Toxic Love

Toxic Love
Perubahan Baru


__ADS_3

Luna


Aku dikelilingi oleh penghuni kostan yang bergantian membaca Al-Quran dengan teman yang lain saling koreksi. Tidak semua hadir hari ini, ada yang sebagian masih pulang ke rumahnya dan ada juga yang sedang datang bulan.


"Ayo, sekarang Luna," kata Kak Azizah mempersilahkanku.


"I-iya, Kak." Aku membaca bagianku dengan terbata-bata, entah kapan terakhir aku mengaji. Beberapa kali aku dikoreksi oleh anggota yang lain karena bacaanku yang tak lancar. Banyak salah tajwid dan panjang pendeknya. Aku sampai malu karena sering salah.


Beruntung teman-teman di kostanku tidak ada yang menghakimiku. Cara mereka mengoreksi kesalahanku dengan baik-baik, tidak diomeli atau ditertawakan seperti yang kukira.


"Tak apa, besok latihan lagi. Sudah lumayan bagus kok." Kak Azizah membesarkan hatiku. Baik sekali, aku jadi tidak merasa malu.


"Aku banyak salah, Rin," kataku saat aku dan Rina berjalan menuju kamar kami.


"Tak apa, wajar kalau salah mah. Bagaimana? Seru bukan? Keren kamu sudah berani, Lun. Nanti kamu akan semakin lancar lagi mengajinya, kita latihan terus ya!" kata Rina menyemangatiku.


"Aku malu, Rin. Ngajiku terbata-bata," kataku terus terang.


Rina tersenyum mendengar keluhanku. "Itu namanya belajar, Lun. Perlahan namun pasti, kamu akan bisa. Sudah, jangan dipikirin. Kita beli makan saja yuk, Lun!" ajak Rina.


"Ayo, aku juga laper nih!" Aku mengambil dompetku dan pergi bersama Rina membeli makan. Menu makan malam kami malam ini adalah pecel ayam sesuai kesepakatan kami bersama.


"Pecel Ayam di Warung Janda Bohay aja ya, Rin. Sambalnya mantap. Aku mau makan yang pedes nih," usulku.


"Boleh. Aku juga mau yang pedas-pedas. Aku juga suka Pecel Ayam di Warung Janda Bohay, penjualnya ramah dan masakannya enak." Rina menggandeng tanganku layaknya kami adalah dua sahabat yang sudah kenal lama. Sikapnya yang hangat membuatku cepat akrab dengannya dan merasa nyaman.


Kami berjalan melewati deretan tukang foto copy dan warteg. Aku dan Rina mengobrol tentang dosen mata kuliah dengan beragam sikapnya. Ada yang super killer, centil dan hobby memberi tugas.


"Pernah loh Lun, dosen aku kasih tugas banyak banget. Aku sampai begadang mengerjakannya tapi ternyata dia lupa dong. Dicek saja tidak. Merasa sia-sia aku sudah begadang capek-capek eh malah dilupakan begitu saja."


"Pasti dosen Matematika deh," tebakku.


"Ih kok kamu tahu sih? Asli, nyebelin banget, Lun. Tugas sampai mumet bolak-balik materi terus harus hitung satu-satu, eh dilihat saja tidak. Pengen kujitak saja!" omel Rina.


Aku tertawa mendengar cerita Rina. Gaya bicaranya yang ekspresif membuat cerita biasa terdengar lebih menyenangkan. Baru aku sadari kalau selama ini aku terlalu menutup diri. Aku lebih asyik sendiri dan tak tahu pergaulan di luar. Rupanya ada teman-teman lain yang lebih asyik dari Ariel, sahabatku.


"Luna!"

__ADS_1


Aku menoleh saat mendengar namaku disebut. Panjang umur sekali, ternyata Ariel. Baru saja aku memikirkannya eh dia sudah muncul, mungkin ini yang namanya ikatan batin kami kuat sebagai sahabat.


"Hi, Riel!" jawabku sambil tersenyum.


Ariel menatap Rina dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan heran. Mungkin Ariel heran kenapa sekarang aku berteman dengan Rina yang memakai jilbab panjang.


"Kamu ... mau kemana?" tanya Ariel.


"Aku mau beli makan malam, Riel."


"Aku dengar kamu pindah kost ya, Lun, kemana?"


"Iya, Riel, aku pindah kostan. Papa aku marah, Riel, aku disuruh pindah ke kostan khusus putri."


"Kostan putri?" Ariel menatap Rina dengan tatapan tak suka. "Yang di sana?" Ariel menunjuk ke arah kostanku.


"Iya, di sana. Yang milik Kak Azizah, senior kita dulu." Aku teringat kalau aku tidak sendiri dan bersama Rina. "Oh iya, kenalin teman satu kostanku, Rina. Anak kampus ini juga," kataku memperkenalkan Rina pada Ariel.


"Ariel."


"Rina."


"Kamu mau kemana, Riel?" tanyaku penasaran.


"Oh ... itu ... aku janjian sama temanku."


"Janjian? Jam segini?"


"Iya. Dadakan. Akan urusan penting."


"Kamu dijemput?" tanyaku lagi.


"Enggak. Kita ketemuan di sana. Aku naik taksi online."


"Teman siapa sih, Riel? Sudah malam loh, kamu berani? Biasanya kamu takut kalau pergi malam? Kamu tuh suka tidur cepat, kalau ketiduran gimana?" Aku benar-benar mengkhawatirkan sahabatku namun ia terlihat biasa saja dan santai menanggapi pertanyaanku.


"Enggak lama kok, Lun. Kalau naik taksi online aman, tenang saja."

__ADS_1


"Pokoknya kamu hati-hati ya. Kalau ada apa-apa hubungi aku dan jangan pulang malam-malam, oke?"


"Iya, Lun. Tenang saja. Itu mobil aku sudah datang. Aku pergi dulu ya, Lun!" Ariel melambaikan tangannya dan pergi meninggalkanku.


Sudah kedua kalinya aku melihat Ariel pergi dengan mobil yang sama. Mana mungkin dia naik taksi online? Aneh sekali. Apa yang Ariel sembunyikan dariku? Bukankah kami sahabat? Kenapa harus ada yang disembunyikan?


"Lun! Luna!" Rina memanggilku, membuatku tersadar dari lamunanku.


"Eh, iya. Kenapa?"


"Kamu melamun saja. Mikirin apa sih?"


"Enggak. Enggak mikirin apa-apa kok," jawabku.


"Jadi enggak nih kita makan pecel ayam yang super pedes?"


"Jadi dong! Ayo!"


****


Tak terasa sudah hampir sebulan aku tinggal di kostan baruku. Ternyata saat dijalani semua ini tidak seberat yang aku pikirkan. Mengaji setiap maghrib membuatku merasa lebih tenang.


Hubunganku dengan Noah semakin lama semakin dingin saja. Noah masih sering mengajakku untuk melakukan hubungan suami istri namun aku tolak. Mama terus memantauku, mendatangi kostan seminggu sekali sambil membawa test pack. Kalau sampai aku hamil, bisa habis aku sama Mama, karena itu aku berani menolak Noah.


Noah tentu saja tidak semudah itu menerima penolakanku. Ia pernah menciumku dengan paksa namun sekuat tenaga aku berusaha menjauhkan diriku. Noah kesal dan akhirnya malas mengajakku berbuat zina seperti itu lagi.


Aku senang, semua berjalan baik. Noah yang pada akhirnya mau menerima keputusanku meski dengan wajah terpaksa. Perlahan aku yakin Noah akan mau berubah, aku tahu Noah amat mencintaiku. Aku yakin kami bisa menjadi seperti dulu lagi.


Sesuai janji, Mama mulai memasukkan gugatan cerai terhadap Papa. Ternyata prosesnya rumit, tak seperti yang kubayangkan. Papa menolak bercerai dengan Mama.


"Kenapa Papa tak mau bercerai sama Mama sih, Ma? Bukankah selama ini Papa sudah tak cinta lagi? Kenapa masih saja Papa mempertahankan hubungannya sama Mama?" Aku kesal sekali mendengar cerita Mama. Apa sih maunya Papa?


"Entahlah, Luna. Mau mau buat alasan Papa selingkuh, bukti Papa menikah siri Mama tak punya," kata Mama dengan pasrah.


"Ya kita cari, Ma. Istrinya Papa tersebar dimana-mana. Kalau begitu kita rubah saja alasannya. Mama gugat cerai dengan alasan Papa tak pernah memberi nafkah, bagaimana? Memang benar Papa tak pernah memberi nafkah sampai Mama harus bekerja siang malam. Aku rasa alasan itu lebih masuk akal," saranku.


Mama menatapku dengan sedih. "Mama tak bisa lakukan itu, Lun. Papa mengancam akan menuntut harta gono gini kalau Mama memaksa untuk bercerai."

__ADS_1


"Hah? Harta gono gini apa? Rumah ini?"


****


__ADS_2