Toxic Love

Toxic Love
Membujuk Noah


__ADS_3

Luna


Aku mengambil sebuah dress selutut dengan kancing di bagian depan. Bukan dress baru namun jarang aku kenakan. Warnanya masih terlihat seperti baru. Sengaja aku bawa ke kostan agar bisa aku pakai.


Aku memakai sunscreen, bedak bayi dan lipgloss. Aku mematut diriku di depan cermin. Aku tak suka berdandan layaknya mahasiswa lain. Dandanan sederhana sudah cukup bagiku.


Aku mengambil totebag berbahan kanvas milikku lalu memasukkan dompet dan buku perpustakaan yang akan kukembalikan. Aku siap ke kampus.


Lagi-lagi aku merasakan seperti ada yang memperhatikanku. Aku berbalik badan dan tak menemukan siapapun. Kostanku sepi. Cepat-cepat aku melangkahkan kakiku menuju kampus.


Aku mengeluarkan ponselku dan menghubungi Noah. "Sayang, kamu dimana? Aku sudah di kampus nih."


"Aku di lantai 3 gedung C. Kamu kesini saja!" jawab Noah, nada suaranya masih terdengar agak kesal denganku.


"Oke. Aku balikkin buku dulu ya!" Kuputuskan sambungan teleponku lalu pergi ke perpustakaan.


Aku meminjam buku lain untuk kujadikan referensi menggantikan buku yang baru saja kukembalikan. Aku tak lama berada di perpustakaan, aku tak mau Noah marah lagi denganku. Rencananya aku mau mengajak Noah makan siang bareng di cafe dekat kampus. Tak apa sekali-kali aku jajan dan traktir Noah, semoga saja pacarku yang tampan itu tak akan marah lagi.


Aku berjalan menuju lantai 3 gedung C. Suasana gedung C memang berbeda dibanding gedung lainnya. Lebih sepi dan jarang digunakan untuk kelas. Berbeda dengan gedung A yang dipakai sebagai gedung administrasi serta ruang dosen dan gedung B yang biasanya buat kuliah reguler, gedung C lebih sering dipakai untuk praktek.


Aku menghubungi lagi Noah. Ingin memberitahu posisiku saat ini. "Aku sudah di tangga. Kamu dimana?"


"Oh ... aku ke tangga sekarang," jawab Noah. Noah mengakhiri panggilan teleponnya.


Sesuai perkataannya, Noah menungguku di tangga. Wajahnya masih terlihat dingin, terlihat kalau masih ada sisa amarah dalam dirinya terhadapku. Sepertinya penolakanku beberapa hari lalu begitu membekas dalam hatinya.


Aku memasang senyum terbaikku yang dibalas dengan tatapan tajam dari ujung kaki sampai ujung kepala oleh kekasihku. "Baju baru?"


Aku menggelengkan kepalaku. "Sudah lama. Aku jarang pakai saja, jadi terlihat masih bagus."


"Cantik," puji Noah membuatku tersipu malu.

__ADS_1


"Makasih," jawabku. "Kamu sedang apa di gedung C? Ada kuliah praktek?"


Aku melirik ke belakang Noah, nampak kelas-kelas sunyi. Tak ada siapapun selain kami berdua yang ada di lantai 3 ini.


Noah menggelengkan kepalanya. "Mau menenangkan diriku saja," jawab Noah.


Noah lalu berjalan melewati sebuah kelas dan mengambil tas miliknya. Waist bag berwarna hitam dengan gambar orang sedang melempar bola ia sampirkan ke bahu bidangnya.


"Kamu ada masalah?" tanyaku seraya mengikuti langkah Noah.


Noah menghela nafasnya dalam. "Masalah itu sudah seperti makanan sehari-hariku saja. Kayak enggak tau aja, eh kamu mana peduli denganku ya? Saat aku butuh kamu, bukannya peduli eh kamu malah acuh," kata Noah dengan pedas padaku.


"Kapan aku acuh sama kamu sih? Aku enggak acuh. Kamu yang marah lebih dulu sama aku," kataku membela diri.


"Oh ya? Kenapa kamu tidak meminta maaf langsung? Kamu tahu tidak, masalahku bukan hanya kamu yang mengacuhkanku? Kemana kamu saat aku butuh? Apa pernah aku pergi saat kamu butuh aku?" cecar Noah. Ia mulai mengungkit pengorbanannya selama ini padaku.


Aku tak membalas lagi perkataannya. Noah benar, aku malah memberi Noah waktu untuk meredam amarah dan baru mengajak baikkan setelah beberapa hari berlalu. Aku tak ada di sampingnya saat ia ada masalah, padahal Noah yang membuatku memberanikan diri untuk tinggal di kostan. "Maaf, aku tak tahu kalau kamu ada masalah."


"Maafin aku, please ... Kalau aku tahu kamu ada masalah, aku pasti akan ada di samping kamu." Kuraih tangan Noah dan kupegang erat. "Maaf karena aku lebih mementingkan revisi skripsiku dibanding kamu," kataku dengan penuh penyesalan.


Noah membuang wajahnya. Terlihat ia menenangkan dirinya sendiri. Wajahnya yang semula memerah kini mulai tenang. Aku kembali membujuknya agar tidak marah padaku. "Maaf ya, Sayang. Bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan? Mau ke cafe depan kampus? Aku traktir, bagaimana? Jangan mahal-mahal tapinya ya, aku 'kan kere. Jangan marah lagi ya, Sayang," kataku sambil tersenyum.


Noah kini melihat ke arahku. Ia menatapku kembali dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Kamu mau aku tak marah lagi?"


Aku mengangguk cepat. "Iya dong, tentu. Aku mau kamu tak marah lagi denganku."


Noah menengok ke kiri dan ke kanan seakan sedang memperhatikan situasi. "Ikut aku!"


Noah menggandeng tanganku. Aku pikir Noah akan mengajakku menuruni tangga dan pergi ke cafe yang tadi aku maksud, namun ternyata tidak. Noah malah melewati tangga dan pergi ke sudut ruangan dimana terletak toilet. Aku masih berpikir positif, kupikir Noah mau ke toilet dulu sebelum pergi namun ternyata aku salah.


"Loh, kita mau kemana?" tanyaku saat Noah belum melepaskan tanganku dan malah mengajakku masuk ke toilet cowok.

__ADS_1


"Sst! Jangan berisik!" kata Noah sambil berbisik.


"Kita mau apa?" tanyaku dengan berbisik.


Noah tak menjawab, ia masuk ke dalam toilet dengan tanganku yang tak ia lepas sama sekali. Dibukanya satu per satu toilet, tak ada orang sama sekali.


Noah menarikku dan mengajakku ke toilet 1 yang terletak paling pojok. Ia lalu mengunci pintu toilet. Kami berdua kini berada dalam toilet kecil.


Noah menggantung waist bag miliknya lalu berbalik badan dan menciumku tanpa permisi. "Hmmmp ...."


Aku terpojok sekarang, dengan tubuhku yang menempel tembok dan Noah terus menciumku dengan penuh gairah. Tak dibiarkannya aku bersuara sama sekali.


Aku berusaha menolak Noah, namun Noah seakan tak peduli dengan penolakanku. Ia kini malah sudah membuka kancing dressku satu persatu.


Tangan Noah dengan lihai sudah masuk ke dalam bra renda milikku. Ia tahu dimana titik kelemahanku. Aku masih ingat dengan janji yang kubuat pada diriku sendiri. Aku mau menepati janjiku, aku akan menolak Noah sekarang!


Noah akhirnya melepaskan ciuman kami. Aku hendak mengeluarkan suara namun ternyata Noah hanya memberiku sedikit jeda saja. Kini, Noah mulai mencumbu dan menciumi tubuhku, membuat pertahananku semakin melemah.


"No ... ah," kataku dengan suara yang susah aku kendalikan.


Noah tak menjawab ia kini mulai menikmati kedua buah sintalku. Satu dengan tangannya dan satu lagi dengan mulutnya yang sangat lihat.


"Ja ... ngan," kataku dengan lemah. Aku seakan sedang berperang antara diriku yang waras dan diriku yang sudah terbakar gairah. Sisi warasku semakin sedikit, kalah dengan sisiku yang terbakar gairah.


Tidak, aku tak boleh kalah lagi. Aku tak akan lemah. Aku harus menolak sebelum aku kembali mengecewakan Mama.


Aku menghirup nafas dalam dan mengumpulkan tenagaku. Aku melepaskan pagutan Noah di salah satu aset berharga milikku namun sayang, Noah melakukan sesuatu yang membuat aku tak bisa menghentikannya.


"Gimana? Pasti kamu enggak bisa menolakku bukan?"


****

__ADS_1


__ADS_2