
POV Author
Sebenarnya Luna bukan tipikal orang yang mempercayai sebuah tahayul. Logika mengalahkan segalanya, kecuali masalah cinta, Luna buta segalanya.
Ketika Luna hendak mandi untuk membersihkan tubuhnya sehabis melakukan perbuatan gila bersama Noah di mobil, Luna mendengar percakapan dari kamar mandi sebelah. Area outbond ini memiliki kamar mandi dengan dinding tipis yang membuat suara orang di sebelah bisa terdengar sampai ke tempat Luna.
"Eh tau enggak mitos yang beredar di sekitar warga sini?" tanya pengunjung sebelah yang sedang mandi berdua temannya.
"Mitos? Mitos apa?" tanya temannya.
"Katanya, di area outbound sini tuh enggak boleh berbuat aneh-aneh."
"Aneh-aneh itu maksudnya apa? Mesum?"
"Iya. Itu salah satunya. Berkata sembarangan dan buang sampah seenaknya juga termasuk berbuat aneh-aneh sih."
"Memangnya kenapa?"
"Katanya tantenya tanteku yang nikah sama keponakannya mbahku, kalau kita berbuat yang aneh-aneh, kita tuh bakalan kena sial."
"Hah sial? Beneran?"
"Iya. Katanya sih begitu. Makanya kita harus bisa jaga sikap kalau di tempat orang. Jangan sembarangan. Adab diutamakan, hormati pemilik tempat. Bisa saja ada yang tidak suka dengan kelakuan kita terus beneran sial, ih amit-amit deh."
Luna yang awalnya bodo amat kini menajamkan telinganya. "Sial?" batin Luna.
Luna teringat permintaan gila Noah untuk melakukan hubungan terlarang mereka di dalam mobil. Kaca mobil Noah yang gelap serta letak mobil Noah yang diparkir agak jauh dan di tempat yang sepi memungkinkan mereka melakukan perbuatan gila tanpa takut ketahuan.
Luna jadi memikirkan percakapan orang di sebelahnya. Ia dan Noah sudah melakukan perbuatan yang melanggar norma. Apakah dirinya akan sial seperti yang dikatakan pengguna toilet sebelah?
Cepat-cepat Luna menyelesaikan mandinya lalu mencari keberadaan Noah. Kekasihnya tersebut sudah selesai mandi dan sedang menikmati semangkuk mie rebus panas porsi double dengan susu cokelat hangat. Lapar sekali sehabis olahraga fisik dan batin.
__ADS_1
"Hi, Sayang. Kamu mau makan apa? Mau pesan mie rebus kayak aku tidak?" tanya Noah saat melihat Luna datang dan duduk di sebelahnya.
Luna terlihat cemas. Ia masih kepikiran dengan apa yang didengarnya di kamar mandi. Lupa ia kalau sebelumnya ia sangat lapar.
"Hei, kamu kenapa? Kok mukanya tegang begitu? Aku tanya mau makan apa, kamu tidak mau menjawab," tanya Noah.
"Aku baru dengar sesuatu tentang tempat ini," kata Luna sambil berbisik.
"Sesuatu? Sesuatu apa?"
Luna mendekatkan dirinya pada Noah lalu membisikkan sesuatu di telinga Noah. "Katanya kalau berbuat sesuatu yang aneh bisa kena sial di tempat ini."
"Sial? Itu mitos saja kali," jawab Noah.
"Aku serius. Tadi aku dengar di kamar mandi ada yang bilang kayak gitu," kata Luna dengan nada khawatir.
"Terus kamu percaya? Luna Sayang, jaman sudah maju. Teknologi sudah berkembang pesat. Kamu masih saja percaya mitos kayak gitu. Sudahlah, buang-buang waktu saja dan malah membuat kamu jadi tak tenang," kata Noah dengan santai. Diminumnya lagi susu cokelat panas yang terasa nikmat di cuaca dingin tempat ini.
"Sayang, lihat saja tempat ini. Banyak orang. Ramai. Kalau benar mitos seperti itu ada, tempat ini akan sepi. Pengunjung tempat wisata itu 'kan suka seenaknya buang sampah sembarangan. Banyak anak muda ketawa-ketiwi sambil mengobrol, berani taruhan deh sama aku, mereka ngobrolnya yang enggak bener. Apa semua pengunjung akan sial? Udah tutup kali tempat ini jika mitos itu benar," kata Noah.
Luna membenarkan perkataan Noah. Luna malah menganggap dirinya terlalu kolot dan mempercayai mitos yang tak jelas asal muasalnya tersebut. "Iya juga sih."
"Sudahlah, jangan dipikirin. Kamu makan apa? Nanti kamu masuk angin loh, habis main air dan belum makan. Mau makan nasi atau mau makan mie saja?" tawar Noah pada Luna.
"Sama kayak kamu aja deh. Kayaknya enak makan mie di cuaca dingin kayak gini," jawab Luna.
Noah pun memesankan makanan yang Luna inginkan. Mereka menikmati suasana di sekitar area outbound tersebut. Hari mulai beranjak malam ketika Noah mengajak Luna untuk kembali ke hotel.
Noah puas, liburannya kali ini benar-benar berkesan. Luna tak pernah menolak keinginannya. Tidak sia-sia ia mengeluarkan banyak uang untuk liburan kali ini. Sayangnya mereka besok sudah harus kembali ke Jakarta. Semakin lama di Bandung, semakin banyak uang yang harus dikeluarkan.
Noah dan Luna kembali memadu kasih di kamar hotel. Noah seakan tak pernah bosan menikmati tubuh seksi Luna. Sisi kejantanannya selalu terbangun kala berada di dekat Luna. Hanya Luna seorang yang Noah inginkan untuk memuaskan kebutuhan batinnya.
__ADS_1
"Aku masih mau liburan," kata Noah sebelum mereka meninggalkan hotel.
"Aku juga. Sayang ya kita masih mahasiswa dengan uang jajan terbatas. Bisa menikmati liburan seperti ini saja sudah beruntung untukku." Luna sudah melupakan mitos yang kemarin di dengarnya. Tak ada yang terjadi, mitos itu hanya isapan jempol belaka.
Sebelum pulang ke Jakarta, Noah membelikan oleh-oleh untuk Luna bagikan pada Ariel dan untuk Luna nikmati sendiri. Noah memang royal masalah uang, selama Luna bahagia, ia akan berikan semua uang yang ia punya.
Perjalanan mereka pulang cukup lancar. Adzan maghrib baru saja berkumandang ketika Luna sampai di kostannya. Noah membantu Luna menurunkan barang-barangnya.
"Dari mana kamu, Lun?" tanya suara berat yang membuat Luna terlonjak kaget. Ia kenal betul suara yang sangat ia benci tersebut.
"Pa-pa." Luna sampai terbata menyebut nama Papanya.
Papa Luna menatap ke arah Noah sambil melipat kedua tangannya di dada. Beliau sudah mengenal Noah, beberapa kali ia melihat Noah main ke rumah mereka. Papa Luna sejak awal kurang suka dengan Noah, apalagi saat mendengar kalau Noah yang mendukung Luna agar pindah kost.
"Habis pergi kamu sama dia?" Papa menunjuk Noah dengan dagunya. "Kemana? Nginep berdua?"
"Papa! Apa sih ngomong kayak gitu? Ayo kita bicara di kamar Luna!" Luna membawa barang bawaannya sendiri dan menyuruh Noah untuk pulang. Ia tak mau keadaan menjadi runyam. Untung saja lingkungan sekitar kostan sedang sepi.
Luna melewati sebelah kamarnya, lampu kamar tetangganya menyala, artinya tetangga yang tak pernah dilihatnya sedang ada di kamarnya. Luna membuka pintu kamar, menyalakan lampu kamarnya yang gelap lalu mempersilahkan Papanya untuk masuk.
Papa Luna awalnya tidak mau mengikuti anaknya. Dirinya masih mau mengomeli anaknya, namun demi menjaga kehormatan Luna, beliau mengalah. Papa Luna masuk ke dalam kamar kost anaknya yang tertata rapi. Luna tak suka rumah yang berantakan, hal itu pula yang ia terapkan saat tinggal di kostan.
"Mau minum apa, Pa?" tanya Luna yang sibuk menaruh tas miliknya.
"Kamu dari mana? Pergi berdua sama anak laki-laki itu? Mau jadi apa kamu, masih pacaran sudah pergi berduaan saja!" omel Papa Luna.
"Aku tidak pergi sama Noah, Pa." Luna menyuguhkan air mineral botol untuk Papanya.
"Oh jadi anak itu namanya Noah, kalau kamu tidak pergi dengan dia, lantas pergi kemana kamu dengan tas besar seperti itu?" Papa Luna tak pernah menghapal nama Noah, buat apa? Ia kurang menyukai hubungan Luna dan Noah.
Papa Luna sama sekali tidak menyentuh air mineral yang Luna suguhkan. Ia kembali mencecar putrinya dengan pertanyaan. "Apa itu alasan kamu mau kost? Biar bisa bebas pergi sama laki-laki, dibawa kemana saja dan mungkin sudah diajak tidur?"
__ADS_1
***