
Noah
Luna sangat cantik sekali hari ini. Dress yang dikenakannya membuatku kembali merasakan hasrat lelakiku terbangun. Beberapa hari tak menyentuhnya, rasanya ada yang berbeda. Aku merasa ada yang kurang.
Aku sengaja membuat Luna semakin merasa bersalah padaku. Dengan mengatakan kalau keluargaku ada masalah, ia akan dengan mudah merasa iba. Ya, nasib kami yang sama-sama berasal dari keluarga tak sehat membuat kami bisa merasakan penderitaan yang kami derita. Ibaratnya kami ini senasib sepenanggungan. Kami adalah korban dari orang tua yang egois dan tak memikirkan perasaan anaknya hanya demi kesenangan mereka semata.
Benar saja, ia mulai merasa bersalah padaku. Pacarku ini memang sangat baik. Ini yang membuatku sangat menyukainya. Aku melihat sebuah kesempatan dan tak akan melepaskannya begitu saja.
Saat ditolak beberapa hari lalu di perpustakaan, aku merasa sangat marah. Kenapa dia sampai menolakku? Aku sangat menginginkannya, kenapa ia malah tak peduli dan menolakku? Apa yang sudah dikatakan oleh Mamanya sampai Luna jadi bersikap dingin padaku. Aku kesal dan kutinggalkan dia dengan marah.
Rupanya Luna tak menghubungiku selama beberapa hari. Aku jadi tambah marah. Banyak mahasiswi yang mendekatiku namun tak satu pun yang aku suka. Hanya Luna seorang yang aku mau.
Kini, Luna yang sedang iba padaku adalah yang aku mau. Tak akan kubiarkan ia menolakku lagi. Aku melihat ke sekeliling lantai 3. Sepi bak kuburan. Memang, jarang sekali ada kelas di lantai 3 ini, karena itu aku suka nongkrong di lantai ini demi mencari ketenangan.
Mataku tertuju pada toilet yang jarang dipergunakan mahasiswa. Toilet yang jauh lebih bersih dibanding toilet lain. Sisi liar dalam diriku terbangun. Bagaimana ya kalau kami berrcinta di dalam toilet umum? Pasti ada sensasi berbeda.
Tanpa pikir panjang aku menarik tangan Luna. Dengan polosnya Luna mengikuti langkahku. Ia sempat protes saat aku hendak masuk toilet. Aku menyuruhnya memelankan suaranya lalu masuk ke dalam dan memeriksa kalau toilet sepi. Aman.
Kubawa Luna ke toilet paling pojok dan langsung kucium ia tanpa ampun. Bibir Luna terasa manis. Aku suka dan aku begitu merasa candu. Luna hendak menolakku, suara penolakannya tak kubiarkan keluar, kubungkam bibirnya dengan ciumanku yang tanpa henti.
Satu-satunya cara menghentikan Luna adalah dengan membuatnya terbakar gairah. Kubuka satu persatu kancing baju Luna lalu aku melihat lagi pemandangan indah yang hanya aku seorang yang pernah melihatnya. Bra renda yang terlihat cantik sedang membungkus aset Luna yang agak besar dan kencang. Dengan rakus aku menikmati aset miliknya yang sudah membuatku kecanduan.
Memainkan buah sintalnya dengan tanganku tak akan membuat ia berhenti menolakku. Ia masih menolak meski kutahu ia sudah terbakar gairah, aku akan membuatnya menyerah. Aku harus merasakannya lagi kali ini.
Kumasukkan tanganku ke dalam dress miliknya. Aku kini memegang bagian intinya dan Luna kini terdiam tak lagi menolakku.
"Gimana? Pasti kamu enggak bisa menolakku bukan?" kataku sambil berbisik di telinganya.
__ADS_1
Luna tak lagi menolakku, aku tahu ia juga sudah terbakar gairah, sama sepertiku. Aku mencium bibirnya dengan lembut dan tanganku yang terus memainkan bagian intinya. Kini Luna membalas ciumanku. Aku suka ini, ia sudah menyerahkan dirinya. Anak baik!
Aku membuka celanaku dan melakukan penyatuan yang sangat nikmat. Bagaimana Luna sudah membuatku begitu kecanduan dengan tubuhnya. Kami bergerak bersama, mencari kenikmatan di ruangan sempit ini.
"Sebentar ya, aku mau pipis dulu!" sebuah suara terdengar di depan toilet. Tak lama kemudian terdengar langkah kaki memasuki toilet.
Luna membelalakkan matanya. Ia terlihat panik, aku juga terkejut, tak menyangka akan ada yang datang. Aku tak bisa menghentikan ini, aku belum mencapai kenikmatanku. Kami masih dalam penyatuan yang sangat nikmat.
Kulihat Luna hendak mendeesah, cepat-cepat kusumpal mulutnya dengan menciumnya. Aku memberi kode dengan gerakkan mataku agar ia menahan dirinya sebentar saja. Aku yakin mahasiswa itu akan segera keluar.
Suara flush air lalu diiringi dengan langkah kaki yang menjauh dan suara teman-temannya yang tak lagi terdengar membuatku dan Luna bisa bernafas lega. Kulepaskan pagutanku, Luna langsung marah sambil berbisik.
"Kalau kita ketahuan gimana?" omel Luna.
Aku tak membalasnya, aku malah melanjutkan menikmati tubuhnya. Luna tak lagi marah, kami bergerak bersama sampai tubuhku lemas karena mencapai puncak kenikmatan.
"Siapa yang membuatku gila? Kamu bukan?" kataku sambil tersenyum. Kukancingkan lagi celanaku dan merapikan kemejaku.
"Kalau kita sampai ketahuan gimana?" omel Luna lagi.
"Tenang saja, tak akan ada yang tahu," kataku menenangkan Luna. "Rapikan rambut dan baju kamu. Aku keluar lebih dulu. Setelah kulihat aman, aku akan menyuruh kamu keluar," pesanku.
Luna menurut apa yang kusuruh. Aku keluar dari toilet. Kulihat kanan dan kini, sepi. Tak ada siapapun. Aman.
"Keluarlah!" kataku pelan.
Luna keluar dari toilet dengan dress dan penampilannya yang sudah rapi lagi. Aku tersenyum dan kuulurkan tanganku padanya. "Tadi kamu mau kemana? Ke cafe depan? Ayo!"
__ADS_1
Luna menghela nafas dalam lalu memaksakan senyumnya padaku. Disambutnya uluran tanganku dengan tangannya yang lembut. "Aku tak mau lagi kayak begini loh! Sumpah, aku bisa jantungan kalau kayak begini lagi. Malu aku kalau sampai ketahuan!"
Aku tersenyum dan menenangkannya. "Iya. Tak akan kayak begini lagi. Kalau aku kangen, kita melakukannya di kamar kamu saja ya!"
Sebenarnya ada maksud lain aku mengatakannya. Aku tak mau ia menolakku lagi seperti waktu di perpustakaan. Bukankah kalau di kostannya kami lebih bebas dan tak perlu takut ketahuan seperti tadi?
Luna tak menjawab. Ia diam saja. Kuajak ia ke cafe yang tadi ia ingin pergi. Kupesankan makanan kesukaannya. Tak lupa milkshake rasa vanila kesukaannya juga aku pesankan.
Aku tahu apa yang kami lakukan sudah di luar batas. Aku tak bisa menahan diriku. Luna begitu cantik di mataku. Tak ada satu pun mahasiswi yang mengidolakanku bisa membuatku tertarik. Hanya Luna seorang.
Luna di mataku terlihat begitu natural. Wajahnya cantik dan tubuhnya seksi. Aku jadi teringat artis Ariel Tantrum saat pertama kali melihatnya. Cantiknya kebangetan.
Luna tak pernah menyadari kalau dirinya amat cantik. Banyak rekanku di senat yang membicarakannya. Sayangnya, Luna terlalu tertutup. Ia biasa sendiri dan hanya berteman dengan Ariel, sahabatnya yang juga menyukaiku.
Tak sengaja kami bertabrakan di kantin. Minuman yang kubeli membasahi bajunya. Inilah kesempatanku mengenalnya lebih dekat.
Ternyata Luna adalah tipe wanita idamanku. Baik, suka mengalah, penurut dan perhatian. Ia juga berasal dari keluarga yang punya segudang masalah, sama sepertiku. Semakin kami saling melengkapi saja.
Bak gayung bersambut, Luna juga menyukaiku. Kami pun memutuskan berpacaran. Sayangnya, berpacaran dengan Luna membuatku harus menahan gairahku yang terus terbangun setiap kali bersamanya. Aku terus menahan diriku dan tak mau merusaknya.
Aku suka mendengar teman-temanku membicarakan Luna saat aku tak ada. Mereka bilang kalau Luna sangat seksi, bahkan ada yang terang-terangan akan merebut Luna dariku. Aku tak terima. Aku tak mau kehilangan Luna.
Lalu kesempatan itu datang. Luna tinggal di kostan seorang diri. Aku akan memilikinya. Tak akan kubiarkan lelaki lain merebut Luna dariku. Hanya aku seorang.
Luna pun menyerahkan mahkotanya untukku. Kupikir aku akan berhenti. Sayangnya, aku justru semakin ketagihan dengannya. Luna memang candu. Aku tak mau berhenti. Aku mau Luna. Bukankah ini cara mengekspresikan cinta?
****
__ADS_1