
POV Author
Wajah Bahri memerah saat mendengar jawaban Luna. Malu rasanya. Sudah penuh percaya diri eh malah ditolak mentah-mentah. Rasanya tak terima namun tak bisa memaksa juga.
Baru kali ini Bahri merasa moodnya berubah drastis. Ada rasa tak terima saat ditolak. Ia sudah yakin kalau Luna akan menerimanya dibanding yang lain eh ternyata diromya ditolak juga. Malu sekali rasanya.
Sejak itu Bahri diam, ia sibuk dengan pekerjaannya. Bisa dibilang senggol bacok. Anak buahnya yang mau minta tanda tangan pun ragu karena tak biasanya Bahri begini.
Luna jadi tak enak hati. Ia menolak bukan tanpa alasan. Dihadapkan dengan 4 laki-laki dan disuruh memilih, siapa yang tidak bingung?
Aura murung dan gelap Bahri berlangsung seharian. Sampai pulang kerja, Bahri masih menyeramkan untuk disapa. Tak ada yang berani pamit pulang karena takut Bahri marah, padahal Bahri hanya terlalu malu karena ditolak.
"Loh? Enggak ada yang pulang?" tanya Bahri yang menyadari kalau sudah jam setengah 6 sore dan anggota timnya masih lengkap.
"Oh, sudah boleh pulang ya?" tanya Bu Sari.
"Iyalah. Sudah lewat jam kerja. Pulang saja, tak apa." Bahri merapikan meja kerjanya lalu mengirim pesan ke Luna. "Tunggu di basement saja. Jangan pulang naik angkot!"
__ADS_1
Luna semakin bingung bagaimana harus bersikap. Perintah Bahri begitu tegas tak terbantah. "Baik, Pak."
Luna lalu pamit pulang namun berpisah dengan teman-temannya. Luna diam-diam turun ke basement dan menunggu Bahri pulang. Tak lama pintu lift terbuka dan Bahri keluar dengan wajahnya yang tak bersahabat. "Ayo!"
Bahri berjalan duluan ke mobil miliknya. Ia tak lagi menggandeng Luna. Di mobil pun demikian. Bahri hanya diam sampai Luna turun.
Sikap Bahri yang berubah jadi bad mood bukan hanya berlangsung sehari saja. Sampai jumat sore Bahri tetap badmood. Aura senggol bacook masih terlihat. Tak ada yang berani mengganggunya.
Luna mau naik angkot saja takut minta ijinnya. Mau nebeng terus kok rasanya tak enak. Hari ini Luna mendapat gaji pertamanya. Niatnya mau mengajak Rina ketemuan pulang kerja batal. Ia takut minta ijin Bahri.
Sore ini mereka tetap pulang bareng. Meski satu mobil, Bahri memilih diam. Suasana di dalam mobil menjadi tak enak. Luna pun berniat meminta maaf karena masalah ini sudah berlangsung 3 hari dan akan terus seperti ini kalau Luna diam saja.
"Mulai deh kamu minta maaf terus. Memangnya kamu salah? Kamu tidak salah kok, kenapa harus minta maaf?" Nada suara Bahri terdengar kesal.
"Karena aku, Mas marah. Aku tak mau membuat Mas marah," kata Luna dengan suara pelan.
Bahri terlihat menarik nafas dalam dan menghembuskannya. Wajahnya terlihat kesal. Dengan kesal Bahri menyalip kendaraan di depannya namun malah berakhir diklakson oleh banyak pengendara motor di belakang.
__ADS_1
Tiin! Tiin!
Umpatan demi umpatan terdengar karena Bahri malah menutupi jalan pengendara motor yang hendak menyalip. Umpatan itu baru hilang saat Bahri memilih jalan lain. Jalan yang malah membuatnya tambah jauh dari tujuan awal mereka.
Bahri lalu menepikan mobilnya di pinggir taman. Tak ada tanda dilarang parkir jadi Bahri bisa bicara dengan tenang tanpa terganggu kendaraan lain.
"Tadi sampai dimana? Kamu tak mau membuat aku marah?" Bahri mengulangi pertanyaan Luna setelah mematikan mesin mobilnya.
"I-iya, Mas." Luna semakin takut menjawab apalagi melihat Bahri kesal karena diklakson pengemudi lainnya.
"Kamu tahu Luna, kamu sudah membuat aku kesal dan semakin kesal saja."
Luna menundukkan kepalanya. "Maaf, Mas."
"Kenapa sih kamu menolakku di depan mereka bertiga?"
****
__ADS_1
Note: Mampir juga yuk di karya aku judulnya: Godaan Tetangga Seksi. Ikutin kisahnya juga ya 🥰