
POV Author
Ibu Bahri keluar dengan membawa dua es sirup untuk Luna dan anaknya. "Maaf ya lama."
Percakapan Luna dan Bahri terputus. Bahri akan melanjutkan pertanyaannya nanti saat pulang. Sebelum semuanya pasti, Bahri tak mau cerita pada Ibunya.
"Luna kenal dengan Bahri dimana?" Ibu Bahri sudah duduk di samping Luna. Menatap wajah Luna yang cantik meski terlihat agak lelah sehabis bekerja.
"Kebetulan kostan kami tak jauh dan kami satu kantor juga," jawab Luna dengan jujur.
"Wah bisa kebetulan ya. Pantas saja Bahri sudah jatuh hati. Terlalu sering bertemu membuat rasa suka dalam dirinya mulai tumbuh," kata Ibunya Bahri.
Luna hanya menunduk tak tahu mau bilang apa. Luna saja kaget saat Bahri mengatakan kalau dirinya adalah pacarnya. Sejak kapan mereka jadian?
"Menurut Ibu, Luna bagaimana?" tanya Bahri.
"Loh kok menurut Ibu? Menurut kamu dong, masa sih menurut Ibu?" tanya balik Ibu.
"Aku sudah mengatakan kalau Luna pacarku ya artinya dia sudah baik di mataku, Bu. Sekarang menurut Ibu, karena restu Ibu juga yang menentukan masa depanku kelak dan langkah apa yang akan kuambil," jawab Bahri.
__ADS_1
Ibu Bahri tersenyum. "Tuh, kamu dengar. Bahri sudah tak sabaran. Dia mau serius sama kamu dan menunggu pendapat Ibu," kata Ibu Bahri pada Luna.
"Menurut Ibu sih, Luna anak yang baik. Kalau menurut kamu baik dan kamu yakin ya jalani saja. Ibu percaya dengan pilihan kamu, Nak!" jawab Ibu Bahri dengan senyum di wajahnya.
"Baiklah, kalau Ibu sudah percaya, aku akan bicara dengan Mamanya Luna secepatnya," jawab Bahri tegas.
Luna terbelalak kaget dengan jawaban Bahri. Tak ada angin, tak ada hujan, Bahri mau berbicara dengan Mamanya. Luna harus bilang apa coba sama Mamanya nanti? Pacaran saja tidak, kenapa Bahri malah mau melamarnya?
Tak lama terdengar suara salam di pintu depan. Bapaknya Bahri sudah pulang sholat. Bahri pun langsung memperkenalkan Luna pada Bapaknya. Setelah bercakap-cakap dan menunaikan sholat, Bahri dan Luna pun pamit pulang.
Mereka kembali melewati gang kecil yang kini ramai dengan anak-anak muda yang nongkrong sambil bermain gitar. Tak mau Luna digoda lelaki lain seperti di kantor, Bahri menarik tangan Luna dan menggandengnya.
Luna berjalan sambil menatap tangan Bahri yang kekar dan terlihat begitu melindungi. Ada rasa hangat yang berdesir dalam diri Luna. Perasaan terlindungi dan nyaman yang baru ia rasakan saat berada di dekat Bahri.
"Sudah," jawab Luna.
"Oke. Kita jalan sekarang. Kamu pasti lapar bukan? Ibu tadi tidak masak makanya kamu tidak aku tawari makan. Mau makan apa? Soto? Nasi goreng? Pecel ayam?" tawar Bahri.
"Apa saja."
__ADS_1
"Hmm ... kayaknya nasi goreng dekat rumah Baby enak deh. Mau coba?" tanya Bahri seraya mengemudikan mobilnya. Tak lupa Bahri memberi uang tip pada penjaga minimarket yang sudah mengenalnya.
"Kenapa harus di sana? Kangen ya sama ... Baby?" tanya Luna tiba-tiba.
Bahri tersenyum mendengar pertanyaan Luna. "Aku tak menyangka kalau kamu bisa cemburu loh, tak apa sih. Aku suka melihatnya. Aku memang suka nasi goreng di sana. Rasanya enak. Mungkin karena pembelinya penghuni komplek yang lumayan tajir kali ya, jadi rasanya juga enak. Topingnya banyak meski harganya agak mahal tapi worth it lah. Kamu harus coba!"
"Aku jadi penasaran. Boleh deh."
"Good!" Bahri mengacak rambut Luna dengan rasa sayang. Ia tak menyadari kalau Luna terus menatapnya dengan lekat.
"Mas, perkataan kamu saat di depan Ibu dan Bapak kamu itu ... serius?" tanya Luna.
"Serius dong. Kapan aku pernah tidak serius?" tanya balik Bahri.
"Serius kamu mau nikahi aku?" tanya Luna lagi.
"Iya. Kenapa? Kamu mau 'kan?" tanya Bahri dengan penuh percaya diri.
"Tapi ... kita tak pernah pacaran atau punya hubungan spesial sebelumnya."
__ADS_1
"Memangnya kenapa? Kita sudah ciuman beberapa kali. Masih kurang spesial? Aku rasa itu sudah terlalu spesial buatku. Kapan aku boleh bertemu Mama kamu?" tanya Bahri.
****