
POV Author
"Menerima apa? Kamu jangan berbicara sesuatu yang belum terjadi ah. Aku malu. Aku tak mau berharap, karena harapan yang tidak terwujud bisa membuat semangat seseorang hilang," jawab Luna.
"Aku bilang seandainya, Lun. Aku tak minta kamu berharap. Seandainya Kak Bahri menyukai kamu bagaimana?" tanya Rina lagi.
Luna terlihat diam sejenak sebelum memberi jawaban pada Rina. "Aku tak tahu. Kalau memang Mas Bahri menyukaiku berarti dia bodoh."
"Kok bodoh?" tanya Rina.
"Ya bodoh, ada Kak Azizah yang lebih sempurna segala-galanya kenapa memilih aku yang ... sudah rusak," kata Luna dengan suara pelan.
"Ih, aku enggak suka deh dengan perkataan kamu. Kamu tuh bukan rusak, kamu hanya pernah khilaf dan siapapun pernah khilaf bukan? Jangan memandang rendah dan murah diri kamu!" nasehat Rina.
__ADS_1
"Rin, sekali aku rusak tak bisa utuh lagi. Seperti sehelai tisu, jika sudah basah dan robek tak akan bisa kembali utuh lagi. Sudah ah, kita membahas hal yang tak penting. Kalau besok aku tidak ke kantor, kita bikin seblak Mang Rapael lagi ya! Kamu yang beli kerupuk aku yang ngulek bumbu, gimana?"
"Setuju! Siapa takut? Pengangguran ini siap menemani kamu kapan saja!" jawab Rina dengan bangga.
"Ish, nganggur kok bangga? Eh tapi aku sayang loh sama sahabatku yang pengangguran ini, nanti kalau aku gajian aku traktir deh. Terserah kamu mau makan dimana!" janji Luna.
"Asyik. Aku akan tagih ya traktiran kamu!"
****
Padahal Bahri tadi begitu gugup saat harus menggendong Luna sampai ke rumah Azizah. Luna tidak terlalu berat untuknya, hanya saat tubuh Luna dekat dengannya ada perasaan yang dulu pernah ia rasakan.
Bahri teringat saat dulu bersama Baby, jantungnya terus bertalu kencang. Saat melihat Baby dalam masalah, ia merasa harus menolongnya dan saat melihat Baby disakiti ia akan menjadi orang pertama yang membelanya.
__ADS_1
Hari ini kembali ia merasakan hal yang sama. Saat Luna berada di gendongannya, jantungnya terus bertalu kencang. Rasanya jantung Bahri bisa melompat keluar saking terlalu kencangnya berdegup.
Saat melihat kaki Luna terkilir, Bahri tak pikir panjang dan langsung menggendong Luna, tak peduli jarak antara sungai dengan rumah yang lumayan jauh. Yang terakhir saat Azizah berkata yang menyakitkan terhadap Luna, Bahri tak terima dan menunjukkan secara terang-terangan kalau ia marah pada Azizah.
"Sepertinya aku memang sangat menyukai Luna. Luna membuatku bisa melupakan Baby seutuhnya. Selama ini sudah kucoba berbagi cara untuk melupakan Baby namun tak ada yang berhasil. Aku pikir Azizah yang sholehah dengan penampilannya yang tertutup rapat, kata-katanya yang santun, pintar dalam bekerja dan juga rajin beribadah akan membuatku luluh dan menyukainya namun ternyata tidak. Aku justru malah menyukai Luna dengan masa lalunya yang kelam. Ada apa denganku? Apa aku hanya menyukai Luna secara fisik saja karena dia cantik?"
"Ah ... tapi tidak. Aku suka saat Luna tersenyum. Aku suka saat Luna rajin bekerja. Aku suka saat semobil dengannya. Aku suka melihat Rina yang begitu menyayanginya. Aku suka melihat Luna yang perhatian dan begitu menyayangi Mamanya. Aku suka ... kenapa aku terus menyebutkan apa yang kusuka dari Luna ya?"
"Oke, biar adil aku juga harus menyebutkan kekurangan Luna. Selain masa lalunya yang kelam karena terjerat pengaruh si playboy cap cuka apel itu, kayaknya Luna tak ada kekurangannya deh. Luna pintar, sabar, rajin, penyayang dan layak dicintai. Huft ... akhirnya aku jatuh cinta lagi. Akhirnya hatiku tak mati rasa. Akhirnya aku bukan Kang Galon lagi seperti yang Rina katakan!" gumam Bahri seorang diri.
"Apa aku mulai pendekatan dengannya mulai sekarang ya? Aku tahu, kayaknya aku akan mengajak Luna ke acara resepsi Bos Rezvan dua minggu lagi. Pasti kaki Luna sudah sembuh. Hmm ... cara mengajaknya gimana ya?"
****
__ADS_1