Toxic Love

Toxic Love
Liburan Seru


__ADS_3

Pov Author


Noah memastikan Luna sudah tertidur pulas sebelum menghubungi salah seorang temannya. Noah sudah membaca semua percakapan di group. Memang benar yang Luna katakan, gosip tentang sepasang mahasiswa yang berbuat mesum di Gedung C sudah merebak.


"Bro, udah dengar gosip yang lagi ramai tidak di group kampus?" tanya Noah pada Virgo, rekan satu angkatannya yang juga anggota senat.


"Iya. Udah dengar. Bikin malu aja tuh. Mupeng kok enggak lihat tempat. Kayak enggak mampu bayar hotel atau kostan murah saja," cibir Virgo. Ia tak tahu kalau pelaku sebenarnya sedang berbicara langsung dengannya.


"Ya ... namanya sudah di ubun-ubun, mana bisa tahan sih? Udah tahu siapa orangnya?" Noah memelankan suaranya agar Luna yang sedang tertidur pulas tidak terbangun.


"Belum. Sayang CCTV lantai 3 Gedung C rusak. Kalau tidak, kita bisa minta dibukakan CCTV-nya. Hmm ... apa perlu kita lihat dari CCTV terdekat ya?" tanya Virgo.


Noah susah payah menelan salivanya. "Mati aku kalau sampai CCTV terdekat dibuka. Bisa dilacak siapa saja yang ada di Gedung C, kemungkinan aku dan Luna ketahuan akan lebih besar lagi," batin Noah.


"Enggak usahlah. Toh tidak merugikan kita juga," jawab Noah.


"Enggak ngerugiin gimana, Bro? Kalau ada yang berbuat mesum seperti itu, 40 rumah bisa dapat sialnya," kata Virgo.


"Tenang saja, rumah kita tidak dekat kampus. Aman. Kirain udah tau siapa pelakunya, ternyata belum. Sudah ya, kabarin aja kalau ketemu. Happy weekend!" Noah mengakhiri panggilannya. Ia bisa bernafas lega. Tak ada yang tahu kalau pelaku mesum di Gedung C adalah dirinya dan Luna. Aman.


Noah melihat Luna yang tertidur pulas. Wajahnya terlihat cantik meski tanpa make up. Alisnya yang tebal tak perlu harus disulam, sudah cantik alami. Bibirnya juga penuh, seksi dan selalu membuat ketagihan untuk dicicipi.


Memiliki Luna adalah kebahagiaan untuk Noah. Mendapatkan mahkota Luna adalah kebanggaan baginya. Kini, gadis cantik itu bisa ia sentuh kapan saja. Tak perlu menikah dahulu, hubungan yang amat Noah benci karena dilandasi dengan kepura-puraan.


Noah mengecek pesan di ponselnya. Dari Papanya yang baru saja mengirimkan uang lima juta rupiah sebagai balasan karena sudah menjaga Mama sampai sembuh. "Lumayan buat jajanin Luna," gumam Noah.


Noah mematikan lampu kamar dan membaringkan tubuhnya di samping Luna. Tak lama ia pun tertidur pulas dengan tangan memeluk Luna.


****


"Sarapannya enak!" puji Luna. Ia sudah menyantap beberapa makanan yang dihidangkan di restoran hotel.

__ADS_1


"Makanlah yang banyak," kata Noah sambil tersenyum dengan hangat.


"Aku mau jus juga ah. Kamu mau tidak? Biar aku ambilkan," tawar Luna.


"Tak usah. Aku mau menghabiskan kopiku saja," tolak Noah.


"Oke. Aku ambil jus dulu ya!" Luna berjalan menuju meja berisi buah, cemilan pencuci mulut dan jus. Saat Luna hendak mengambil gelas, pada saat yang sama seorang laki-laki melakukan hal yang sama. Tangan mereka bersentuhan dan keduanya terkejut.


"Silahkan," jawab Luna.


"Tak usah, kamu saja," tolak laki-laki tersebut.


Luna mengangkat wajahnya dan kini mereka berdua bertatapan. Luna langsung mengenali laki-laki yang bertemu dengannya semalam. "Loh, Mas yang semalam makan seblak satu meja denganku bukan?"


Laki-laki tersebut memaksakan senyum di wajahnya. "Iya."


"Mas nginep di hotel ini juga? Semalam aku belum ngucapin terima kasih sama Mas karena sudah bayarin aku makan," kata Luna.


"Oh tak apa. Aku bayarin karena tak ada uang kembalian," jawab laki-laki tersebut dengan dingin. "Gelasnya aku ambil ya!"


Luna melihat laki-laki menyebalkan itu duduk di sudut ruangan. Wajahnya fokus menatap laptop miliknya yang bergambar apel dimakan codot. "Nyebelin banget," gumam Luna pelan.


"Siapa yang nyebelin? Aku?" Noah menunjuk dirinya.


"Bukan. Ada deh orang, nyebelin banget." Luna duduk dan meminum jus miliknya.


"Kita mau jalan jam berapa?" tanya Noah. Ia melihat jam di pergelangan tangannya. "Jangan terlalu siang, panas. Takut macet juga."


"Aku habiskan jus dulu ya." Luna kembali melirik laki-laki menyebalkan di sudut ruangan yang masih fokus dengan laptop miliknya. Rasa terima kasih karena sudah ditraktir kini berubah menjadi rasa sebal. "Ayo, kita pergi sekarang!" Luna meninggalkan gelas jus miliknya yang sudah ia minum sampai habis.


Laki-laki itu melirik Luna yang pergi dengan wajah kesal. Sebuah senyum kecil terukir di wajahnya. "Baru begitu aja udah kesel," gumam laki-laki itu pelan.

__ADS_1


Noah mengajak Luna ke tempat permainan outbond. Tentu saja Luna menyukai tempat pilihan Noah. Ia merasa tertantang mencoba berbagai kegiatan yang selama ini tak pernah ia lakukan.


Pilihan pertama mereka adalah flying fox. Untunglah Luna mengenakan baju yang cocok untuk acara hari ini. Kaos dan celana jeans. Luna memakai helm keselamatan lalu menaiki anak tangga sampai ke atas. Tak lupa ia mengabadikan foto dirinya sebagai bukti pada Mama dan Papanya kalau liburannya seru. Akan ia upload di status sosial medianya nanti. Tentu saja tak ada wajah Noah di setiap fotonya.


Luna berteriak sambil tertawa bahagia saat dirinya serasa terbang dari tempat tinggi ke rendah. Begitu bebas dan meluapkan rasa sesak di dada Luna saat berteriak.


"Bagaimana, seru?" tanya Noah.


"Seru banget. Aku suka kita ke sini!" jawab Luna dengan penuh semangat.


"Iya dong, aku mau mengajak kamu ke tempat berbeda. Agar kamu punya pengalaman lain, enggak cuma ke Mall saja."


"Setuju. Makasih ya udah ajak aku ke tempat keren kayak gini. Sekarang aku mau coba arung jeram!" Luna menunjuk tanda panah dimana lokasi arung jeram berada.


"Oke, siapa takut?" Noah dan Luna pun mencoba olahraga air yang cukup menegangkan tersebut. Arus sungai yang lumayan deras membuat olahraga tersebut memacu adrenalin mereka.


"Wuuhuuu!" teriak Noah saat arus sungai membuat tubuh mereka agak terangkat dari perahu karet yang digunakan.


Luna dan Noah tertawa bahagia. Benar-benar liburan yang tak pernah Luna lupakan karena terlalu seru.


"Basah semua bajuku. Aku mau ambil baju ganti dulu ya di mobil. Kunci mobil kamu mana?" pinta Luna.


Noah menatap Luna dari ujung kepala sampai ujung kaki. Di mata Noah, baju basah Luna yang menempel lekat di tubuhnya yang seksi benar-benar sebuah godaan yang sulit ia tolak.


"Aku antar saja," kata Noah.


"Oke." Luna tak ada firasat apa-apa saat Noah menawarkan diri. Ternyata Noah memiliki niat lain. Saat Luna masuk ke dalam mobil, Noah pun ikut serta.


"Lun, aku pengen."


"Pengen apa?" tanya Luna dengan polosnya.

__ADS_1


"Pengen kamu."


****


__ADS_2