
POV Luna
"Ya, saya tahu, Dok," jawabku membuat Mas Bahri semakin terkejut.
"Lun, serius?" tanya Mas Bahri padaku.
"Ariel baru saja memberitahu saya kalau dia habis aborsi. Jujur saya terkejut. Sudah lama kami tidak komunikasi. Bagaimana keadaan Ariel, Dok?" tanyaku dengan khawatir.
"Aborsi yang dilakukan sepertinya di tempat ilegal. Tindakan seperti ini bisa membahayakan teman kalian, apalagi pendarahan yang terjadi cukup banyak," jawab dokter.
"Ya ampun, Ariel." Aku mengusap wajahku. Mas Bahri kembali menenangkanku.
"Lalu bagaimana dengan teman kami, Dok?"
"Kami akan lakukan tindakan. Semoga saja tidak terjadi infeksi dan tak membahayakan. Perlu diingat, melakukan aborsi ilegal memiliki banyak komplikasi di antaranya infeksi rahim (uterus), aborsi tidak tuntas, yaitu kegagalan mengeluarkan sebagian atau semua jaringan kehamilan dari rahim, perdarahan hebat dan kerusakan pada rahim atau leher rahim (serviks)." *)
Aku semakin takut saja mendengar segala resiko yang mungkin dialami Ariel. "Tolong selamatkan sahabat saya, Dok," pintaku dengan sangat.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menolong teman kalian. Tolong kalian hubungi keluarganya ya. Kalian bisa menunggu di luar kembali."
"Baik, dok. Terima kasih." Mas Bahri menuntunku keluar. Aku menatap Ariel yang masih terbaring lemah di tempat tidur.
__ADS_1
Kami berdua menunggu di ruang tunggu. Mas Bahri yang menggantikanku menghubungi Bapaknya Ariel. Dengan tenang Mas Bahri menjelaskan apa yang sudah terjadi. Bapaknya Ariel sempat emosi namun Mas Bahri bisa menjelaskan dengan tenang. Sungguh dewasa sekali. Kebetulan sekali Bapaknya Ariel sedang ke Jakarta untuk menjual hasil panennya, sebentar lagi Bapaknya Ariel akan datang. Satu masalah terpecahkan, selanjutnya adalah orang yang seharusnya bertanggung jawab akan masalah ini.
Aku memutuskan untuk menghubungi Noah dan memintanya datang. Bagaimanapun, yang Ariel gugurkan adalah bisa saja anaknya Noah. Noah harus bertanggung jawab. Aku juga ingin menghubungi sugar daddy Ariel, namun aku tak kenal.
Sambil menunggu Noah dan Bapaknya Ariel datang, Mas Bahri terus menemaniku. Memberiku air mineral agar aku tenang dan selalu menggenggam erat tanganku. Berkat Mas Bahri aku bisa menghadapi masalah berat ini. Aku tak tahu bagaimana aku bisa melewati semua ini tanpa Mas Bahri.
Mataku lalu terpaku pada kemeja Mas Bahri yang terdapat bekas darah Ariel. Mas Bahri terlihat tak peduli, lebih mementingkan keselamatan Ariel dibanding apapun. Semakin kagum saja aku pada sifatnya.
Aku menyandarkan kepalaku di bahu kekar Mas Bahri. Rasanya aku bisa bersembunyi dari semua permasalahan di dunia selama berada di dekatnya. Nyaman dan begitu terlindungi.
"Kenapa Ariel aborsi?" tanya Mas Bahri.
Aku lalu menceritakan apa yang Ariel katakan tadi. Mas Bahri sampai geleng-geleng kepala mendengar ceritaku. "Kenapa harus aborsi sih? Kasihan bayi dalam kandungannya. Dia tak salah apa-apa. Banyak orang tua di luar sana yang begitu menginginkan untuk memiliki anak, ini diberi rejeki malah digugurkan!" kata Mas Bahri dengan nada sebal.
Kalau aku pikir-pikir, rupanya inilah hikmah atas masalah di masa laluku. Allah begitu menyayangiku dan tak mau aku semakin rusak. Aku dipertemukan dengan orang-orang baik dan tidak toxic. Setelah semua yang terjadi, kini aku bisa mengucap syukur.
"Mas, terima kasih ya kamu sudah menolongku hari ini. Kalau tak ada Mas Bahri, entah apa yang harus aku lakukan. Aku panik dan tak bisa menghadapi masalah ini sendirian," kataku sungguh-sungguh.
"Sama-sama, Lun. Kamu bebas menghubungiku kapanpun kamu mau."
Aku menatap Mas Bahri dengan lekat. Lelaki di sebelahku adalah penyelamat yang Allah kirimkan untukku. Lelaki baik yang membawaku ke jalan yang lurus.
__ADS_1
"Luna?"
Aku menoleh saat mendengar namaku disebut. Noah? Cepat sekali dia datang.
Noah melihat ke arah tanganku yang masih menggenggam tangan Mas Bahri dengan erat. Tatapan mata Noah terlihat begitu sinis. "Siapa dia?"
"Pacarku, lebih tepatnya ... calon suamiku," jawabku dengan penuh keyakinan.
"Enggak mungkin! Pacar kamu tuh aku!" Noah menunjuk dirinya sendiri. Ia mulai terbakar emosi.
"Bukan aku yang harus kamu urusin saat ini. Di dalam sana, ada Ariel yang sedang menahan sakit karena menggugurkan anak kamu," jawabku.
"Aku tak peduli. Itu bukan anakku. Aku lebih peduli sama kamu! Kamu pacarku dan selamanya akan tetap jadi pacarku!" Noah menarik tanganku namun Mas Bahri menahanku.
"Tolong lepasin. Jangan sembarangan menarik tangan orang!" Mas Bahri berdiri dan menatap Noah dengan tatapan menantang.
"Luna pacarku!" Noah tetap menarik tanganku sampai rasanya pergelangan tanganku sakit.
"LEPAS!" bentak Mas Bahri.
****
__ADS_1
*) sumber: www.halodoc.com