Toxic Love

Toxic Love
Luna- War


__ADS_3

POV Author


"Fans?" Luna mengerutkan keningnya. Ia tak merasa memiliki fans. Siapa sih Luna? Hanya anak baru yang menurut Luna berpenampilan biasa saja.


"Iya. 3 fans kamu kemarin yang nanyain kamu terus sama anak-anak di ruangan. Kamu enggak masuk 2 hari saja mereka kayak orang kebakaran jenggot, nanya terus kapan kamu masuk," kata Bahri dengan muka sebal. Bahri sampai mengusir 3 fans Luna karena dianggap mengganggu kerja timnya.


"Aku tak berniat begitu, Mas. Aku cuma enggak mau Mas menghadapi banyak cibiran orang karena ... jalan bareng aku. Mulut netijen itu tajam loh, Mas punya jabatan di perusahaan ini. Aku takut rumor jelek akan beredar, apalagi aku ini cuma ...." Luna tak meneruskan perkataannya.


"Kamu kenapa? Sudahlah jangan kebanyakan berpikir. Ayo, aku bantu kamu sampai ruangan!" Bahri tak peduli dan tetap memegangi lengan Luna meski banyak pasang mata menatapnya.


Saat menunggu lift, di dalam sudah ada Rezvan yang masuk terlebih dahulu. "Ayo, masuk, Ri! Ajak juga your darling masuk!" Rezvan tersenyum penuh maksud.


"Pagi, Pak Bos. Bisa aja kalo ngeledekin orang!" Bahri mengajak Luna masuk. Luna menunduk hormat sambil menyapa selamat pagi pada Rezvan.


"Bisa aja anak orang dikasih harapan terus, nikahin dong!" balas Rezvan tak mau kalah.


"Iya deh tau yang mau nikah," ledek balik Bahri.


"Iya dong. Kalian kapan?" Rezvan tersenyum menggoda Bahri dan Luna yang menunduk malu.

__ADS_1


"Maunya kapan?" balas Bahri membuat Luna reflek mengangkat wajahnya dan menatap Bahri yang kini tertawa bersama Rezvan. Keduanya saling meledek tanpa tahu debaran hati Luna yang semakin kencang saja.


Luna tak mau menaruh banyak harapan. Saat lift berhenti di lantai mereka, Luna dan Bahri keluar lift setelah pamit pada Rezvan.


"Aku bisa sendiri, Mas. Terima kasih." Luna berjalan sendiri.


Bahri menatap kepergian Luna dan berpikir kalau Luna tak suka karena Rezvan menggodanya nanti. Bahri hendak menjelaskan namun melihat Luna sudah disambut kedatangannya dengan anak buahnya yang lain, Bahri urung melakukannya. Ia akan menunggu nanti sepulang kerja saja.


Berita tentang Luna yang sudah masuk kerja pun menyebar. Saat jam istirahat, fans Luna mulai berdatangan. Ada yang membelikannya roti, buah dan makan siang untuk Luna. Melihatnya Bahri sangat jengah. Mau mengusir pun mereka tampak acuh, tak peduli Bahri sudah menatap dengan tatapan sebal.


"Luna, pulangnya aku antar saja ya. Naik motor enak, cepat sampai, bebas macet." Andri yang pertama menggombali Luna.


"Jangan mau, naik motor nanti berdebu. Sama aku aja ya. Aku bawa mobil mau?" Ridwan ikut-ikutan.


"Kalau sama aku, walau naik motor tapi tetap nyaman. Lebih cepat sampai rumah. Kita bisa berhenti di tempat jajanan yang enak," bujuk Andri.


"Naik mobil juga bisa," kata Heru dan Ridwan kompak.


Bahri yang sudah tak tahan pun berdiri dan menghadapi 3 orang fans Luna dengan wajah tegasnya. "Luna pulang denganku! Aku atasannya dan kebetulan kostan kami berdekatan, jadi biar aku yang antar!"

__ADS_1


Heru, Andri dan Ridwan saling lirik. Mata mereka menatap penuh tanda tanya.


"Kenapa? Ada masalah?" tanya balik Bahri.


"Bapak mau ikutan Luna-War kayak kita?" tanya Andri.


"Luna-War?" tanya Bahri bingung.


"Iya. Macam orang-orang yang ikutan ticket war konser. Kita bertiga lagi rebutan Luna. Kita nyebutnya Luna-War. Bapak mau join?" tanya Andri.


Bahri menatap ketiga orang di depannya bergantian. "Untuk apa? Luna pasti akan memilih saya."


"Cie ... Bapak pede banget," ledek Heru.


"Enggak percaya, tanya aja sama Luna. Iya 'kan, Lun?" Bahri menatap Luna dengan lekat.


Jawaban Luna ditunggu oleh 4 laki-laki yang menatapnya penasaran. "Aku ... bingung."


"Jangan bingung. Ikuti kata hati kamu, Lun!" kata Ridwan.

__ADS_1


"Aku ... masih ingin sendiri dulu."


****


__ADS_2