
POV Luna
Pernikahan kami hanya tinggal hitungan jari saja namun Mas Bahri terlalu sibuk sampai tak bisa menyiapkan pernikahan kami. Mas Bahri saja sampai jarang kulihat karena selalu meeting dan keluar kantor bersama Pak Rezvan. Mas Bahri sih bilangnya ada masalah serius di perusahaan dan meminta pengertianku.
Mau tak mau aku sebagai calon istri yang baik mengalah. Aku yang mengurus semua persiapan pernikahan kami, mulai dari seragam keluarga, make up, tenda, acara masak di rumah, pengajian sampai souvenir.
Dengan ditemani Rina aku pergi ke Pasar Jatinegara untuk membeli souvenir. Aku memilih souvenir yang nantinya akan berguna bukan hanya sekedar hiasan saja. Aku juga memilih sendiri gaun pengantin yang akan kukenakan serta warna apa yang akan menghiasi pernikahan kami. Mas Bahri terima beres saja.
Malam ini sekitar jam 10 Mas Bahri mendatangi kostanku. Ia duduk di kursi teras sambil menyandarkan kepalanya karena kelelahan. "Capek ya? Mau aku pijitin?" tanyaku.
"Mau tapi tidak sekarang. Nanti saja setelah kamu jadi istriku. Jangan memancing di kala aku lelah ya, aku tetap lelaki yang mudah tergoda," jawab Mas Bahri sambil tersenyum.
"Aku bukan mau memancing kamu, Mas. Aku hanya kasihan melihat kamu kerja sampai lupa waktu begini," kataku.
"Sabar ya, sedikit lagi. Insya Allah nanti aku dapat bonus. Lumayan buat nambah DP beli rumah kita." Sorot mata Mas Bahri terlihat penuh harap.
"Iya. Aku sabar kok nunggu kamu, Mas." Aku lalu menceritakan apa saja yang sudah kulakukan dan sudah sejauh mana persiapan pernikahan kami. Mas Bahri mendengar ceritaku sampai jatuh terlelap. Kasihan. Pasti Mas Bahri lelah sekali.
__ADS_1
"Mas, bangun. Tidurnya di kostan kamu ya!" kataku seraya mengusap rambutnya dengan lembut.
"Maaf, Sayang. Aku ketiduran lagi ya?" Mas Bahri mengucek matanya dan membenarkan posisi duduknya.
"Tak apa. Pulanglah. Aku mengerti kok kalau kamu lelah."
"Terima kasih atas pengertian kamu." Mas Bahri memajukan dirinya dan mengecup pipiku. "Cicip sedikit boleh ya?" Mas Bahri mengedipkan sebelah matanya padaku, membuatku tersipu malu dibuatnya.
"Sebentar lagi bukan hanya dicicip tapi disantap sampai habis." Mas Bahri kembali menggodaku.
Kucubit pinggangnya pelan sampai Mas Bahri tertawa pelan. Sadar kalau hari sudah malam, tak enak dengan tetangga kami. Mas Bahri mengacak rambutku lalu pamit pulang. "Sampai ketemu di pelaminan ya! Besok kamu sampaikan pada Rina adikku saja ya. Aku tak boleh bertemu kamu lagi. Takut tak kuat iman."
Ternyata apa yang dikatakan Mas Bahri benar adanya. Mas Bahri tak lagi datang ke kantor, ia sibuk dengan proyek yang dikerjakan bersama Pak Rezvan. Rasanya sepi sekali tak ada Mas Bahri. Ada yang hilang. Tak ada penyemangatku dalam bekerja.
Waktu terasa semakin sedikit saja. Banyak yang harus aku siapkan. Aku tak punya jatah cuti jadi harus terus masuk kerja. Untunglah pesta pernikahan kami diadakan hari minggu jadi aku bisa prepare semuanya di hari sabtu.
Setelah melewati hari yang memberatkan, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Hari dimana Mas Bahri datang untuk menikahiku. Kami berdua duduk di tengah ruangan, kulirik Mas Bahri yang terlihat gagah sekali. Lingkaran hitam di bawah matanya tak terlihat lagi, syukurlah Pak Rezvan memberi Mas Bahri waktu istirahat. Wajah Mas Bahri terlihat segar meski agak kurusan.
__ADS_1
"Ehem! Sudah ya lirik-lirikkannya! Bisa kita mulai sekarang?" tanya Pak Penghulu pada kami berdua.
"Bisa, Pak," jawab Mas Bahri. Aku hanya menjawab dengan anggukan saja.
Tangan Mas Bahri pun mulai bersalaman dengan tangan Papa. Wajah Mas Bahri terlihat sangat serius saat mengucapkan ijab kabul. Saat semua berkata 'sah' secara reflek air mataku menetes.
"Alhamdulillah!"
Rasanya semua ini bak mimpi bagiku. Mas Bahri yang semula tetangga yang tak kuanggap kini menjadi suamiku. Lelaki yang sangat kucintai. Lelaki dimana aku menyandarkan masa depanku bersamanya.
Saat Mas Bahri memakaikan cincin di jari manisku, aku tersadar kalau semua ini bukanlah mimpi. Semua ini nyata. Apalagi saat aku salim dan Mas Bahri kemudian mengecup keningku. Indah sekali. Hanya kecupan di kening namun kalau sudah halal semua rasanya berbeda.
"Assalamualaikum, Istriku!" kata Mas Bahri sambil tersenyum.
"Waalaikumsalam, Suamiku!" jawabku balas tersenyum.
Acara akad nikah ditutup dengan nasihat dan doa dari Pak Penghulu dan tamu undangan yang hadir. Acara sederhana namun terasa lebih khidmat. Kini, Mas Bahri sudah menjadi imamku. Semoga aku bisa menjadi makmum yang baik dan menjaga kehormatannya.
__ADS_1
****