Toxic Love

Toxic Love
Sahabat Sebenarnya


__ADS_3

POV Author


Laki-laki itu tak tega melihat Luna yang duduk dengan tatapan mata kosong. Luna terlihat amat malu akan perbuatannya. Terlihat sekali kalau terjadi perubahan besar dalam diri Luna.


Rupanya kostan baru Luna dan teman-teman yang mengajaknya mengaji membuat Luna mulai berubah. Luna mulai menyadari dosa perbuatannya di masa lalu. Rasa malu yang semula hilang kini mulai ia rasakan kembali.


"Tenanglah, aku tak akan mengatakannya pada siapapun. Aku juga tak mau aibku diketahui orang lain. Kita semua punya aib, aku masih beruntung karena Allah menutupi aibku." Lelaki itu mencoba menenangkan Luna dan membesarkan hatinya.


Luna memberanikan diri mengangkat wajahnya. Dilihatnya lelaki yang lumayan tampan tersebut. Entah mengapa Luna merasa bisa mempercayai lelaki tersebut.


Luna menghapus air matanya. Ia mencoba tegar dan membereskan satu per satu masalahnya. "Aku belum berkenalan sama kamu. Namaku Luna."


"Iya. Aku sudah tahu. Sudah sering aku mendengar nama kamu disebut pacar kamu sambil mendesaaah," sindir cowok tersebut.


"Maaf. Jangan dibahas lagi, oke? Jujur, aku malu dengan perbuatanku. Ternyata aku dibutakan oleh cinta yang toxic." Luna kembali meneteskan air matanya.


"Aku ... Bahri. Aku cuma karyawan kantoran biasa saja. Kebetulan kantorku dekat dengan kostan ini. Baguslah kalau kamu sudah sadar. Semoga Rina bisa membawa kamu ke dalam kebaikan ya."


"Kamu kenal Rina?"


"Aku tak perlu memberitahu kamu siapa saja yang aku kenal bukan?" sindir Bahri.


"Maaf ya aku sudah menuduh kamu yang tidak-tidak. Aku kayaknya sudah negatif thinking duluan sama semua orang deh. Terima kasih ya kamu sudah menyembunyikan aku di kamar kamu jadi aku tidak ketahuan. Terima kasih juga karena kamu sudah mau menutupi aibku. Semoga Allah akan selalu menutupi aibmu," kata Luna dengan tulus.

__ADS_1


"Aamiin. Sekarang bagaimana kondisi kamu? Sudah lebih tenang?"


Luna mengangguk. "Aku balik ke kostan sekarang. Terima kasih sekali lagi."


****


"Lun, ngaji yuk!" ajak Rina setelah adzan maghrib berkumandang.


Luna sejak kemarin terus mengurung dirinya di kamar. Sejak pulang dari kostan lamanya, Luna hanya ingin sendiri. Ia menangis sampai bengkak kedua matanya. Tak diacuhkannya pesan yang masuk ke ponsel miliknya.


Hari ini, Rina yang mengkhawatirkan keadaan Luna terus membujuknya agar mau membuka pintu kamar. Rina membawakan masakan buatannya untuk menghibur Luna yang sedih namun Luna tak mau makan.


"Kenapa sih, Lun? Cerita dong sama aku apa yang terjadi. Insya Allah aku amanah, tak akan menceritakannya lagi pada siapapun," bujuk Rina.


"Aku ... malu, Rin," kata Luna dengan suara serak.


"Malu kenapa? Lebih baik malu sekarang tapi masih bisa diperbaiki. Ada aku, Lun, aku akan menemani kamu. Kita berteman bukan? Teman itu ada di saat temannya suka dan duka. Cerita yuk sama aku biar kamu lega." Ucapan Rina yang menenangkan membuat Luna memberanikan diri untuk menceritakan sisi kelam hidupnya.


"Sebenarnya aku dan Noah ...." Sambil sesekali meneteskan air mata penyesalan, Luna menceritakan semua kisahnya. Luna juga menceritakan kejadian kemarin yang sangat menyakiti hatinya.


"Aku tak pernah menyangka, Rin, sahabat dan kekasihku sendiri tega mengkhianatiku. Di saat diriku sedang memperbaiki diri, mereka malah tega padaku. Apa aku salah jika aku mau berubah dan memperbaiki diri, Rin? Kenapa Allah malah mengujiku lagi?"


Rina memeluk Luna yang terlihat membutuhkan dukungan. Rina biarkan Luna mencurahkan semua isi hatinya dan menjadi pendengar yang baik. Setelah Luna terlihat lebih tenang, Rina mulai berbicara sebagai teman yang baik.

__ADS_1


"Apa yang mereka lakukan jelas salah, Lun. Apa yang kamu lakukan juga tidak benar. Bedanya adalah kamu mau berubah dan memperbaiki kesalahan yang kamu perbuat. Kamu sudah satu tingkat lebih baik dibanding mereka. Kamu sudah sampai di tahap ini saja bagiku kamu sudah sangat hebat, Lun. Banyak yang masih bergelimang dosa dan tak pernah mau sadar. Allah masih sayang sama kamu dengan menyadarkanmu sebelum terlambat. Sekarang yang kamu perlu lakukan untuk membuat hati kamu tenang adalah ... maafkan mereka," nasehat Rina.


"Memaafkan mereka, Rin? Bagaimana bisa? Mereka sudah berkhianat di belakangku, Rin. Mana mungkin aku bisa memaafkan mereka? Tidak akan!" kata Luna dengan tegas dan emosi.


"Lantas dengan memendam dendam, kamu dapat apa? Hidup kamu jadi lebih bahagia gitu? Tidak, Lun. Rasa kesal dan amarah akan terus ada di dalam hati kamu. Malah lama kelamaan rasa itu akan menghancurkan kamu. Kamu mau seperti itu?"


"Aku enggak bisa maafin, Rin. Enggak bisa. Aku cuma manusia biasa yang bisa sakit hati jika dikhianati, apalagi oleh lelaki yang sudah kuberikan mahkotaku, Rin." Luna menangis sambil memukul dadanya yang terasa sakit karena dikhianati Noah.


"Maaf, Lun. Bukan aku mau berkata kejam, itu keputusan yang kamu pilih. Saat kamu memutuskan memberikan mahkotamu yang paling berharga seharusnya kamu siap dengan segala resikonya. Bukan cinta namanya jika meminta sesuatu yang tak seharusnya diberi sebelum menikah. Aku tak berkata seperti ini untuk menjatuhkan mentalmu dan membuatmu menyalahkan diri kamu sendiri. Aku mau kamu menyadari dengan benar kalau kamu sudah salah," kata Rina dengan tegas.


"A-aku memang salah, Rin," kata Luna mengakui.


"Bagus. Kamu sekarang sudah tahu kalau kamu salah, yang perlu kamu lakukan adalah memperbaiki kesalahan kamu. Perihal Noah yang berselingkuh dari kamu, ya sudah, lupakan saja. Memang akan berat di awal tapi ini adalah keputusan Allah. Ingat, apa yang menurut kita baik belum tentu menurut Allah baik. Namun saat Allah memutuskan sesuatu untuk kamu, yakinlah bahwa semua ini yang terbaik buat kamu. Tugas kamu sekarang adalah memperbaiki hubungan kamu dengan Allah, niscaya hidup kamu akan baik kembali."


Rina mengambil tisu dan menghapus air mata Luna. "Air mata kamu terlalu berharga untuk kamu habiskan demi laki-laki dan teman yang sudah mengkhianati kamu. Lebih baik air mata ini kamu gunakan saat bersujud minta ampun sama Allah atas segala dosa yang telah kamu perbuat. Percayalah, Lun, Allah sangat sayang sama kamu. Allah mau kamu mendekat dengannya bukan malah semakin menjauh. Segala yang terjadi dalam hidup kamu sudah yang terbaik. Tegarlah. Mau aku temani kamu sholat dan mengaji?"


Air mata Luna semakin deras menetes. Bukan hanya air mata penyesalan namun air mata karena sadar dirinya bodoh. Ia salah dan Rina benar, Luna harus memperbaiki semuanya, terutama memperbaiki hubungannya sama Allah.


Luna menganggukkan kepalanya dan menatap Rina. "Terima kasih, Rin. Kamulah sahabat aku yang sebenarnya, Rin. Tolong terus ingatkan aku jika aku lupa ya, Rin!"


"Insya Allah, Lun. Yuk kita sholat lalu mengaji!"


****

__ADS_1


__ADS_2