
POV Luna
Ternyata selama ini aku sudah salah menganggap seseorang yang kupikir sahabat sejati ternyata malah menghianatiku di belakang. Teman yang selama ini hanya kupikir teman satu kos saja ternyata justru malah dia yang selalu berada di sampingku saat aku terpuruk seperti ini.
Tangan lembut Rina yang mengusap rambutku saat aku menangis dan menepuk punggungku seakan memberikanku kekuatan yang selama ini tak pernah dilakukan oleh orang lain. Entah terbuat dari apa hati Rina, baik sekali dan peduli padaku. Rina tak punya tujuan dan maksud apapun yang jahat padaku, aku bisa lihat itu.
Rina memelukku dengan hangat dan memberikanku semangat untuk bangkit kembali. Ia menemaniku shalat dan ikut mengaji bersama sampai hatiku benar-benar tenang dan aku bisa memasrahkan semuanya kepada Allah.
Setelah aku tenang, Rina bahkan membuatkanku semangkuk mie rebus dengan banyak irisan cabe rawit di atasnya. "Biar segar!" kata Rina sambil mengedipkan sebelah matanya padaku.
Aku setuju, aku memang butuh yang segar-segar. Hatiku sudah lebih tenang sekarang berkat siraman rohani dan mengaji. Sekarang aku perlu yang segar-segar untuk tubuhku. Makan mie rebus berdua dengan Rina sambil menghabiskan banyak air karena kepedasan membuat aku melupakan kesedihanku.
Rina benar, aku tak pantas menangisi kedua orang yang sudah mengkhianatiku seperti itu. Apa yang Allah tunjukkan padaku dengan ketetapannya pasti lebih baik daripada apa yang aku inginkan, aku mulai meyakini itu.
Keesokan harinya aku sudah mulai bisa beraktifitas lagi. Aku pergi ke kampus untuk meminta ACC dari dosen pembimbingku. Sudah selesai skripsi yang aku kerjakan dengan susah payah dan penuh pengorbanan. Setelah selesai dengan skripsi aku berencana untuk belajar demi menghadapi sidang yang sangat menegangkan pastinya.
Aku kini punya masa depan yang jelas dan ingin aku tuju. Aku ingin bekerja dan tak ingin menghabiskan waktu untuk berpacaran lagi. Karena itu, saat Noah mengajakku ketemuan di kampus, aku datang memenuhi keinginannya. Ada yang harus aku bicarakan. Penting.
__ADS_1
Noah semula mengajakku berbicara di ruang senat, tentu aku menolak. Aku tak mau lagi digoda olehnya. Aku mengajaknya ketemuan di cafe depan kampus, tempat yang terbuka dan meminimalisir aku untuk berbuat dosa lagi.
Awalnya Noah tidak setuju, ia bahkan memintaku bertemu di lantai 3 gedung baru. Aku tentu saja menolak. Aku tak mau lagi melakukan kebodohan seperti itu. Bagiku semua yang berhubungan dengan Noah adalah masa lalu. Semua dosa yang pernah aku perbuat tak akan aku ulangi lagi. Sudah cukup aku membuat diriku melakukan perbuatan yang hina seperti ini. Aku mau berubah seperti yang dikatakan oleh Rina.
Meski aku sudah kehilangan kehormatanku bukan berarti aku terus melakukan perbuatan yang tidak terhormat. Aku bisa mengembalikan lagi harga diriku dan membuat diriku menjadi lebih berharga dengan memperbaiki hidupku yang baru.
Setelah mendapat ACC dari dosen, aku pergi ke cafe depan. Noah sudah menunggu dengan wajahnya yang ditekuk sebal. "Kenapa sih kita harus ketemu di sini? Kita bisa jalan ke mana gitu atau mau ngobrol aja di ruang senat? Aku bisa meminta teman-teman yang lain enggak usah datang jadi kita bisa mengobrol dengan puas di sana," kata Noah tanpa sedikitpun merasa bersalah padaku.
Melihat Noah membuatku jadi teringat lagi apa yang ia lakukan di dalam kamar kost bersama Ariel. Mataku langsung terasa memanas saat mengingat hal tersebut. Amarah mulai menguasaiku, aku tak boleh larut dengan kesedihanku sendiri.
Aku pergi ke kasir dan memesan es kopi untukku. Aku tak peduli Noah sudah pesan atau tidak. Aku sekarang mau fokus dengan diriku dan tak peduli apapun tentang orang yang sudah menghianatiku tersebut.
Aku kembali dengan segelas es kopi yang sudah dibuatkan oleh pelayan cafe. Aku duduk kembali di depan Noah dan kulihat ia sudah menghisap dua puntung rokok selama menungguku di kafe ini.
"Kamu ke mana aja sih, Lun? Aku hubungi kamu susah sekali. Aku ajak kamu ketemuan, kamu selalu menolak. Apa karena pertanyaan kamu waktu itu? Lun, kita tuh masih muda, kenapa sih kamu sudah mengajak aku menikah? Aku tuh belum bekerja. Bagaimana aku nanti bisa menafkahi kamu dan keluarga kita? Aku bukannya tidak mau menikahi kamu. Nanti, Lun, tidak sekarang. Kamu mendesak aku untuk menikahi kamu seakan kamu sudah hamil anakku. Aku belum bisa, tolong beri aku waktu. Kita selesaikan kuliah kita lalu setelah aku dapat pekerjaan, kita akan menikah. Semua seperti rencana awal, kenapa sekarang kamu berubah?" Noah mengajukan banyak pertanyaan padaku yang mungkin selama ini sudah ia pendam.
Aku tersenyum getir mendengarnya, kenapa aku baru menyadari kalau ternyata Noah adalah pribadi yang tidak bertanggung jawab sama sekali? Bodoh sekali aku ini. Aku bahkan mau menyerahkan mahkotaku pada lelaki yang tidak bertanggung jawab seperti ini? Rina benar, sepertinya kebodohanku sudah mendarah daging sampai tidak membedakan mana yang salah dan mana yang benar.
__ADS_1
"Ya sudah, aku tak akan memaksa kamu untuk menikahiku lagi," kataku dengan dingin.
Senyum bahagia terukir di wajah Noah. "Berarti kita bisa pacaran kayak biasa lagi dong? Kamu mau ke mana? Kita liburan bareng ya? Kamu sudah selesai skripsi 'kan? Sehabis kamu sidang, bagaimana kalau kita jalan-jalan? Bagaimana kalau kita ke luar kota yang agak jauh sedikit? Bagaimana kalau ke Bali? Nanti aku akan minta uang sama Papa untuk membiayai jalan-jalan kita, kamu mau 'kan?"
Aku menjawab semua pertanyaan Noah dengan menggelengkan kepalaku. "Aku tidak mau," kataku singkat.
Senyum di wajah Noah kembali menghilang. "Tidak mau? Kamu kenapa lagi sih, Lun? Tadi kamu bilang, kamu sudah tidak mendesakku untuk menikahi kamu, sekarang saat aku aja kamu jalan-jalan kamu tidak mau. Aku enggak ngerti deh, apa sih mau kamu?"
Aku meminum es kopi milikku untuk membuat diriku lebih tenang. Aku merasakan tatapan mata Noah yang terus tertuju padaku. "Aku nggak mau jalan-jalan."
Emosi Noah kembali terpancing. "Oke, kamu tidak mau jalan-jalan. Kita staycation di Jakarta saja mau? Kita bisa menyewa hotel bintang lima, kamu mau 'kan?"
Aku kembali tersenyum mendengar penawaran dari Noah. Gila ya, setelah apa yang Noah lakukan dengan Ariel, kini mau mengajakku staycation? Memangnya aku sebodoh itu apa? Memangnya aku ini apa? Hanya dijadikan obyek pemuas gairahnya semata begitu? Gila kali! Benar kata Bahri, aku memang bodoh. Untunglah sekarang aku sudah lebih pintar sedikit.
"Aku tidak mau. Maaf, aku tak mau staycation dengan orang yang sudah menghianatiku."
****
__ADS_1