Toxic Love

Toxic Love
Bahri yang Dewasa


__ADS_3

POV Author


"Mas, kamu tahu 'kan keadaan aku?" tanya Luna sekali lagi.


"Kamu tahu 'kan konsekuensinya kalau berkata seperti itu lagi di depanku? Atau kamu suka ya aku cium terus-terusan?" Bahri malah menjawab pertanyaan Luna dengan pertanyaan lagi.


"Mas, bukan itu maksud aku. Banyak yang harus dipertimbangkan sebelum memulai suatu hubungan pernikahan. Pernikahan itu enggak mudah, Mas. Mama dan Papaku saja yang sudah puluhan tahun menikah akhirnya bercerai."


"Kalau begitu, kita jangan sampai bercerai. Gampang 'kan?" jawab Bahri dengan santai.

__ADS_1


"Iya aku juga maunya begitu -" Belum selesai Luna berbicara sudah dipotong oleh Bahri.


"Berarti kamu mau 'kan nikah sama aku? Buktinya kamu enggak mau bercerai dari aku? Udah deh, enggak usah kebanyakan mikir. Saingan aku terlalu banyak untuk memperebutkan kamu. Kalau aku enggak cepat, tiga laki-laki centil di kantor itu akan mendekati kamu. Belum mantan pacar kamu yang super agresif itu. Kalau kamu udah jadi istriku mereka enggak akan berani untuk mendekati kamu lagi. Bisa aku bawakan parang kalau mereka berani mendekati kamu!" kata Bahri dengan wajah serius.


"Serius?" tanya Luna sambil terus menatap Bahri yang terlihat sangat tampan saat mengendarai mobil.


"Iya, serius. Bagi aku, keluargaku adalah nomor satu. Saat kamu menjadi istriku, kamu adalah keluarga kecilku. Enggak akan aku biarkan siapapun mengganggu kamu. Termasuk mantan pacar kamu yang menyebalkan itu. Aman 'kan? Apalagi yang kamu takutkan? Mama kamu? Biar aku yang ngomong! Papa kamu? Meski aku baru bertemu sekali, aku rasa aku bisa berbicara serius sebagai sesama lelaki,"


"Kalau Papa kamu, aku akan meyakinkannya kalau aku akan menjaga kamu melebihi dirinya. Aku akan mencintai kamu melebihi dirinya dan aku akan memastikan kamu tak kekurangan satu apapun selama bersamaku. Susah senang kita jalani berdua. Aku pernah hidup susah dan sekarang aku masih berjuang dan akan terus berjuang demi diriku, kamu dan keluarga kita nanti."

__ADS_1


Luna merasa tidak dapat berkata apa-apa lagi. Bahri terlalu dewasa untuk ukuran laki-laki yang pernah berhubungan dengannya. Pola pikirnya matang, mungkin karena jarak usia mereka yang berbeda beberapa tahun.


Bahri memang terlihat sekali begitu melindungi Luna. Bahri menjaga di saat Luna sakit dan saat Luna membutuhkan bantuan. Namun semua ini rasanya seperti mimpi. Luna tak pernah menyangka, orang yang selama ini ia kagumi karena sangat baik pada siapapun ternyata menaruh perasaan pada dirinya secara diam-diam. Apalagi saat tahu kalau Bahri tak mau berpacaran dan ingin segera menikah agar mereka terhindar dari dosa. Rasa kagum dalam diri Luna terhadap Bahri semakin meningkat rasanya.


"Lalu bagaimana dengan Kak Azizah?" tanya Luna lagi.


"Memangnya kenapa dengan Azizah? Karena dia menyukaiku? Lantas kalau dia menyukaiku, aku harus membalas perasaannya gitu? Tidak! Itu namanya pemaksaan. Aku menganggap Azizah sebagai seorang wanita yang baik, solehah, rajin beribadah dan rekan kerja yang bisa diandalkan. Namun setelah mengetahui sifat aslinya, jujur aku jadi berpikir ulang. Sejak awal pun aku tak memiliki perasaan lebih padanya. Aku tahu dia menyukaiku namun aku sama sekali tidak menyukainya. Aku bersikap baik padanya seperti aku bersikap baik pada semua orang."


"Bagaimana kalau Kak Azizah kecewa?"

__ADS_1


"Bukan tugasku membuat hatinya selalu bahagia. Aku bukan siapa-siapanya. Hanya rekan kerja, tidak lebih. Berbeda dengan kamu karena kamu segalanya untukku. Jadi, kamu mau kita nikah kapan?"


****


__ADS_2