengkan kepalanya. "Yakin kamu mau coba? Uangnya sih lumayan tapi ya begitu deh."


"Aku makin penasaran, Riel. Apa sih pekerjaannya?" Mataku berbinar mendengar kalau pekerjaan yang Ariel tawarkan akan menghasilkan uang yang lumayan besar.


"Ada dua sih yang ditawarkan sama aku. Pertama jadi LC."


Aku mengerutkan keningku. Aku yang agak tertutup dan kurang bergaul ini mana tahu ada pekerjaan sebagai LC. "LC itu apa sih? Kok aku baru dengar."


"LC itu lady companion. Pekerjaannya menemani dan menghibur tamu karaoke. Gajinya lumayan. Kamu juga bisa dapat tip juga. Mau tidak?" tawar Ariel.


"Ih enggak deh, Riel. Mana bisa aku bekerja di bidang seperti itu. Bisa digorok Papa kalau Papa tahu anaknya bekerja seperti itu. Enggak ... enggak!" tolakku.


"Ya terserah kamu sih, Lun. Aku tidak memaksa."


"Pekerjaan satu lagi apa?"


"Pekerjaan lain sih tak bedanya dengan jadi LC. Kali ini aku ditawari untuk menjadi sugar baby dari sugar daddy. Gajinya lebih besar dari LC, namun pekerjaannya lebih berani lagi. Kalau sugar daddy minta ditemani tidur, ya bayaran kamu lebih besar lagi. Lumayan sekali menemani tidur kamu bisa membayar kostan selama 6 bulan. Kamu mau, Lun?"


Aku menggelengkan kepalaku dengan yakin. Menemani om-om tua tidur? Ih, enggak deh. Memang aku perempuan apa?

__ADS_1


"Tunggu, Riel. Apa kamu pernah melakukan pekerjaan yang kamu sebutkan tadi?"


****


__ADS_2