Toxic Love

Toxic Love
Acara Lamaran


__ADS_3

POV Luna


Seminggu setelah berbicara dengan Papa, Mas Bahri akhirnya datang bersama keluarganya untuk melamarku. Papa meminta acara lamaran diadakan di rumah Papa. Tak mau mengecewakan Papa, Mama akhirnya setuju.


Aku lebih suka mengadakan di rumah Papa, agar semua orang tahu kalau aku juga masih memiliki rumah untuk kembali. Papa dan Mama bekerja sama menyiapkan segala keperluan untuk acara lamaranku.


Mas Bahri yang super sibuk sampai sering lembur tak bisa mengantarku pulang. Namun di tengah kesibukannya, Mas Bahri masih suka menitipkan makanan untukku makan malam. Baik sekali bukan?


Wajah Mas Bahri semakin kusut saja setiap hari. Kantung matanya hitam menandakan kalau ia kurang tidur dan banyak begadang. Entah apa yang sedang terjadi di perusahaan sampai Mas Bahri terus menerus diminta menemani Pak Rezvan.


Melihat kesibukan Mas Bahri yang sangat banyak, aku berusaha menjadi calon istri yang baik. Aku tidak merengeknya dan memintanya mengantar jemputku. Aku bisa naik angkot sendiri. Aku malah rajin memasak untuk bekal Mas Bahri di kantor.


Teman-temanku di kantor sudah tahu tentang hubungan kami. Mas Bahri sendiri yang mengumumkannya. Mas Bahri mau teman-teman satu divisi melindungiku dari para laki-laki centil yang suka mendekatiku.


Rupanya teman-teman di ruanganku semua mendukung hubungan kami. Mengetahui Mas Bahri sudah bukan lagi Kang Galon, mereka bahagia bukan main.


"Memang ya pesona Ariel Tantrum KW begitu kuat sampai bos kita yang gagal move on pun berhasil move on," ledek teman-temanku di kantor.

__ADS_1


Ah ... mereka baik sekali padaku. Mereka sudah seperti keluargaku sendiri. Untunglah di kantor ini tak mempermasalahkan hubungan kami. Selama kami bisa bersikap profesional dalam bekerja, tak masalah kalau aku masih mau bekerja bareng dengan Mas Bahri. Aku rasa Pak Rezvan yang berteman dekat dengan Mas Bahri yang membuat peraturan agak longgar demi kebahagiaan sahabatnya tersebut.


Mama dan Papa kini sudah bak sahabat. Mereka bisa berdiskusi dengan akur mengenai rencana lamaran dan pernikahanku. Andai sejak dulu mereka akur seperti itu, pasti aku lebih bahagia lagi. Tak akan ada trauma dalam hidupku. Tak akan ada perceraian yang menyakitkan semua pihak pada akhirnya.


Satu yang Papaku tak setuju, yakni rencana pernikahanku yang sederhana. Hanya akad nikah dan selametan saja. Papa tak mau putri semata wayangnya tak memiliki pesta pernikahan sebagai kenang-kenangan. Papa pun memutuskan tetap mengadakan resepsi meski tidak diadakan di gedung, hanya di rumah saja. Tak mau terlalu mewah asalkan resepsi tetap dilakukan.


Ya ... terserah Papa sajalah, toh Papa yang membiayai. Aku sih nurut saja. Papa yang meminta Mas Bahri menyimpan uangnya untuk kami membeli rumah. Resepsi urusan Papa.


Sesuai janji, Mas Bahri dan keluarganya datang untuk melamarku. Ternyata Mas Bahri memiliki kakak ipar yang berasal dari keluarga berada dan memiliki banyak bisnis. Keren. Kakak iparnya datang bersama Kak Dewi -kakaknya Mas Bahri- dan dua anak mereka yang lucu dan menggemaskan.


Keluarga Mama dan Papa juga datang karena ingin melihat dan mengenal secara langsung calon suamiku. Mereka yang semula hanya tahu kalau pernikahanku diadakan sederhana sudah under estimate saja, apalagi Om dan Tante yang nyinyir itu. Namun saat melihat kedatangan keluarga Bahri dengan mobil mewah milik Kak Dewi, semua jadi tutup mulut.


Mas Bahri datang mengenakan kemeja batik tangan panjang. Ganteng sekali. Meski masih ada sedikit lingkaran hitam di bawah matanya, tak mengurangi ketampanan yang dimilikinya.


"Kedatangan saya dan keluarga ingin melamar Luna menjadi istri saya," kata Mas Bahri, begitu tegas dan penuh keyakinan.


Tanpa sadar setitik air mata berhasil lolos dari ujung mataku. Sedih dan terharu rasanya, ada lelaki baik yang mencintaiku dengan tulus dan mau menerimaku apa adanya.

__ADS_1


Tuhan ... apakah aku pantas untuk Mas Bahri?


Apa kebaikanku sampai Engkau memberikan jodohku lelaki baik seperti Mas Bahri?


Tuhan ... bolehkah aku bahagia sekarang?


"Bagaimana Luna, apakah kamu menerima lamaran dari Nak Bahri?" tanya Papa padaku.


Dengan mata yang berembun aku menganggukkan kepalanya. "Iya, Luna terima."


Mas Bahri tersenyum ke arahku, kubalas senyumnya. Tak lama lagi, Mas. Tak lama lagi kamu akan menjadi suamiku.


Sebuah cincin emas pun disematkan ke jari manisku oleh Mas Bahri sebagai pengikat hubungan kami. Bukan cincin berlian mewah, hanya cincin emas biasa yang kami beli bersama di pasar tradisional saat jam istirahat makan siang. Namun kebahagiaanku mengalahkan cincin yang terlihat sederhana namun nampak indah di jari manisku ini.


Dua minggu lagi kami akan melangsungkan pernikahan. Dua minggu lagi waktu yang Mas Bahri minta.


Ya, Mas. Akan aku tunggu, karena hanya kamu yang aku mau ...

__ADS_1


****


__ADS_2