
POV Author
Wulandari tak mengerti apa mau Tedjo. Dulu, saat Wulandari mau mempertahankan rumah tangga mereka Tedjo malah terus mengkhianati cintanya. Kini, saat dirinya sudah teguh untuk bercerai Tedjo malah tak mau dan malah mengancam akan menuntut harta gono gini jika Wulandari melanjutkan niatnya.
"Ma, kalau Papa mau harta gono gini, turuti saja. Jangan takut, Ma. Minta juga mobil milik Papa! Pokoknya jangan sampai mundur, Ma!" kata Luna dengan menggebu-gebu.
Wulandari menghela nafas dalam. Lelah sekali rasanya, seakan cobaan hidupnya tak kunjung usai. "Iya, Mama sudah bilang seperti itu. Tenanglah. Mama pasti akan bercerai dengan Papa. Kamu sendiri bagaimana? Sudah putus dengan Noah?"
Luna menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Belum sih, Ma."
"Kamu bagaimana sih, Lun? Kamu mendesak Mama agar secepatnya bercerai dari Papa tapi kamu sendiri tidak putus dari Noah," keluh Wulandari.
"Aku memang belum putus, Ma. Aku tidak tidur dengan Noah lagi kok. Bener deh. Aku malah rajin ikut pengajian sehabis maghrib di kostan bersama Rina," kata Luna dengan bangganya.
"Pokoknya Mama tak mau ya kamu sampai berbuat hal seperti itu lagi! Jangan sampai kamu merugikan dirimu sendiri, Lun. Mama sudah gagal berumah tangga. Kamu jangan mencontoh kegagalan Mama. Hidup kamu masih panjang, masih bisa diperbaiki."
"Iya, Ma. Iya." Luna mengambil tas miliknya dan pamit pulang. Ia harus sudah sampai kostan sebelum maghrib agar tidak ketinggalan pengajian. "Luna pulang dulu ya, Ma. Jaga diri Mama!"
****
Suara desaahan dan penyatuan dua insan yang sedang dikuasai hawa napsu menjadi musik sumbang di siang itu. "Ah ... Noah ... terus ... jangan berhenti!"
Wanita yang berada dalam kungkungan Noah terus mendesaah. Keduanya bergerak bersama dengan bulir keringat yang membasahi punggung wanita muda tersebut.
Plak! Noah memukul pelan bokong wanita yang terus menyebut namanya dalam setiap desahaannya. Membuat wanita tersebut semakin liar bergerak memberikan kenikmatan yang sebulan ini Noah terus tahan.
Saat Noah mencapai puncaknya, wanita tersebut tersenyum seraya memuji kehebatannya bermain di ranjang. "Kamu luar biasa, Noah."
Noah tak banyak komentar. Ia pergi ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Tak disangka, wanita itu memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Aku lelah. Tak ada babak selanjutnya!" kata Noah dengan dingin.
"Yakin? Kalau aku saja yang melayani kamu bagaimana? Kamu cukup diam dan menikmati semuanya. Yang penting, kamu puas!" Wanita itu mulai memancing kembali naluri lelaki Noah. Mana mungkin Noah menolak saat ada tawaran menikmati surga dunia yang sangat nikmat?
Mereka pun kembali memulai permainan babak kedua. Noah berada di bawah sementara wanita itu terus bergerak memberikan kenikmatan pada Noah. Apakah Noah puas? Tentu saja, namun ada rasa yang berbeda. Bukan Luna yang berada di atas tubuhnya, melainkan Ariel, sahabat Luna.
Semua berawal dari Noah yang kesal saat Luna terus menghindarinya. Noah sudah membujuk Luna agar mau diajak jalan namun Luna malah menolaknya dan terus bersama Rina, teman barunya dari kostan baru.
Noah seakan tak diberi kesempatan untuk merayu Luna. Bak dalam pengaruh hipnotis, Luna menolaknya dan malah memilih bersama Rina, katanya mau ada pengajian. Noah heran, sejak kapan Luna rajin mengaji?
Tak sengaja Noah bertemu dengan Ariel. Noah pun meminta bantuan Ariel namun sia-sia. Ariel bukannya membantu malah menjadi orang ketiga dalam hubungan Noah dan Luna.
"Kenapa sih kamu terus mendekati Luna padahal Luna selalu saja menghindar? Itu tandanya Luna sudah tak menyukai kamu lagi! Kamu sadar dong," kata Ariel dengan pedas.
"Itu bukan urusan kamu!" kata Noah dengan ketus. Noah berjalan pergi menghindari Ariel namun ucapan Ariel berikutnya membuat langkah Noah terhenti.
"Aku tahu apa yang kalian lakukan selama ini."
"Ruang senat dan toilet lantai 3 gedung baru. Bukankah kamu dan Luna pelakunya?"
"Jangan ngarang kamu!"
"Untuk apa aku mengarang sesuatu yang aku lihat sendiri? Tenang saja, aku tak akan mengatakan pada siapapun. Buat apa?"
"Apa mau kamu?" tanya Noah. Ia tahu tak ada yang benar-benar gratis di dunia ini.
"Mau aku ... kamu!" Ariel menunjuk Noah tepat di dadanya.
"Aku? Gila kamu, aku ini pacar sahabat kamu!"
__ADS_1
"Aku gila? Enggak tuh. Aku sadar apa yang aku mau. Kamu tahu sejak dulu aku suka sama kamu. Aku yang pertama menyukai kamu lalu Luna ikut-ikutan. Saat kalian mulai saling kenal, aku berusaha menarik perhatian kamu tapi sama sekali kamu tak melihatku. Aku suka sama kamu. Aku cinta sama kamu. Aku mau kamu!"
"Kamu udah gila, Riel!" Noah berjalan terus meninggalkan Ariel. Tak terima ditolak begitu saja, Ariel mengejar Noah lalu ditariknya Noah masuk ke dalam ruang senat.
"Mau apa kamu?" tanya Noah di ruangan yang menyimpan memori indah bersama Luna waktu itu. Ruang senat terlihat sepi, mereka bisa mengobrol bebas di dalamnya.
Ariel mengunci pintu ruang senat. "Aku akan berikan yang Luna berikan padamu, tidak, aku akan berikan yang lebih dari yang Luna berikan untukmu!"
Ariel mendorong tubuh Noah sampai terduduk di atas sofa yang sudah agak lusuh itu. Tanpa permisi, Ariel mencium Noah. Rupanya Ariel begitu jago memancing gairah kaum lelaki, Noah yang semula menolak kini mulai tergoda saat Ariel menarik tangannya untuk menyentuh aset miliknya.
Aset milik Ariel memang tidak seindah milik Luna yang agak besar dan padat berisi. Tubuh Ariel yang lebih kurus juga tak semenarik Luna yang agak berisi dan seksi. Noah terus membandingkan tubuh keduanya.
Ariel pun mulai memberikan sentuhan demi sentuhan memabukkan pada tubuh Noah. Ariel bahkan memberikan service yang tak pernah Luna berikan. Noah akhirnya pasrah, sebulan sudah Luna menjauhinya, dirinya terasa gersang tak ada bahan pelampiasan. Kini ada yang menawarinya, bagaimana mungkin Noah menolak apa yang ada di depannya.
Ruang senat menjadi tempat pertama Noah meniduri Ariel. Kebutuhan batinnya terpenuhi. Ariel begitu lihai memuaskannya, entah bagaimana Ariel bisa memiliki kemampuan seperti ini. Ariel bagaikan pemain profesional, tidak seperti Luna yang masih amatiran dan kadang harus diajarkan dulu step by stepnya.
"Kalau kamu mau lagi, aku siap kasih kok. Datang saja ke kamarku. Kamu tahu 'kan dimana kamarku?" kata Ariel dengan nada centil.
"Hem," jawab Noah dingin. Noah membenarkan celananya lalu pergi dari ruang senat dengan rasa lega.
Noah kembali mendapat penolakan dari Luna. Ia sudah mencegatnya di jalan namun Luna menolak ikut serta dengan alasan mau pulang ke rumah Mamanya. Noah menawari untuk mengantar, Luna malah ketakutan dan menolak tawarannya.
"Tak usah. Nanti Mama marah. Aku pergi dulu," kata Luna seraya meninggalkan Noah.
Kesal kembali mendapat penolakan, Noah mendatangi kamar Ariel. Senyum manis dan pelukan lebar Ariel berikan. Ia disambut bahkan dilayani sampai dua kali. Bagaimana Noah bisa menolaknya?
***
Hi Semua!
__ADS_1
udah lama nih aku enggak menyapa kalian. Jangan lupa terus dukung aku ya dengan vote, like, komen dan kopi seikhlasnya 😁. Jangan lupa follow Ig aku: Mizzly_ dan fb aku: Mizzly juga ya🤗