Toxic Love

Toxic Love
Rumah yang Nyaman


__ADS_3

POV Luna


Kurasakan tatapan mata Kak Azizah dan Mas Bahri tertuju padaku. "Mantan pacarku, Kak."


"Masih menghubungi kamu, Lun? Masih cinta berarti ya?" tanya Kak Azizah.


"Mungkin, Kak."


"Kamu tak mau kembali lagi sama dia? Siapa tahu dia sudah berubah dan menjadi lebih baik lagi?" tanya Kak Azizah. "Tapi ingat, lebih baik langsung menikah, jangan pacaran, hanya menambah dosa saja!"


"Udah ah, jangan kepo tentang urusan Luna. Kalau Luna mau berpisah atau balikkan dengan pacarnya, itu urusan Luna. Kalau pun mau balikan juga harus pikir baik buruknya. Jangan semudah itu mengambil keputusan." Mas Bahri kembali membantuku.


Apa Mas Bahri memang sebaik itu ya padaku? Hanya padaku atau ia baik pada semua orang? Jujur saja, ucapannya membuatku mengartikan lain seolah ia memang menyukaiku dan tak mau aku kembali pada Noah lagi.


"Maaf ya, Lun kalau Kakak mencampuri urusanmu. Jujur saja, Kakak sudah sering melihat pacar kamu di depan kostan kita. Dia menunggu kamu yang kadang tak mau menemuinya. Kakak merasa dia benar-benar mencintai kamu loh. Kamu beruntung sekali. Kata Rina, dia terkenal di kampus ya? Banyak yang mengidolakannya tapi dia cinta mati sama kamu. Keren. Cobalah memaafkan kesalahannya, Lun. Siapa tahu dia benar-benar akan menjadi suami yang amat mencintai kamu nantinya?" ujar Kak Azizah.


"Terkenal di kampus tidak menjamin akhlaknya bagus, Zah. Mungkin itu alasan Luna tak mau kembali padanya. Bukan begitu, Lun?" Mas Bahri menatap ke arahku dari kaca spion.

__ADS_1


Aku seperti berada di tengah-tengah dua sisi. Kak Azizah menyuruhku balikan sedangkan Mas Bahri menyuruhku untuk putus. Sisi manakah yang akan aku pilih?


"Aku ... belum memikirkan lagi untuk balikan sama dia. Aku mau fokus bekerja dulu." Aku melirik Mas Bahri, sumpah demi apapun aku melihatnya tersenyum sekilas lalu ia kembali memasang wajah biasa saja. Apa maksud senyumnya coba?


Tak lama kemudian kami sudah sampai di rumah Rina. Baru saja adzan isya berkumandang. Lumayan jauh juga perjalanan yang kami tempuh.


"Capek?" tanya Mas Bahri penuh perhatian padaku.


"Sedikit. Mas pasti lebih capek karena harus menyetir mobil," jawabku.


"Mas sudah biasa bawa mobil jarak jauh. Segini sih belum seberapa. Ayo kita masuk! Ibu dan Bapak baik dan ramah orangnya!" ajak Mas Bahri.


"Assalamualaikum!" kata Mas Bahri.


"Waalaikumsalam. Ada si ganteng datang! Apa kabar, Nak?" Mas Bahri salim pada wanita yang kuduga adalah Ibunya Rina. Wajahnya mirip sekali dengan Rina. Aku mengikuti apa yang Mas Bahri lakukan.


"Ini Luna ya temannya Rina? Ayu sekali kamu, Nak. Rina suka cerita loh sama Ibu kalau dia punya teman baru." Ibu Rina sangat ramah. Persis sekali dengan Rina.

__ADS_1


"Aku juga senang sekali berteman dengan Rina, Bu. Rina teman yang baik," kataku dari hati yang paling dalam.


Aku lalu menyalami Bapaknya Rina yang juga terlihat sangat ramah. Kami semua masuk ke dalam dan mengobrol dengan kedua orang tua Rina. Teh poci panas ditambah singkong rebus menjadi menu pembuka kami. Enak sekali rasanya menikmati makanan sederhana namun suasananya begitu kekeluargaan seperti ini. Ah beruntungnya Rina. Bapak dan Ibunya juga terlihat saling menyayangi tidak seperti Papa dan Mama, saling membenci bahkan Papa hampir membunuh Mama.


Aku terkejut saat Mas Bahri menyenggol lenganku. "Kamu ditanya tuh sama Ibu," kata Mas Bahri membuat lamunanku buyar.


"Ah iya, kenapa ya Bu?" tanyaku yang tak tahu apa yang Ibunya Rina bicarakan. Aku skip karena terlalu asyik melamun.


"Neng Luna semoga betah ya menginap di rumah Ibu dan Bapak," kata Ibunya Rina.


"Betah, Bu, insya Allah. Aku suka di sini adem. Udaranya juga segar. Aku udah enggak sabar nunggu besok pagi, mau jalan-jalan melihat pemandangan," kataku dengan semangat.


"Boleh, sekarang kita makan dulu yuk! Kasihan kalian sudah jauh-jauh dari Jakarta pasti lapar." Ibunya Rina pun menggandeng tanganku. Kami semua makan malam bersama sambil mengobrol akrab.


Waktu tak terasa jika berada di rumah Rina. Mungkin karena suasana kekeluargaan yang tercipta membuatku betah. Malam harinya pun aku tidur dengan pulas dan aku bangun saat adzan subuh berkumandang. Tubuhku yang kemarin lelah sekarang terasa segar lagi. Memang tinggal di kampung itu paling enak.


Kami pun melaksanakan sholat subuh berjamaah. Mas Bahri yang jadi imam. Ternyata bacaan sholat Mas Bahri sangat bagus. Suaranya pun merdu. Rasanya Mas Bahri itu paket lengkap, lelaki baik dan soleh. Pantas Kak Azizah sangat menyukainya

__ADS_1


****


__ADS_2