Toxic Love

Toxic Love
Dalam Gendongan Kang Galon


__ADS_3

POV Luna


Wajahku rasanya seperti terbakar saja. Memerah menahan malu dan deg-degan selama berada di dalam gendongan Mas Bahri. Saking deg-degannya aku sampai tak merasakan betapa sakitnya kakiku yang keseleo.


Bukan sekali saja aku digendong oleh laki-laki. Noah beberapa kali menggendongku lalu mengajakku ke atas kasur. Dengan Mas Bahri semua terasa berbeda. Jantungku berdegup kencang sekali saat ini. Aku takut jantungku ini meloncat keluar. Apakah Mas Bahri mendengar suara degupan jantungku yang kencang ini ya?


"Kenapa? Sakit sekali ya? Wajah kamu sampai merah begitu. Sabar ya, sebentar lagi kita sampai. Rina sudah berjalan duluan untuk mencari orang yang akan mengurut kaki kamu nanti," kata Mas Bahri menenangkanku.


Ya ampun Mas Bahri perhatian sekali. Wajahku memerah bukan karena menahan sakit tapi karena aku kini berada begitu dekat dengannya. Aku bisa melihat bulu-bulu halus yang tumbuh di dagunya dengan jelas. Aku bisa melihat kulitnya yang agak kecoklatan namun terkesan maskulin bagiku. Aku bisa melihat hidungnya yang amat mancung dan mata hitamnya yang suka menatapku tajam.


"Aku ... berat, Mas. Aku jalan saja," kataku merasa tak enak hati.


"Memangnya bisa? Kamu saja tadi sudah mengaduh kesakitan."


Kulihat bulir keringat mulai menetes di kening Mas Bahri. Tanpa sadar tanganku bergerak sendiri dan mengelap keringatnya. Kurasakan langkah Mas Bahri berhenti. Ia menatapku lekat.

__ADS_1


"Ma-maaf, Mas. Aku spontan melakukannya. Tak ada niat apapun," kataku dengan gugup.


Mas Bahri memejamkan matanya sebentar lalu kembali melanjutkan langkahnya. Ya ampun Luna, itu tangan enggak bisa dikondisikan. Main elap aja.


Wajahku pasti makin memerah sekarang. Malu rasanya, apalagi Mas Bahri tak berkata apa-apa. Perjalanan ini terasa amat jauh namun aku tak mau perjalanan ini cepat berakhir. Biarlah jantungku berdegup kencang yang penting bisa terus berada di dekat Mas Bahri seperti ini.


Ih centil banget ya aku ini. Sejak kapan aku begini. Noah yang tampan dan idola para mahasiswi aja tak pernah aku kejar-kejar begini. Kenapa sama Mas Bahri aku malah mau bersikap centil ya? Apa karena aku merasa nyaman saat berada di dekatnya?


"Itu Luna!" Suara Rina menyebut namaku.


"Ya Allah, Luna!" Ibu Rina terdengar panik melihat keadaanku. "Kamu basah juga, kasihan. Ayo cepat dibawa ke dalam. Bapak sedang memanggil orang yang biasa ngurut."


Mas Bahri menggendongku masuk ke dalam rumah. Kami melewati Kak Azizah yang menatapku dengan tatapan tidak suka yang tak ia sembunyikan sama sekali.


Mas Bahri mendudukkanku di atas bale bambu karena pakaianku yang basah. "Kayaknya kamu ganti baju dulu deh, Lun."

__ADS_1


"Rin, kamu sudah siapkan baju ganti buat Luna?" tanya Mas Bahri pada Rina.


"Sudah, Mas. Ada di kamar. Mas bisa tolong angkat Luna lagi ke kamar?" tanya Rina.


"Kita papah saja, Rin. Luna bisa 'kan jalan sedikit ke kamar. Tak baik kalau Bahri ikut masuk ke kamar perempuan," kata Kak Azizah dengan nada tegas.


"Bisa, Kak." Aku berdiri dengan hati dan melihat kakiku yang mulai bengkak. Sekarang baru kurasakan kakiku mulai sakit, rupanya pesona Mas Bahri membuatku lupa dengan rasa sakit yang kurasakan. Aku meringis saat kurasakan rasa sakit saat kakiku menginjakkan lantai.


"Sakit sekali? Mau aku gendong saja?" tawar Mas Bahri yang terlihat begitu mengkhawatirkanku.


"Tenang saja, tak apa kok. Jangan terlalu khawatir. Ayo, Luna, biar aku dan Rina membantu kamu!" Kak Azizah dan Rina memapahku ke dalam kamar. Setelah mengganti baju, mereka kembali memapahku ke ruang tamu. Nampak Mas Bahri sudah mengganti bajunya yang basah sehabis menggendongku. Ada juga tukang urut yang akan mengobatiku.


Aku menangis saat kakiku diurut. Sakit sekali rasanya. Rina sesekali menenangkanku dan kulihat Mas Bahri menatapku dengan penuh khawatir. Ya Allah, kenapa aku baru bertemu lelaki baik seperti Mas Bahri sekarang setelah aku kehilangan mahkotaku? Bolehkah aku sedikit serakah karena menginginkan lelaki baik ini untukku?


****

__ADS_1


__ADS_2