
POV Luna
"Mengkhianati kamu, Lun? Maksud kamu apa?" tanya balik Noah.
Rasanya aku ingin seperti di sinetron-sinetron, mengangkat gelas berisi es kopi milikku lalu menuangkannya ke muka Noah. Kalau perlu, aku angkat gelasnya sekalian lalu aku pukul kepalanya sampai gelas ini pecah. Kok bisa ya jadi orang enggak tahu malu seperti itu, sudah selingkuh masih saja pura-pura tak tahu. Apa perlu aku kasih tahu kalau aku udah ngintip apa yang dia sudah lakukan sama Ariel?
"Kamu tahu apa maksud aku. Aku bicara dengan jelas menggunakan bahasa Indonesia yang bisa kamu mengerti." Jawabanku semakin membuat Noah kesal. Biarkan saja, Noah sudah membuatku kesal dengan sikapnya yang seolah tidak terjadi apa-apa.
"Aku enggak ngerti, Lin. Kamu bilang kalau aku menghianati kamu? Enggak pernah, Lun. Hanya kamu yang ada di hati aku. Kita bukan baru sehari dua hari berpacaran, sudah lebih dari setahun. Kamu lihat sendiri bagaimana aku selalu bisa menjaga diriku dari godaan mahasiswi yang ingin mengajakku berkencan. Kenapa sekarang kamu bilang kalau aku menghianati kamu? Kamu yang berubah! Kamu sudah menjadi seseorang yang tak lagi aku kenal. Sekarang kamu menyalahkanku. Bilang saja kalau kamu sudah bosan dan menemukan laki-laki lain atau mungkin kamu yang sebenarnya sudah selingkuh?" Noah malah membalikkan keadaan seolah aku adalah pihak yang salah.
Gila, benar-benar pintar sekali Noah berkata-kata seolah dirinya yang paling suci dan benar. Aku sampai geleng-geleng kepala mendengarnya.
"Kenapa? Kamu tak bisa menjawab perkataanku? Benar kamu yang sudah selingkuh?" Noah menatapku dengan tajam.
Aku tertawa mendengar pertanyaannya. Kalau saja Noah pintar, ia akan sadar kalau tertawaku adalah tertawa mengejek, ya, mengejek kebodohannya. "Aku selingkuh? Bagaimana bisa selingkuh? Aku cuma sibuk di kostan mengerjakan skripsiku. Sekarang aku gantian tanya sama kamu, kamu ke mana saja? Oh iya maaf, aku salah pertanyaannya. Kamu suka nginep di mana?"
"Nginep? Di rumahku lah."
Aku kembali menghirup udara banyak-banyak untuk memenuhi paru-paruku. Kesal sekali rasanya. Kenapa sekarang aku baru tahu ya sifat asli Noah seperti ini? Sengaja memutarbalikkan kenyataan hanya demi pembenaran dirinya sendiri.
"Bukan di kostan orang lain?" sindirku.
"Enggaklah. Ngapain?" tanya balik Noah.
"Aku pikir kamu akan berkata jujur loh!"
"Aku berkata jujur. Kamu saja yang tidak percaya sama aku!" Noah malah jadi lebih galak terhadapku.
Aku mengambil ponsel milikku lalu mengirimkan foto mobilnya yang terparkir di halaman kostan lamaku pada Noah. "Buka pesan yang aku kirimkan!"
__ADS_1
Noah menuruti apa yang kuperintahkan. "Ada apa memang dengan mobilku?"
"Kenapa mobil kamu ada di kostan lamaku pagi-pagi sekali?" Aku sengaja mengambil foto mobil Noah saat aku sedang membeli sarapan bersama Rina.
"Itu foto lama bukan?"
"Lihat saja tanggal pengambilan fotonya. Sedang apa kamu di kostan lamaku?"
Kening Noah berkerut, sebentar lagi pasti dia akan membuat alasan. "Kayaknya lagi mogok deh mobilku.
"Masa sih? Soalnya siang udah enggak ada pas aku lewat. Mau aku kirim fotonya lagi?"
"Tak perlu. Untuk apa sih kamu tanya-tanya enggak jelas begini?"
"Aku hanya mengetes kejujuran kamu saja."
"Lalu hasilnya apa?"
"Bohong apa sih? Aku jujur. Mobilku mogok, masa sih aku harus mendorong mobil sampai rumah?"
"Susah ya membuat kamu mengaku kalau kamu sudah selingkuh dengan Ariel. Apa sih susahnya mengaku?" kataku dengan emosi.
"Selingkuh dengan Ariel, sahabatmu? Enggak mungkin, Lun. Aku enggak mungkin mengkhianati kamu, apalagi selingkuh dengan sahabat kamu sendiri!" Noah masih saja mengelak.
"Aku melihat semuanya, Noah. Aku melihat kamu bersama Ariel."
"Kamu melihat apa? Aku makan bareng sama Ariel? Kebetulan saja aku sama Ariel lagi berada di tempat yang sama. Kamu pasti salah lihat. Mungkin sekarang mata kamu susah minus. Mau aku belikan kaca mata?"
Aku tertawa terbahak-bahak mendengar penawaran yang Noah berikan. "Kamu mau belikan aku kaca mata? Kamu pikir mata aku minus? Ha ... ha ... ha .... Kamu tidak belikan aku alat bantu pendengaran juga sekalian? Aku dengar loh saat Ariel dan kamu ber ah, ih, ah, ih."
__ADS_1
Noah kini terdiam. Sekarang waktunya aku menyerangnya. "Kenapa? Kaget ya, kok bisa ketahuan padahal seharusnya aku sedang mengaji di kostanku yang baru?"
Aku tersenyum mengejek. "Lain kali, kalau selingkuh jangan yang dekat dengan tempatku tinggal. Satu lagi, kalau selingkuh jangan di tempat yang temboknya tipis. Sekarang kamu masih mau belikan aku kaca mata, hah?"
"Itu, aku-" Noah mulai bingung mau memberi jawaban apa. Aku memotong ucapannya karena sudah muak lebih lama lagi berada di dekatnya.
"Tak apa, itu pilihan kamu. Kamu mau selingkuh dengan Ariel, itu pilihan kamu. Sama seperti kamu yang aku bebaskan memilih, aku juga punya pilihan. Pilihanku adalah mengakhiri hubungan kita," kataku dengan tegas.
"Aku enggak mau. Aku masih ingin jadi pacar kamu. Aku enggak mau kita putus," tolak Noah.
"Maaf, aku yang sudah tak mau lagi berpacaran dengan kamu. Jadi mulai sekarang, kita putus dan tak ada hubungan lagi, oke?" Aku berdiri dan hendak pergi, namun tangan Noah mencekal pergelangan tanganku.
"Oke, aku akui kalau aku khilaf. Kamu selalu menghindariku. Wajar dong kalau aku tergoda dengan yang ditawarkan oleh Ariel?"
"Wajar kata kamu?" Aku kembali tersenyum mengejek. "Apa kalau aku melakukan hal yang sama akan dianggap wajar oleh kamu?"
"Lun, aku tak mau kita putus. Aku sayang sama kamu, Lun. Hanya kamu yang aku cintai." Noah membujukku dengan kata-kata cinta, cih, tak sudi aku!
"Cinta kamu bilang? Apa saat kamu selingkuh, kamu ingat kalau kamu cinta sama aku, tidak bukan? Jangan mengatasnamakan cinta deh. Aku sendiri mulai ragu apakah kamu benar mencintaiku atau tidak?" kataku dengan sinis.
Noah lalu memelukku, ia terus membujukku untuk membatalkan niatku yang ingin putus. "Aku sayang sama kamu, Lun. Aku janji, aku tak akan melakuan hal seperti itu lagi. Aku janji, Lun!"
Pengunjung cafe mulai melihat ke arah kami. Ah, aku benar-benar malu dibuatnya. Sekuat tenaga aku melepaskan pelukan Noah. "Lepasin aku atau aku akan teriak?" ancamku.
Noah terpaksa melepaskan pelukanku. Ancamanku bukan main-main. Aku akan berteriak jika dia tak menuruti kemauanku. Itulah alasan aku memilih cafe ini.
"Mulai sekarang, tak ada hubungan apapun di antara kita!" Aku mengambil tas dan skripsiku lalu pergi meninggalkan Noah.
Aku pikir aku akan menangis. Aku pikir air mataku tak akan berhenti menetes saat aku mengatakan kalau aku ingin putus. Ternyata tidak. Air mataku bahkan tak keluar sedikitpun. Mungkin benar, sakit hati mengalahkan cinta yang selama ini aku agungkan.
__ADS_1
"Luna!"
****