
POV Luna
Mas Bahri menarik kerah Noah. Tatapannya terlihat emosi dan marah. Baru kali ini aku melihat Mas Bahri semarah ini.
"Heh, Luna itu milikku! Selamanya akan jadi milikku! Aku akan menikahinya!" kata Noah kembali memancing emosi Mas Bahri.
"Oh ya? Jangan mimpi! Luna itu calon istriku! Jangan pernah dekati Luna lagi!" balas Mas Bahri.
"Tapi aku yang sudah mengambil kesuciannya," kata Noah dengan nada penuh kemenangan.
"So? Bangga? Aku yang akan menjadi suaminya. Masa lalu tuh kayak sampah, buang saja di tempatnya! Tuh, ada tong sampah, cocok dengan mulutmu," balas Mas Bahri lebih pedas lagi.
Security lalu datang bersama temannya untuk mendamaikan Noah dan Mas Bahri. "Kalau kalian tak mau berdamai, kalian tak boleh masuk ke lingkungan rumah sakit ini!" ancam security.
Mas Bahri melepas kerah baju Noah dan mengelapnya dengan jijik seperti habis memegang kotoran saja. "Tenang saja, Pak. Saya baik-baik saja. Kalau dia bermasalah, bawa saja!"
__ADS_1
Noah menatap Mas Bahri dengan tatapan memusuhi. Mas Bahri kembali menarik tanganku dan membawaku menjauh dari Noah.
Noah tak bisa apa-apa, security terus mengawasi gerakannya. Noah terus menatap Mas Bahri dengan tatapan permusuhan.
Tak lama Bapaknya Ariel datang. "Ariel dimana, Luna?" tanya Bapaknya Ariel.
"Di dalam, Pak. Dokter sedang melakukan tindakan. Ariel mengalami pendarahan karena sudah melakukan aborsi di tempat ilegal," kataku.
Bapaknya Ariel menatap Mas Bahri dengan tatapan ingin melahapnya. Aku yang maju untuk membela Mas Bahri. "Dia yang sudah menyuruh anak saya untuk aborsi?" tanya Bapaknya Ariel.
"Bukan, Pak. Mas Bahri ini calon suami Luna," kataku membela Mas Bahri. Aku bahkan memasang badan agar Mas Bahri tidak terkena bogem mentah dari Bapaknya Ariel.
Mataku tertuju pada Noah yang duduk sambil terus menatap ke arahku. "Mungkin saja dia atau laki-laki lain," jawabku jujur.
"Hah? Laki-laki lain? Apa maksud kamu?" Bapaknya Ariel semakin emosi mendengarnya. Beliau menatap Noah dengan tatapan seperti hendak mencekiknya. "Bukan hanya dia?"
__ADS_1
Aku mengangguk. Terpaksa aku harus jujur. Ariel harus dihentikan, kalau dibiarkan setelah sembuh nanti bisa saja Ariel melakukan pekerjaan haramnya lagi.
"Ariel ... menjadi simpanan om-om dan juga melakukan hubungan dengan dia." Aku kembali menunjuk Noah. "Ariel sendiri tak tahu siapa ayah dari bayi yang dia aborsi. Tak ada yang mau bertanggung jawab, karena itu Ariel pergi untuk melakukan aborsi."
"Ya Allah!" Bapaknya Ariel mengusap wajahnya dan menangis. "Kenapa Ariel harus melakukan hal ini?"
Bapaknya Ariel lalu duduk di lantai. Tubuhnya terasa lemas dan hanya bisa menangis merenungi nasib putrinya. Aku ikut berjongkok dan menghibur. "Maaf aku harus mengatakan semuanya, Pak. Aku harap Bapak bisa lebih menjaga Ariel. Ariel bilang, dia terpaksa melakukan semua ini untuk membayar uang kuliah dan membantu keluarganya. Sebagai sahabatnya, aku memang salah karena tak tahu apa yang Ariel lakukan di belakangku. Aku terlalu sibuk dengan masalahku sendiri. Aku tak mau Ariel kembali salah langkah."
Bapaknya Ariel menutup wajahnya dan terus menangis. Aku merasa kasihan dengannya. Pasti berat mengetahui kalau anak perempuan yang selama ini dibanggakannya ternyata mencari uang dengan jalan menjual diri.
Aku menatap ke sekitarku. Beruntung malam ini tak ada keluarga pasien gawat darurat yang menunggu di ruang tunggu. Percakapan kami hanya kami berempat dan bagian administrasi saja yang mendengarnya. "Yang sabar ya, Pak. Maaf, aku hanya bisa berkata sabar padahal aku tahu kalau sabar saja tidak cukup."
Bapaknya Ariel tiba-tiba berdiri setelah menghapus air matanya. Beliau berjalan menghampiri Noah.
Brukk!
__ADS_1
"Anak sialan! Kalau sampai anak saya meninggal karena aborsi, kamu yang akan saya tuntut!"
****