Toxic Love

Toxic Love
Kita Ini Mirip


__ADS_3

POV Author


Wulandari dan Luna tampak tegang menunggu hasil dari benda pipih berwarna biru yang ada di depan mereka. Dalam hati keduanya berharap kalau hasil tespek tersebut negatif. Setelah menunggu Kurang lebih selama 5 menit, tak ada garis lain yang muncul di tespek tersebut. Luna pun menghela nafas lega.


Masih merasa tak yakin, Wulandari mengambil lagi tespek baru yang lain lalu mencoba mengetes yang baru. Hasilnya pun sama, hanya ada satu garis yang artinya Luna memang benar tidak hamil. Wulandari kini bisa bernafas lega, sama seperti Luna.


"Alhamdulillah, kamu tidak hamil," kata Wulandari.


"Iya, Ma. Untung saja Luna tidak hamil," jawab Luna dengan polosnya.


Wulandari langsung memberikan tatapan tajam ke arah anaknya. "Bukan berarti kamu tidak hamil semua selesai begitu saja ya!" Wulandari terlihat tegas dan serius dengan perkataannya. Nada suaranya penuh ancaman untuk Luna.


"Iya, Ma." Nyali Luna menciut mendengar Mamanya yang terlihat marah tersebut.


"Mama enggak mau kamu dan Noah melakukan hubungan suami istri lagi sebelum menikah! Kalau kamu memang mau menikah sekarang sama Noah, bilang sama Mama. Mama akan meminta Noah untuk menikahi kamu dan membawa keluarganya melamarmu baik-baik," kata Wulandari dengan serius.

__ADS_1


Mendengar akan dinikahi dalam usia yang masih muda, Luna tentu saja menolak. Mana mau Luna menikah sementara dalam bayangan Luna pernikahan itu sama sekali tidak ada indahnya. Contoh saja pernikahan kedua orang tuanya yang bagaikan neraka. "Aku belum mau menikah, Ma. Aku masih ingin bebas. Aku mau menyelesaikan kuliah aku. Aku mau kerja, mau bantuin Mama cari uang yang banyak agar Mama bisa istirahat di rumah, tak perlu lembur terus untuk menghidupi Luna."


"Kalau kamu memang tidak mau menikah muda, kenapa kamu berbuat tanpa dipikir dahulu? Hanya ingin bersenang-senang saja? Bangga kamu sudah berbuat seperti ini? Apa pernah Mama mengajari kamu untuk menjadi gadis yang seperti ini? Nggak pernah, Lun!" omel Wulandari sambil sesekali menghapus air matanya yang rasanya tak pernah kering meski sejak kemarin sudah mendapat cobaan bertubi-tubi.


Luna hanya menundukkan kepalanya mendengar Mamanya mengomel. Matanya makin bengkak karena Luna terus menangis menyesali perbuatannya. Tak ada gunanya Luna membantah, toh posisinya saat ini memang Luna yang salah.


"Mama selama ini bekerja dari pagi sampai malam namun Mama selalu menjaga diri Mama. Mama tahu, Mas Eko menyukai Mama namun Mama sadar kalau status Mama masih istri sah Papa. Mama tak pernah sama sekali memberikan kesempatan pada Mas Eko karena Mama ingat status Mama masih istri orang. Kenapa Mama tidak berselingkuh saja macam Papa kamu? Karena Mama mau membuat diri Mama menjadi wanita yang terhormat!" Wulandari mengambil sehelai tisu dan membersihkan hidungnya yang tersumbat.


"Kamu masih muda, Lun. Kenapa kamu melakukan sesuatu tanpa dipikir dulu? Kesenangan yang kamu dapat bersama Noah itu hanya sementara. Sekarang kamu sudah kehilangan mahkota kamu. Bagaimana masa depanmu kelak? Beruntung kamu tidak hamil. Kalau sampai kamu hamil di usia muda, apa Noah mau tanggung jawab? Apa kalian pasti selamanya akan terus saling mencintai? Apa kalian siap menjadi orang tua di usia muda? Mama tidak yakin!"


"Karena ingin membiayai dan menyekolahkan kamu sampai tinggi, Mama rela bekerja tanpa mengenal waktu. Mama mau kamu jadi orang hebat. Mama mau kamu hidup benar dan menemukan laki-laki yang mencintai kamu selamanya. Mama tak mau ada yang menyakiti kamu. Mama mau melihat kamu hidup bahagia. Bukan malah merusak diri kamu sendiri dengan kebahagiaan sesaat seperti ini. Kamu liburan bareng sampai melakukan hubungan suami istri itu benar-benar terlaluan namanya!"


Wulandari kembali mengambil tisu dan mengusap air matanya yang terus mengalir. "Mama kecewa. Mama marah. Mama mau meneriaki kamu. Mama mau pukul kamu, tapi Mama sadar, apa dengan Mama melakukan semua itu, semua masalah akan beres? Tidak, Lun. Yang Mama lakukan sekarang adalah memperbaiki apa yang sudah salah. Memperbaiki akhlak kamu, Lun. Sekarang Mama minta, kamu putus dari Noah!"


Mata Luna terbelalak mendengar perintah dari Mamanya. "Putus? Nggak, Ma. Luna enggak bisa putus dari Noah. Luna sangat mencintai Noah, karena itu Luna mau menyerahkan mahkota Luna untuk Noah, Ma. Luna nggak bisa putus, Ma. Enggak mau!"

__ADS_1


"Cinta tidak seperti itu, Lun. Sama saja kamu seperti Mama. Bodoh. Demi cinta rela menyia-nyiakan diri sendiri." Wulandari menghirup nafas dalam. Ia terus berkata pada dirinya sendiri kalau ia akan memperbaiki semuanya, namun kenapa sesulit ini?


"Jadi, kamu maunya bagaimana sih, Lun? Mama suruh kalian menikah muda, kamu tak mau. Mama suruh putus, kamu juga tak mau. Apa mau kamu? Kamu mau terus pacaran dan berzina sampai kamu beneran hamil? Pernah mikir tidak sih Lun, apa yang kamu lakukan itu salah? Kamu tuh sudah besar, Lun. Pikirkan masa depan kamu! Kalau kamu masih ingin berpacaran dengan Noah, Mama yakin kalian akan terus melakukan hubungan yang tidak semestinya tersebut."


"Perasaan dan cinta kalian kini sudah berubah sekarang. Tak lagi pacaran khas anak remaja yang cinta-cinta monyet, melainkan sudah dilandasi oleh napsu untuk berbuat seperti itu, lagi dan lagi. Kamu lupa bagaimana Papa kamu begitu ketagihan berburu janda? Papa kamu sulit untuk berhenti karena hal seperti itu sudah menjadi candu untuknya. Kalau kamu terus melakukannya, kamu dan Noah akan semakin kecanduan dan berujung rusaknya masa depan kamu! Kamu mau terus-menerus hidup seperti ini? Kamu mau terus menerus berkubang dengan dosa?"


"Lun, yang setiap hari sholat lima waktu tepat waktu saja tidak jaminan bisa masuk surga, apalagi kamu yang terus menerus berkubang dalam zina dan berbuat dosa?" kata Wulandari dengan pedas. "Mama tak mau tahu. Kamu hanya cukup memilih, putus dengan Noah atau meminta Noah menikahi kamu!"


Luna terdiam. Meminta Noah menikahi Luna rasanya terlalu berlebihan di mata Luna. Dirinya tidak hamil. Noah belum tentu mau menikahinya. Kalau meminta putus, Luna tak siap kehilangan Noah.


"Aku tak bisa keduanya, Ma," jawab Luna pelan.


Wulandari tersenyum mendengar jawaban Luna. "Sudah Mama duga, Luna. Kita ini mirip satu sama lain. Sama-sama bodoh kalau masalah cinta. Kamu meminta Mama bercerai sementara kamu mau putus saja ragu. Sekarang kamu ada di posisi Mama, apa kamu mau menjadi seperti Mama juga? Pikirkan sendiri jawabannya, Mama mau berangkat bekerja!"


****

__ADS_1


__ADS_2