
POV Luna
Aku terkejut saat Ariel membukakan pintu untukku. Sudah beberapa kali aku mengetuk dan belum dibukakan. Saat aku sudah hendak pergi, tiba-tiba pintu dibuka.
Ariel terlihat pucat dan sangat kurus. Jauh berbeda dengan yang terakhir kali kulihat. "Ariel? Kamu kenapa?"
Ariel nampak sempoyongan. Dengan sigap aku memegang tubuhnya agar tidak jatuh. "Ayo, kita duduk dulu di dalam."
Aku memapah Ariel dan membantunya duduk di atas kasurnya yang agak berantakan. Kamar Ariel nampak kotor. Bekas makanan berserakan di lantai dan belum dibuang.
Aku hendak mengambilkan minum untuk Ariel namun kulihat tak ada gelas bersih untuknya. Kasihan, bahkan air minum bersih saja tak ada.
"Aku ke bawah dapur dulu. Tunggu sebentar!" Kuambil gelas dan piring kotor lalu mencucinya di dapur. Ariel mengangguk lemah. Tubuhnya yang kurus bersandar di tembok dengan tatapan kosong.
Saat aku kembali, Ariel menatapku dengan lekat. Kuambil air dari dispenser, untunglah masih ada air yang bisa ia minum. "Minumlah!" Kuberikan gelas yang sudah kucuci dan isi air pada Ariel.
Ariel meminum air yang kuberikan dengan lemah. Kusingkirkan sampah bekas makanannya agar aku bisa duduk di dekatnya. "Apa yang sudah terjadi? Kamu kenapa?"
Ariel menggelengkan kepalanya. "Aku tak apa."
__ADS_1
"Jangan bohong kamu, Riel. Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu. Cerita saja ada apa. Jangan lupa kalau aku masih temanmu. Aku tahu kamu sedang ada masalah. Cerita saja, aku siap mendengarkan."
Mata Ariel mulai berembun. Tak lama air matanya mulai turun membasahi wajah pucatnya. "Maafin aku, Lun. Kamu begitu baik padaku namun aku sudah jahat sama kamu. Aku sudah mengkhianati kepercayaan kamu. Aku sudah berselingkuh dengan Noah. Aku malu, Lun. Aku malu karena sudah sangat jahat sama kamu. Aku malu karena kamu terlalu baik padaku. Aku benar-benar minta maaf sama kamu, Lun." Ariel menangis sambil mengucapkan permintaan maaf padaku. Rasanya tak tega mendengarnya berkata seperti itu.
"Aku sudah memaafkan kamu, Riel. Semua yang terjadi pada kita memang sudah takdir. Aku menganggap kalau ini cara Allah menyayangiku. Sekarang kamu cerita sama aku, benar kamu sedang hamil?" Aku menatap perut Ariel yang masih rata.
"Sebelumnya iya, tapi sekarang sudah tidak."
Aku mengerutkan keningku mendengar jawaban Ariel. "Maksudnya apa? Sebelumnya kamu memang hamil? Lalu kenapa sekarang tidak? Kamu keguguran?" tanyaku bertubi-tubi pada Ariel.
"Aku ... habis aborsi, Lun."
Tangis Ariel pun pecah. "Aku terpaksa, Lun. Terpaksa. Aku juga tak mau melakukan ini."
Aku tak habis pikir dengan Ariel. Kenapa ia sampai nekat melakukan perbuatan gila seperti ini. Sudah berbuat dosa eh malah menggugurkan kandungannya, bukankah double dosa namanya?
"Siapa yang menyuruhmu? Noah?" tanyaku lagi. Pertanyaanku sebelumnya belum Ariel jawab, aku tak sabar. Aku mau tahu apa yang terjadi.
Ariel menggelengkan kepalanya. "Bukan."
__ADS_1
"Lalu siapa? Ibu dan Bapakmu?" tanyaku lagi.
"Bukan."
"Lalu siapa?" tanyaku tak sabaran.
"Sugar daddy aku," jawab Ariel pelan.
Aku diam dan mematung di tempat. Aku takut salah dengar. "Sugar daddy? Maksud kamu ... kamu punya pekerjaan sebagai sugar baby?"
Ariel mengangguk lagi.
"Astaghfirullah, Ariel. Kamu benar-benar sudah gila ya? Jadi pekerjaan yang kamu tawarkan waktu dulu padaku adalah pekerjaan yang kamu memang tekuni? Bukan pekerjaan dari temanmu seperti yang kamu bilang?" tanyaku lagi.
Ariel kembali mengangguk.
"Benar-benar sudah gila kamu, Riel. Enggak habis pikir aku. Bukankah itu sama saja kamu menjual diri?"
****
__ADS_1