
POV Luna
Rupanya Bahri sangat sibuk dan jarang berada di tempat. Menurut informasi yang kudapat dari rekan satu bagian denganku perusahaan kami sedang mendapat tender besar. Bahri sibuk di lapangan sementara pekerjaan di kantor dipegang oleh seniorku, Bu Sari.
"Maaf, Bu, Pak Rezvan minta dibuatkan anggaran proyek baru secepatnya. Kata Bapak, kalau perlu bagian keuangan lembur untuk mengerjakannya," kata sekretaris pribadi bos besar di kantorku bekerja. Sekretaris itu belum lama bekerja jadi tidak tahu kalau ia berbicara dengan seniorku dan bukan dengan manager financeku yang sebenarnya.
"Yah ... mau bagaimana lagi? Baiklah, akan kami kerjakan!" Bu Sari tampak berbicara dengan sekretaris pribadi Bos Besar kami sebelum akhirnya menyampaikan berita kalau malam ini kami harus lembur.
Kami pun lalu dibagikan pekerjaan oleh Bu Sari. Aku bertugas untuk mengecek harga bahan bangunan terbaru. Aku menghubungi beberapa supplier dan meminta list harga barang mereka yang terbaru kemudian aku melakukan rekap dan perbandingan antara supplier yang satu dengan supplier yang lain.
Aku asyik bekerja sampai tak menyadari kalau sudah lewat waktu maghrib. Aku menghentikan sebentar pekerjaanku untuk shalat dan kembali lagi mengerjakan pekerjaanku yang sudah hampir rampung. Bu Sari datang dengan membawa makanan yang dipesankan oleh sekretaris pribadi bos besarku, iga bakar. Menu yang sangat lezat sekali, kesukaanku dan Mama. Kalau aku makan sekarang maka Mama tak akan mencicipinya. Lebih baik aku bawa pulang saja agar nanti aku bisa makan berdua dengan Mama.
"Loh, kok kamu enggak makan sih? Teman-teman kamu yang lain udah makan loh!" Aku terkejut saat Mas Bahri berdiri di sampingku.
Aku tak tahu kapan Bahri tiba di ruangan karena terlalu fokus dengan pekerjaanku. Rupanya ia memperhatikanku yang sejak tadi sibuk dengan pekerjaan dan tidak menyentuh makanan yang diberikan. "Nanti saja, Mas eh Pak aku masih kenyang," kataku dengan grogi.
"Serius? Memangnya kamu tidak lapar? Dari tadi kamu sibuk loh mencari daftar harga dan membuat perbandingannya. Kayaknya kamu belum makan deh. Makan saja dahulu, daripada kamu sakit, Lun!" Mas Bahri begitu perhatian padaku, hal yang memang biasa ia berikan pada semua orang karena sifatnya yang baik.
"Iya. Nanti saja, Pak." Aku tak mau menyentuh makananku karena akan aku bawa pulang dan makan berdua Mama nanti. Tak apa menahan lapar sedikit yang penting aku bisa makan bersama-sama dengan Mama. Aku tak mau makan enak seorang diri sementara Mama setiap hari harus membawa bekal demi menghemat pengeluaran kami.
Mas Bahri lalu pergi meninggalkanku. Aku pikir, ia akan fokus dengan pekerjaannya namun ternyata tidak. Mas Bahri tiba-tiba keluar ruangan dan kembali dengan membawa banyak burger yang ia beli di restoran cepat saji yang terletak tak jauh dari kantorku. Ia membagikan satu persatu burger yang ia beli kepada kami semua bawahannya. Hatiku rasanya menghangat melihat ada orang yang sangat baik.
__ADS_1
"Kalian bisa bekerja sambil ngemil, jangan sampai perut kalian kosong nanti sakit maag. Kerjakan saja semampu kalian kalau belum selesai kalian bisa mengerjakannya besok pagi. Saya akan minta perpanjangan waktu sama Pak Rezvan kalau memang belum selesai juga." Bahri terlihat begitu bijak dan mengerti keadaan anak buahnya.
Sangat jarang sekali ada pemimpin yang baik dan menghargai bawahannya seperti yang Mas Bahri lakukan. Aku semakin kagum melihatnya. Aku juga semakin malu pada diriku yang sudah negatif thinking padanya selama ini.
Pekerjaanku baru selesai sekitar jam 09.00 malam. Tubuhku rasanya sangat lelah sekali dan ingin segera bertemu kasur. Sayangnya, aku harus menunggu angkot dulu dan menempuh perjalanan selama setengah jam sebelum akhirnya sampai di kamar kostanku yang nyaman.
Tiin!
Sebuah mobil tiba-tiba mengklaksonku. Ia mendekat dan jendela mobilnya diturunkan. Aku terkejut saat ternyata yang mengendarai mobil tersebut adalah Mas Bahri.
"Pak Bahri?"
Aku merasa tak enak hati dengan kebaikannya padaku. Namun kalau menunggu angkot lebih lama lagi aku pasti akan semakin malam tidurnya, sementara besok pagi aku sudah harus bekerja kembali. Pasti akan sangat lelah sekali.
Tanpa ragu aku pun menerima tawaran dari Mas Bahri dan masuk ke dalam mobilnya. Di dalam mobil suara musik dari radio yang mengalun seakan memecah kesunyian di antara kami berdua. Aku mau mengajaknya mengobrol, namun setelah tahu kalau posisinya adalah bosku saat ini aku jadi urung. Aku takut salah bicara. Aku tak mau seperti dulu yang sudah mengecapnya sebagai stalker tanpa aku tahu kalau dia memang benar-benar pergi ke Bandung untuk urusan pekerjaan. Memikirkan itu aku kembali merasa malu dan rasanya ingin mengubur diriku rapat-rapat di dalam tanah.
"Kenapa tadi kamu tidak makan makanan yang diberikan?" Mas Bahri melirik ke arah paper bag yang kubawa. Isinya adalah iga bakar, makanan lembur yang sangat mewah bagiku.
"Aku mau makan berdua sama Mama saja di kamar, Pak eh Mas." Aku jadi bingung sendiri mau memanggilnya apa. Kalau di lingkungan rumah aku memanggilnya Mas kalau di lingkungan kantor, aku memanggilnya Pak.
"Pantas saja tidak kamu makan. Kamu sayang sekali ya sama Mama kamu?" tanya Mas Bahri padaku.
__ADS_1
"Iya, Pak. Mama adalah segalanya untukku mulai sekarang. Kami berdua sedang berada di titik nol. Rasanya aku merasa bersalah ketika memakan sesuatu yang lezat seorang diri sementara Mamaku harus bekerja keras demi menghidupi kami berdua."
"Kamu memang anak yang baik. Aku tahu karena Rina pernah cerita sama aku. Dia bilang katanya kamu sekarang tinggal bersama Mamamu. Tak apa kok memulai sesuatu dari nol. Lebih baik memulai sekarang daripada terlambat. Aku juga memulai semuanya dari nol. Percayalah, hasil tidak akan menghianati usaha yang kamu lakukan. Bekerjalah dengan giat dan buat bangga Mamamu!" nasehat Mas Bahri padaku.
Aku menunduk sambil tersenyum. "Iya, Pak."
Aku diturunkan di depan kostanku oleh Mas Bahri. Rupanya, sudah ada Noah yang menungguku di depan kostan. Sudah lama ia tidak terlihat, kini ia datang lagi dan mulai mengganggu hidupku. Aku mengucapkan terima kasih kepada Mas Bahri lalu turun dari mobil dan mengacuhkan keberadaan Noah.
"Aku mau bicara sama kamu! " Noah mendekatiku namun aku cuek saja. Aku hendak masuk ke dalam kostan namun tangan Noah mencegah tanganku.
"Kenapa sih kamu tidak memberikanku kesempatan sekali saja? Aku tuh sayang sama kamu, Lun. Aku cinta sama kamu. Kenapa kamu menjauh terus dari aku? Aku memang salah karena sudah selingkuh dengan Ariel, itu juga karena kamu. Kamu yang menjauh dari aku, sampai aku butuh tempat pelampiasan dan akhirnya jatuh karena tergoda oleh Ariel. Aku hanya sayang sama kamu. Percayalah. Aku berjanji akan berubah. Kalau kamu mau kita menikah, ayo kita menikah. Aku sudah bilang sama orang tuaku. Mereka minta kamu untuk ke rumahku secepatnya. Ini 'kan yang kamu mau?"
Aku tersenyum sinis mendengar perkataan Noah. Rasanya aku mau tertawa terbahak-bahak mendengarnya. "Ini yang aku mau? Kata siapa? Aku hanya bertanya sama kamu, kapan kamu akan menikahiku? Sekarang atau nanti? Bukan berarti aku ingin dinikahi. Aku cuma ingin tahu saja bagaimana keseriusan kamu terhadapku. Saat kamu tidak bisa menjawabnya, saat itu aku sadar kalau kamu selama ini hanya main-main saja denganku. Sudahlah, tak usah dibahas lagi, antara kita sudah berakhir. Kita sudah punya kehidupan sendiri-sendiri. Kamu juga akan menemukan jodoh kamu sendiri. Aku lelah. Aku mau istirahat. Kita tak perlu membahas lagi masalah ini." Aku bersiap membuka pintu gerbang kostan namun tangan Noah kembali mencekal dan menarikku dengan kasar.
Brakk!
****
Hi semua!
Yang penasaran siapa sih Rezvan? Dia tokoh utama di novelku berjudul Batas Tipis Cinta dan Benci ada di sebelah ya.
__ADS_1