Toxic Love

Toxic Love
Masa Lalu Bahri


__ADS_3

POV Luna


Hari ini Mas Bahri benar-benar membuatku terkejut. Setelah terlihat emosi dengan menyalip kendaraan lain sampai diklakson oleh pengendara motor eh tiba-tiba dia berhenti di depan taman lalu menciumku.


Aku terkejut tentu saja. Lebih gilanya lagi, setiap aku minta maaf dia kembali menciumku. Ciumannya terasa lembut seperti sebuah hukuman yang manis.


Siapa yang sangka kalau seorang Mas Bahri yang terlihat baik pada semua orang adalah seorang pencium yang ulung? Apa mungkin karena ia selalu menciumku di saat yang aku tak pernah duga?


Sungguh berbeda dengan ciuman Noah yang penuh gairah menuntut. Mas Bahri lebih lembut namun terlihat sangat menikmati. Aku sih lebih suka Mas Bahri.


Sayangnya aku sadar diri. Aku sudah tak suci lagi. Jika dibandingkan dengan Kak Azizah yang putih bersih, aku yang berlumur dosa ini pasti kalah telak.


Tak disangka, Mas Bahri malah mengajakku menikah saat aku mengatakan kalau aku tak suci lagi. Mas Bahri tahu bagaimana masa lalu kelamku dengan Noah. Dia saksi perbuatan mesum kami di masa lalu. Aku lebih terkejut lagi saat Mas Bahri mengungkap masa lalunya.

__ADS_1


"Narapidana?" tanyaku tak percaya.


"Iya. Aku pernah menjadi kurir narkoba," jawab Mas Bahri dengan jujur.


"Enggak mungkin. Mas Bahri bukan berasal dari keluarga yang kurang mampu sampai begitu membutuhkan uang dan nekat menjadi kurir narkoba. Aku tak percaya!" kataku.


Bahri tersenyum mendengar jawabanku. "Kamu yang tak tahu tentangku, Lun. Masa laluku tak sebaik yang kamu pikir, Lun. Asal kamu tahu, aku bukan berasal dari keluarga yang kaya raya. Semua yang aku miliki saat ini adalah hasil kerja kerasku."


"Benarkah? Bukannya keluarga Mas Bahri punya usaha laundry yang lumayan maju?" tanyaku tak percaya.


Aku terkejut mendengar pengakuan Mas Bahri. Aku tak percaya dengan ceritanya. Benarkah seperti itu?


"Aku yang menjadi saksi perbuatan tidak terpuji yang dilakukan oleh kakakku hanya demi uang. Aku lalu memaksa dia untuk menikah dengan suaminya yang sekarang. Untungnya Kak Wira mau menikahinya meskipun awalnya mereka membuat suatu perjanjian yang aneh. Di saat semua keluargaku sedang berusaha, aku tak mau berdiam diri saja. Aku berusaha mencari pekerjaan apapun demi bisa membantu perekonomian keluargaku,"

__ADS_1


"Waktu itu aku baru lulus sekolah. Aku tak melanjutkan kuliah karena tak ada biaya. Aku putuskan untuk bekerja sebagai tukang ojek. Sayangnya aku terlalu bodoh. Hanya karena ditawari akan mendapat uang dalam jumlah besar aku mau saja disuruh mengantar paket ke alamat yang dia suruh. Aku tak menyangka ternyata orang yang menyuruhku adalah seorang bandar narkoba. Paket yang kubawa adalah narkoba dan aku tertangkap basah membawa narkoba dalam jumlah yang lumayan banyak. Aku dianggap sebagai kurir narkoba dan dijebloskan ke dalam penjara,"


"Aku sudah pasrah dengan hidupku. Aku bukannya meringankan beban keluargaku eh malah membuat kakakku semakin tertekan. Ia membutuh biaya untuk membebaskanku. Suaminya yang membantu kakakku melepaskanku. Uang jaminan yang besar ia berikan karena ia yakin kalau aku memang bukan kurir narkoba. Aku hanya dijebak, namun siapa sih yang percaya? Semua seakan menyalahkanku padahal aku tidak berbuat seperti itu,"


"Aku tidak sebodoh itu untuk menjual narkoba hanya demi mendapatkan uang. Walaupun aku benar-benar membutuhkannya, aku tak mau perbuatanku merusak generasi muda nantinya. Sejak saat itu aku merasa malu pada keluargaku. Aku ganya menjadi beban untuk kakakku. Untunglah bisnis kakakku berjalan dengan maju. Meskipun kakakku banyak mendapat cobaan namun mereka pada akhirnya saling mencintai dan berbahagia,"


"Sedikit demi sedikit kehidupan perekonomian keluargaku mulai membaik. Bapak, ibu, dan Ratna adikku bekerja di laundry milik kakakku yang sudah banyak cabangnya. Aku juga membantu di sana karena kakakku akhirnya membayari kuliahku. Yang bisa kulakukan hanya belajar dengan benar, alhamdulillah aku lulus lebih cepat dibanding teman-temanku yang lain, mungkin karena otakku lumayan encer,"


"Setelah lulus kuliah aku mendapatkan pekerjaan yang mengharuskanku tinggal di luar kota. Seperti yang kamu tahu kalau aku justru malah jatuh cinta dengan adik dari kakak iparku sendiri. Sayangnya, aku kalah langkah dengan pengusaha kaya yang sejak kecil sudah disukai oleh Baby. Mau aku berusaha sekuat apapun Baby sama sekali tak melihat ke arahku. Seperti yang Rina sering mengataiku, Kang galon. Aku enggak bisa move on. Selama ini tak ada perempuan yang bisa mengetuk hatiku,"


"Aku jadi gila kerja. Aku menghandle semua proyek yang Pak Rezvan kerjakan. Karena itu kami menjadi dekat seperti sekarang. Aku juga bisa membeli apa yang aku mau. Meskipun tidak banyak, semua aku beli dengan kerja keras, bukan karena sokongan keluargaku."


Bahri lalu melihat jam di pergelangan tangannya. "Aku tak mau asal bicara saja, aku akan membuktikan perkataanku sama kamu. Yuk, kamu lihat keadaan rumah keluargaku yang kami tempati sampai sekarang."

__ADS_1


****


__ADS_2