Toxic Love

Toxic Love
Sebuah Pengkhianatan


__ADS_3

POV Author


Noah pulang setelah perutnya terisi kenyang. Noah meninggalkan kostan Ariel dengan mobil kesayangannya dan menatap kostan Luna dengan hati yang kosong.


Noah amat merindukan Luna namun kekasihnya tersebut malah menutup diri dan terus menjauhinya. Luna bilang, kalau Noah tak mau menikahinya segera, maka Luna tak bisa sering bertemu dengan Noah. Kebutuhan batin Noah kini memang sudah dipenuhi oleh Ariel, wanita itu siap kapan saja Noah butuhkan selama tidak malam hari, namun tetap saja semua itu berbeda jika Luna yang memenuhinya. Noah tetap menginginkan Luna dan akan berusaha membuat Luna kembali lagi seperti dulu.


Noah tak putus semangat, ia terus menghubungi Luna dan mengajaknya bertemu. Sayangnya, Luna masih sering menolak Noah. Luna sibuk dengan Rina, teman barunya yang mengajaknya melakukan berbagai kegiatan yang selama ini tak pernah Luna lakukan, salah satunya berbelanja di pasar. Luna biasa hanya belanja di tukang sayur dekat rumah. Kini Luna mendapat pengalaman baru berbelanja ke pasar tradisional bersama Rina. Pengalaman pertamanya berbelanja bersama teman.


Rina mengajari Luna cara tawar menawar dan memilih bahan makanan yang bagus di pasar. Lumayan, dengan berbelanja di pasar Luna bisa menghemat uang saku miliknya. Mereka memasak bersama sepulang dari belanja dan tentunya makan bareng di kamar Luna. Mereka lalu menikmati rujak buah buatan mereka sambil menonton TV.


"Lun, aku mau cerita tapi takut gibah." Rina membuka topik pembicaraan sambil memakan rujak yang sangat pedas tersebut.


"Ya sudah tak usah cerita," kata Luna dengan santainya.


"Maunya sih begitu tapi ini tentang sahabat kamu."


Luna berhenti memakan rujak dan menatap Rina sambil mengernyitkan keningnya. "Sahabatku? Ariel maksudnya?"


Ragu-ragu Rina mengangguk. "Iya."


"Kenapa dengan Ariel?" Luna duduk tegak dan siap mendengarkan cerita dari Rina.


"Aku enggak enak ngomongnya. Ariel itu di Jakarta tinggal sama siapa sih, Lun?"


"Sendiri. Keluarganya di kampung, memangnya kenapa?" Luna semakin penasaran saja.


"Lun, aku takut ini jadi fitnah tapi demi Allah, aku lihat sendiri teman kamu itu jalan sama om-om."

__ADS_1


"Om-om? Serius? Kamu enggak salah lihat?" Luna tak percaya begitu saja dengan cerita Rina namun Luna yakin, Rina bukan tipikal orang yang suka menebar fitnah sembarangan.


"Beneran, Lun. Aku semalam ke toko buku sama Kak Azizah, saat aku menunggu Kak Azizah ke toilet, aku lihat teman kamu menggandeng om-om sambil tertawa. Pakaiannya pun terlihat seksi dan tanpa lengan."


Luna melihat kejujuran di mata Rina namun dirinya masih tak percaya. Tak mungkin Ariel berbuat seperti itu. Kalau Luna hubungkan dengan uang yang dimiliki Ariel sekarang rasanya masuk akal. Ariel punya uang untuk membayar kostannya, bahkan membeli baju baru. Uang dari mana semua itu? Apa mungkin Ariel mendapatkan uang dari cara yang tidak halal?


"Jujur aku masih tak percaya, Rin. Bukan maksud aku tak percaya dengan cerita kamu, aku tahu kamu bercerita dengan jujur. Aku hanya belum bisa terima saja Ariel berbuat seperti itu. Nanti sore aku akan main deh ke kostan Ariel dan bertanya langsung padanya."


"Maaf ya, Lun. Aku sebenarnya tidak mau cerita tapi sebagai sahabatnya aku rasa kamu berhak tahu dan menasehati jika teman kamu berada di jalan yang salah," kata Rina yang merasa tak enak hati.


"Tak apa, Rin. Aku mengerti kok. Oh iya, skripsiku sudah selesai nih. Hanya tinggal acc dosen pembimbingku dan aku siap untuk sidang."


"Serius? Keren. Kamu benar-benar fokus menyelesaikan skripsi kamu. Hebat. Aku juga sedikit lagi selesai. Kita sidang dan wisuda bareng ya, Lun!" kata Rina dengan mata berbinar-binar.


"Iya dong. Biar kita bisa foto bareng sambil memakai toga. Nanti kita beli kebaya bareng ya!" Luna dan Rina pun kembali mengobrol dan makan rujak bersama. Luna beruntung bisa mengenal Rina, begitu pun sebaliknya.


Luna sudah selesai menunaikan sholat ashar dan kini ia berniat ke kostan Ariel. Luna rencananya ingin membeli jus alpukat dan membelikan jus sirsak untuk Rina.


Luna kembali melangkahkan kakinya memasuki kostan lamanya. Rasanya sudah lama sekali ia tidak tinggal di tempat ini. Rupanya di balik pindahnya Luna dari kostan ini membawa dirinya ke pergaulan yang lebih baik. Luna memiliki Rina, teman baiknya sekarang. Luna juga menjadi semakin lancar mengaji karena rajin mengaji setiap maghrib.


Luna menghela nafas dalam. Kamar miliknya sudah ada penghuninya. Terlihat ada jemuran pakaian di teras kamarnya. Luna jadi teringat tetangga sebelah rumahnya yang menumpang ke toilet saat dirinya tengah bertengkar dengan Papa. Sampai sekarang, tetangga misterius itu masih menyisakan tanda tanya besar. Apa tujuannya? Toilet Luna tidak mati airnya. Apa dia memang sengaja mau menolong Luna?


Luna menggelengkan kepalanya. "Fokus, Luna! Tujuan datang ke kostan ini yakni mau ke kamar Ariel! Jangan mengurusi hal yang lain!"


Luna membuka pintu gerbang dan melihat ada mobil Noah terparkir di parkiran kostan. Rasa penasaran Luna pun timbul. Kenapa Noah tidak memarkirkan mobilnya di kampus saja? Apakah Noah ada keperluan di kostan ini? Dengan siapa?


Luna kembali melanjutkan langkahnya. Luna melangkah menaiki anak tangga menuju kamar Ariel. Luna tak punya firasat apa-apa hari ini. Semalam tidurnya nyenyak karena kenyang makan terus bersama Rina.

__ADS_1


Luna berhenti di depan kamar Ariel. Luna melihat sepatu milik Noah ada di depan kamar Ariel. "Kenapa ada sepatu Noah?" batin Luna.


Luna masih berpikir positif, mungkin Noah ingin menumpang ke toilet macam tetangganya dulu. Luna pun memutuskan untuk mengintip dari celah gorden. Mata Luna terbelalak melihat apa yang terjadi.


Di dalam kamar berukuran 3x4 meter itu Luna melihat Noah tanpa busana, Ariel pun demikian. Mereka berdua melakukan apa yang dulu biasa Luna dan Noah lakukan. Ariel berada di bawah tubuh Noah yang terus bergerak menuntaskan gairahnya.


Luna menutup mulutnya agar suara isak tangisnya tak terdengar Ariel dan Noah yang sedang bersetubuh di sore hari ini. Suara desaaahan Ariel bahkan terdengar samar di pintu tempat Luna berdiri.


"Ya Allah ... kenapa Ariel tega sekali mengkhianatiku? Kenapa Noah sejahat itu padaku?" batin Luna menangis dan ingin menjerit namun Luna tahan.


Luna terduduk lemas di lantai, tanpa sengaja tangannya mengenai pintu kamar dan menimbulkan suara yang terdengar dari dalam kamar.


Bruk


"Siapa?"


Luna menguatkan dirinya. Ia bangun dan kabur sambil menunduk agar dirinya tak terlihat oleh kedua orang yang tega mengkhianatinya tersebut. Dengan pandangan mata yang kabur karena air mata menggenangi matanya, Luna pergi menjauh.


Ariel cepat-cepat memakai bathrobe miliknya dengan asal lalu berjalan menuju pintu kamarnya. Ariel kesal kegiatan menyenangkannya ada yang mengganggu. Ariel membuka pintu kamar dan ingin melihat siapa yang mengintipnya.


Luna panik, suara pintu dibuka membuat jantungnya bertalu makin kencang. Ia takut ketahuan sementara tangga menuju lantai bawah masih jauh.


Luna melangkah cepat sambil menunduk dan menutupi wajahnya. Ia berada dekat dengan kamarnya dulu, lalu sebuah tangan menariknya masuk ke dalam kostan. Tepat ketika Ariel membuka pintu kamar dan melihat siapa yang telah mengintipnya.


Pintu di belakang Luna tertutup. Ia hendak berterima kasih pada penolongnya namun ia terkejut mendapati siapa yang menarik tangannya tersebut.


"Loh? Kamu?"

__ADS_1


****


__ADS_2