
POV Luna
Rasanya sudah lama sekali aku tidak pulang ke rumah. Semenjak proses perceraian Mama dan Papa, sampai akhirnya pengadilan memutuskan kalau Mama kini bisa bercerai dengan Papa, aku baru menginjakkan kakiku lagi di rumah ini. Rumah yang dipenuhi dengan banyak kenangan. Rumah yang dulunya menyimpan banyak tawa dan berakhir dengan banyak air mata.
Keadaan rumah sekarang sudah jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Rupanya, Papa mengurusi rumah untuk mengisi waktu senggangnya. Tanaman di depan rumah yang semula hancur karena sering Papa tendang kini sudah mulai tertata rapi. Papa membeli beberapa tanaman baru dan membudidayakannya. Tentu saja, Papa berharap setelah rumah ini menjadi lebih baik, Mama akan kembali dan mau rujuk dengannya. Ternyata Mama lebih memilih untuk sendiri dan tetap bersamaku daripada memulai lagi kehidupan berumah tangga yang seperti berada di dalam neraka.
Aku mengetuk pintu rumah dan mengucapkan salam sambil menunggu Papa datang untuk membukakan pintu. Tak lama aku mendengar suara pintu dibuka dan senyum ramah Papa menyambut kedatanganku. Aku salim pada Papa dan memeluk Papa sebagai wujud hormatku pada orang tuaku. Mas Bahri pun melakukan hal yang sama, salim dan tersenyum hangat pada Papa.
"Masuklah!" Papa membuka pintu rumah dengan lebar dan mempersilahkan kami duduk.
__ADS_1
Mataku terus menatap rumah yang memiliki banyak sekali kenangan ini. Rumah yang dulunya aku dan Mama tinggalkan dengan keadaan banyak barang-barang yang sudah rusak dan berantakan, kini berupa total. Papa sudah mengecat rumah ini dengan warna yang cerah. Beberapa perabot yang sudah rusak pun sudah Papa perbaiki dan ada yang diganti baru. Rumah ini bener-bener berbeda, terlihat lebih terawat, beda dengan dulu, yang seakan ditinggalkan oleh pemiliknya yang asik mencari kesenangannya sendiri.
"Papa buatkan minum dulu ya!"
Sebelum Papa berdiri, aku sudah mencegahnya. "Biar aku saja, Pa. Tempatnya masih sama bukan?" tawarku pada Papa.
"Masih sama dong. Hanya Papa rapikan sedikit saja."
Lagi-lagi aku dibuat terkejut dengan pemandangan yang ada di dalam dapur. Lemari makan yang dulu kacanya sudah pecah kini sudah utuh kembali. Piring-piring keramik yang sudah kosong dan hanya tersisa beberapa biji, itu pun hadiah dari membeli sabun cuci kini sudah berganti menjadi piring-piring baru dengan warna yang senada. Sayangnya, piring piring tersebut mungkin hanya akan menjadi pajangan saja. Tak apalah, mungkin ini cara Papa untuk menunjukkan penyesalannya selama ini.
__ADS_1
Setelah membuat teh, aku membawa teh yang kubuatkan ke ruang tamu, tempat Papa dan Mas Bahri sedang berbicara dengan serius. Papa pamit sebentar untuk masuk ke dalam lalu keluar dengan membawa kue yang sudah dibelinya. "Ayo, diminum tehnya sambil makan kue yang Papa beli, enak loh ini!"
Aku mengambil sepotong kue dan mencicipinya. Rasanya enak sekali. Aku jadi teringat waktu aku kecil dulu, Papa suka membelikan kami makanan sepulang kerja. Papa tidak pernah pelit untuk mengajakku dan Mama makan di luar. Rasanya waktu indah itu sudah lama sekali berlalu, semua berubah semenjak Papaku juga berubah.
"Sejujurnya, Om masih ingin melihat Luna menikmati hidupnya terlebih dahulu. Usia Luna masih sangat muda. Om mau dia itu bekerja dan bersenang-senang dengan gaji hasil bekerjanya dulu. Namun melihat apa yang sudah terjadi pada Luna di masa lalu, Om merasa kalau lebih baik Luna itu titipkan pada kamu. Kamu terlihat dewasa dan bisa membimbing Luna dengan baik. Om tak bisa menjadi contoh yang baik untuk Luna. Kamulah yang akan memberikan contoh pada Luna sebagai seorang imam yang baik," kata Papa dengan tenang dan bijak.
Sungguh aku tak pernah menyangka kalau Papa akan berubah dratis seperti ini. Rupanya perpisahannya dengan Mama sudah membuat Papa tersadar akan kesalahannya di masa lalu. Penolakan yang terus Mama berikan membuat Papa merasa kalau ia harus memperbaiki lagi dirinya dan memantaskan diri agar Mama mau kembali padanya.
Kini aku bisa melihat lagi sosok papa yang dulu aku sayangi. Papa yang begitu lembut dan begitu melindungi. Ternyata, kita memang harus kehilangan dahulu untuk menghargai apa yang kita miliki, begitupun dengan Papa. Setelah kehilangan kami berdua, Papa baru menyadari betapa berartinya kami dalam hidupnya.
__ADS_1
"Insya Allah, Om. Aku akan membahagiakan Luna karena aku sangat mencintainya. Tujuan aku menikahi Luna secepatnya adalah karena aku dan Luna tak mau ada celah bagi kami untuk terus menerus membuat dosa. Aku begitu menyayangi Luna karena itu aku ingin segera menikahinya. Kami akan belajar menjadi pasangan yang lebih baik lagi. Tolong doakan dan restui kami ya, Om?" Wajah Mas Bahri begitu serius agar Papa percaya dengan niat tulusnya.
****