Toxic Love

Toxic Love
Putusan Sidang Cerai Mama


__ADS_3

POV Luna


Aku memutuskan untuk mengajak Mama tinggal di kostan bersamaku. Alasannya karena lingkungan kostan yang agamis membuat hidupku jadi lebih tenang. Mama hanya membawa barang-barang yang ia perlukan saja, sisanya Mama biarkan di dalam rumah. Toh tak ada barang-barang berharga lagi yang tersisa, perabotan rumah sudah banyak yang dihancurkan oleh Papa. Barang elektronik pun hanya sedikit.


Setelah meminta izin pada Kak Azizah, aku diperbolehkan mengajak Mama tinggal bareng denganku meski uang kostan yang harus aku keluarkan lebih besar sedikit dibanding yang lain. Tak apa, yang penting aku bisa terus bersama Mama.


Mama tetap melanjutkan rencananya menggugat cerai Papa meskipun Papa berusaha untuk tidak diceraikan oleh Mama. Pada akhirnya pengadilan tetap mengabulkan gugatan Mama. Mama hanya membawa surat cerai dan barang-barang miliknya lalu keluar dari rumah Papa. Kami meninggalkan Papa bersama semua kenangan buruk yang tersisa di rumah tersebut.


Aku terus menemani Mama selama proses putusan sidang berlangsung. Aku harus menjaga Mama dari Papa, jangan sampai Papa berbuat nekat dan berniat mencelakai Mama. Kebetulan aku hanya tinggal menunggu waktu sidang saja dan mata kuliahku yang lain semua sudah aku selesaikan. Aku punya waktu senggang untuk Mama sambil melupakan Noah dengan kesibukanku saat ini.


".... terbukti rumah tangga Penggugat dan Tergugat tidak harmonis lagi, Penggugat dan Tergugat sering terjadi pertengkaran terus menerus, maka majelis hakim berpendapat ikatan pernikahan Penggugat dan Tergugat tidak mendapat kebahagiaan, sakinah, mawaddah warahmah sebagaimana tujuan perkawinan yang tercantum padaPasal 1 UndangUndang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan pasal3 Kompilasi Hukum Islam, oleh karenanya dalil/alasan Penggugat menggugatcerai dari Tergugat telah sesuai dengan dalil/alasan perceraian ...."


Saat palu hakim diketuk, kulihat air mata penuh kepuasan menetes di mata Mama. Aku pun demikian. Mama kini bebas. Mama tak perlu lagi harus hidup di bawah tekanan Papa.


Kulihat Papa menundukkan wajahnya dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Wajah Papa terlihat kusut dan tak menyangka kalau pengadilan akan mengabulkan gugatan cerai Mama. Ternyata tetangga sebelah rumah kami menjadi saksi kunci kalau Mama dan Papa sering ribut. Kami amat berterima kasih pada tetangga kami yang mau meluangkan waktunya untuk membela Mama.


Setelah sidang selesai aku memeluk Mama. "Selamat ya, Ma. Mulai sekarang, Mama bisa memulai hidup baru. Kita berdua akan membuka lembaran baru dan mengisinya dengan hal-hal yang membahagiakan," kataku menyemangati Mama.

__ADS_1


Mama mengangguk sambil menangis haru. Mama kembali memelukku. Kami sesekali melompat kecil karena kegirangan. Susah payah Mama menggugat cerai Papa selama beberapa bulan ini akhirnya sekarang surat cerai sudah Mama kantongi.


"Luna!" panggil Papa.


Aku sebenarnya tidak mau menengok ke belakang. Aku tak mau berbicara lagi dengan Papa. Kejadian Papa yang mencekik Mama waktu itu membuatku amat membencinya. Bagaimana mungkin Papa tega melakukan hal tersebut pada wanita yang amat mencintainya dan sudah melahirkan anaknya ke dunia ini?


"Lun, bicaralah dengan Papa kamu. Kamu mungkin akan jarang bertemu dengan Papa mulai sekarang. Bagaimanapun, Papa tetaplah Papa kandung kamu. Jaga tali silaturahmi kamu dengan Papa. Sana, bicaralah. Mama tunggu di depan." Mama lalu meninggalkanku dan memberi waktu untuk berbicara dengan Papa.


"Lun, ada yang mau Papa bicarakan sama kamu."


"Lun, kamu bisa bantu Papa untuk membujuk Mama kamu agar mau-" Belum selesai Papa berbicara sudah aku potong.


"Aku tidak mau!" kataku dengan tegas. Aku tahu apa niat papa, Papa pasti ingin kembali rujuk sama Mama padahal belum ada dua jam pengadilan agama sudah memutuskan perceraian Mama dan Papa.


"Lun, tolong! Papa janji, Papa akan berubah. Papa akan menjadi suami yang baik buat Mama kamu dan Papa yang baik buat kamu. Kalau tidak ada kalian, Papa tinggal dengan siapa? Kamu tahu sendiri, Papa kini seorang diri, tak punya istri sama sekali. Kamu tinggal bareng sama Papa saja ya. Lun, nanti kita bujuk Mama agar mau tinggal bareng bersama kita berdua dan rujuk lagi sama Papa," bujuk Papa padaku.


"Kenapa Papa sekarang bersikeras mempertahankan rumah tangga Papa dengan Mama? Ke mana saja Papa selama ini? Saat Mama bekerja keras karena Papa tak peduli dan asyik mengejar para janda, apa Papa pernah mikirin perasaan Mama? Saat Mama ketakutan karena Papa marah dan menghancurkan barang-barang, apa Papa peduli dengan kesehatan mental Mama? Apa saat Papa ingin mencoba membunuh Mama dengan mencekik leher Mama di depanku, Papa pernah mikirin bagaimana nasib Mama? Tidak pernah, Pa. Papa cuma peduli sama diri Papa sendiri. Aku dan Mama cuma orang luar dalam hidup papa. Kami tak pernah ada artinya di mata Papa. Sekarang Papa memintaku untuk membujuk Mama agar mempertahankan rumah tangga kalian? Tidak akan, Pa. Aku adalah orang yang berada di garda terdepan dalam hidup Mama, yang menyuruh Mama untuk berpisah dari suami seperti Papa!" kataku dengan tegas sambil meneteskan air mata.

__ADS_1


"Lun, Papa mohon. Beri Papa kesempatan. Papa ingin memperbaiki semuanya ke kalian berdua. Papa janji, Papa tak akan menikah dengan para janda lagi. Papa akan jadi Papa yang baik. Papa akan memperlakukan Mama kamu juga dengan baik."


"Percuma Pa. Kesempatan yang Mama berikan ke Papa tuh sudah banyak, namun tak pernah satu kali pun Papa memanfaatkan kesempatan yang Mama berikan. Sudahlah, Pa. Papa bisa nikmati hidup Papa mulai sekarang. Silakan Papa menikmati rumah besar Papa seorang diri atau mungkin Papa bisa mencari istri baru lalu diajak tinggal di rumah yang sekarang? Tenanglah, aku tak akan mengharapkan rumah itu. Bagiku dan Mama, kami hanya butuh hidup berdua dan saling mengisi satu sama lain. Sehat-sehat ya Pa, karena sekarang tak ada yang mengurus Papa seperti Mama. Tenanglah, aku yang akan menjaga Mama."


Aku meninggalkan Papa yang terlihat menyesal dan meneteskan air mata penyesalannya. Aku disambut oleh Mama yang sedang menungguku di depan.


"Hi, janda cantik! Mau ke mana kita hari ini? Sudah siap menyongsong dunia yang lebih indah?" godaku.


"Janda? Eh iya sih, Mama sudah jadi janda. Memang Mama masih cocok ya dipanggil janda cantik?" Mama memegang wajahnya yang memerah karena kupuji.


"Masih. Mama masih muda dan cantik. Mama mau kemana sekarang? Aku akan temani Mama kemana pun Mama mau pergi."


Mama menghela nafas dalam dan memaksakan senyum di wajahnya. "Kamu mau temani Mama ke rumah Mbah? Mama mau menyampaikan berita ini sama Mbah dan Tante kamu yang lain."


Aku tersenyum dan menggenggam tangan Mama. "Mau. Ayo, aku temani. Kita hadapi semua bersama!"


****

__ADS_1


__ADS_2