Toxic Love

Toxic Love
Memperbaiki Semuanya


__ADS_3

POV Author


Malam itu, Luna tidur di kamar Mamanya dengan lelap. Keduanya tidur sambil berpelukan dan merasakan pipi yang cenat-cenut karena tamparan Tedjo. Rasa sakit yang Luna rasakan seolah hilang saat mendengar Mamanya benar-benar akan menceraikan Papanya.


Luna bangun agak siang. Tubuhnya sangat lelah sekali. Bangun tidur pun tubuhnya tak lebih baik, masih terasa pegal.


"Jadi Mama panggilkan tukang pijat?" tanya Wulandari pada Luna sebelum berangkat bekerja.


"Tak perlu, Ma. Sekarang sudah lebih baik dibanding kemarin. Mama mau berangkat kerja sekarang?" Luna bangun dari tidurnya dan duduk di tempat tidur. Luna menyentuh wajah Mamanya, rupanya bengkak di wajah Mamanya lebih parah daripada yang dimiliki oleh Luna. "Masih bengkak, Ma. Kompres dulu ya sebelum berangkat."


Wulandari memaksakan senyum di wajahnya. "Tak apa. Sudah biasa."


Luna melihat Mamanya dengan tatapan kasihan. "Ditampar kok biasa sih, Ma? Dibahagiakan suami tuh yang seharusnya biasa. Diajak jalan-jalan dan diperlakukan romantis baru biasa. Mendapat KDRT kok biasa? Aneh!" gerutu Luna.


"Dulu sih sering diajak jalan-jalan, entah sejak kapan Papa kamu berubah dan mulai kecanduan berburu janda. Huft ... padahal dulu kita bertiga hidup bahagia ya, kenapa sekarang jadi seperti ini?" Wulandari menatap ke arah jendela dengan tatapan kosong.


"Takdir, Ma. Takdir."


"Kalau Mama dicibir nanti gimana ya, Lun? Kalau sampai Mbah sakit karena memikirkan Mama bagaimana?" tanya Wulandari. Rupanya sejak semalam Wulandari terus memikirkan akibat yang akan dia terima kalau menggugat cerai Tedjo.


"Ma, semua akan baik-baik saja. Percaya deh sama Luna. Mbah itu tahu kalau Mama tidak bahagia. Memangnya menurut Mama, Mbah dan saudara Mama yang lain tidak pernah curiga dengan hubungan Mama dan Papa? Mama bisa saja mengatakan kalau Papa sedang sibuk, memangnya mereka tak mendengar gosip yang beredar di luar kalau Papa tukang berburu janda? Percuma Mama berbohong. Mereka sudah tahu." Luna pernah mendengar sendiri percakapan Tante dan Omnya tentang sepak terjang sang Papa yang suka menikah siri dengan para janda namun Mamanya masih setia.


"Bukan hanya tentang keluarga saja yang membuat Mama khawatir. Mama sebenarnya takut, Lun. Kita berdua akan berdua saja di dunia ini tanpa Papa. Apa kita sanggup?" Wulandari kini memainkan kuku dan jari jemarinya. Bergelut dengan beragam perasaan yang kini ia rasakan.

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Selama ini, kita sebenarnya memang sudah berdua, Ma. Kemana Papa saat Mama sakit karena kelelahan bekerja? Padahal Mama bekerja karena ingin mencari nafkah yang tak pernah Papa berikan. Sudah lama Papa tidak benar-benar ada bersama kita, Ma. Hanya namanya saja yang masih tercantum di kartu keluarga kita saja. Pulang pun jarang, selama ada janda yang dinikahi, mana mungkin Papa inget pulang?" kata Luna dengan sinis. Semua perkataan Luna adalah kumpulan kekecewaan Luna selama ini pada Papanya. Papa yang hanya status tapi bukan sebenarnya Papa.


Wulandari menatap putrinya yang terlihat menyimpan banyak luka. Sedikit banyak ada andil Wulandari yang membuat Luna semakin terluka.


Wulandari mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya pada Luna tentang apa yang dikatakan oleh Tedjo semalam. Ia masih memiliki sedikit kepercayaan terhadap Luna. Namun Tedjo begitu yakin kalau Luna benar pergi berlibur dengan Noah. Wulandari sudah berjanji pada dirinya sendiri akan memperbaiki semuanya sedikit demi sedikit.


"Luna, Mama mau bertanya."


"Mau nanya apa, Ma?"


"Mengenai apa yang Papa bilang semalam. Apa benar, kamu pergi berlibur dengan Noah dan bukan dengan Ariel seperti yang kamu bilang sama Mama?" Wulandari menatap mata Luna, mencari tahu kejujuran yang ada dari sorot mata anaknya.


Bukannya menjawab, Luna malah membuang pandangannya. Ia tahu kalau dirinya tak mungkin berbohong lagi pada Mamanya.


"Jawablah dengan jujur, Luna. Mama siap mendengar jawaban kamu, sepahit apapun itu." Suara Wulandari terdengar pasrah. Semakin Luna diam, semakin Wulandari sadar kalau Luna memang sudah membohonginya kemarin.


Wulandari memejamkan matanya sejenak. Tak menyangka kalau Luna sudah membohongi dan mengkhianati kepercayaan yang diberikan olehnya. Pikiran buruk kini mulai melingkupi Wulandari. Liburan berdua pacar, apa saja yang sudah dilakukan? Mereka bahkan sampai menginap segala.


"Ehem!" Wulandari berdehem menstabilkan suaranya. "Kalian ... nginep bareng?"


Tangan Wulandari mulai dingin. Jantungnya berdegup kencang, siap tak siap ia akan mendengar jawaban yang akan membuat hatinya tambah hancur.


Luna masih menunduk. Kini air mata penyesalan mulai menetes dari bola mata indah Luna. "I ... ya, Ma."

__ADS_1


Jeger!


Bak mendengar petir menyambar di siang bolong, jawaban Luna membuat Wulandari sangat terkejut. Anaknya habis liburan dan nginep bareng dengan pacarnya, rasanya tak mungkin jika hanya mengobrol saja.


Air mata mulai memenuhi mata Wulandari. Ia pikir semalam sudah terlalu banyak menangis eh ternyata hari ini ia masih harus menangis lagi. Tak pernah kering rasanya mata ini mengeluarkan airnya.


"Satu kamar?" Pertanyaan Wulandari dijawab Luna dengan mengangguk sambil menangis.


"Ya Allah, Luna ... kenapa jadi begini sih kamu, Nak?" kata Wulandari dengan lirih. Tangisnya kini kembali pecah. Tangisan sedih seorang Ibu karena anaknya sudah salah melangkah.


"Maaf, Ma. Maafin Luna!" Luna mengatupkan kedua tangannya sambil menangis sesal. "Maafin Luna, Ma."


Wulandari terus menangis sambil sesekali memukul dadanya yang terasa sangat sakit. Tedjo benar, anaknya sudah berbuat diluar batas, karena itu Tedjo marah besar. Wulandari merasa gagal menjadi seorang Ibu. Yang Wulandari pikirkan adalah bagaimana caranya mendapatkan uang untuk menyekolahkan Luna, tanpa Wulandari sadari bahwa sekolah Luna yang paling utama adalah nasehat dan bimbingan dari orang tuanya sendiri di rumah. Bukan jadi anak yang kehilangan arah seperti ini karena kedua orang tuanya tak ada yang beres.


"Ma, sudah, Ma. Jangan pukul dada Mama lagi. Tampar saja Luna, Ma. Pukul Luna. Luna yang salah, Ma. Luna sudah mengecewakan Mama." Luna meraih tangan Wulandari dan menaruhnya di pipinya. "Hukum Luna, Ma. Luna salah!"


Wulandari menggelengkan kepalanya. Hatinya sangat sakit. Putri yang selama ini ia nafkahi ternyata malah sudah berbuat diluar batas dengan kekasihnya. Mau marah dan menampar Luna seperti yang Luna inginkan pun tak ada gunanya. Apa bedanya dia dengan Tedjo kalau ujung-ujungnya melakukan tindakan kekerasan?


"Maafin Luna, Ma. Luna salah. Luna janji tak akan berbuat seperti itu lagi, Luna janji Ma!" Tangis penyesalan Luna di pagi ini adalah tangisan yang tak pernah mau Wulandari dengar lagi. Semua masih bisa diperbaiki. Bahkan ember bocor pun masih bisa ditambal meski masih terlihat bekas tambalannya.


Sesuai janji yang dibuatnya pada dirinya sendiri, Wulandari akan memperbaiki semua kesalahan dalam hidupnya. "Sudah sering kamu melakukannya?"


"Sudah ... beberapa kali, Ma."

__ADS_1


"Kalau begitu, ayo sekarang kita test pack!"


****


__ADS_2