Toxic Love

Toxic Love
Lelaki Dewasa


__ADS_3

POV Luna


Sejujurnya aku marah mendengar apa yang dikatakan oleh Kak Azizah. Sayangnya, aku yang sudah lelah ini tak mau tersulut emosi. Hari sudah hampir pagi dan aku butuh tidur. Aku tak mau penghuni kostan ini mendengar keributan yang terjadi di antara kami berdua.


"Insya Allah tidak, Kak. Aku dan Mas Bahri punya niat baik dan insya Allah kami akan segera melangsungkan pernikahan. Doakan saja." Aku meninggalkan Kak Azizah dan pergi ke atas menuju kamarku. Aku tak peduli bagaimana ekspresi wajahnya saat mendengar berita yang aku sampaikan. Aku harus tegas terhadap orang seperti itu kalau tak mau mereka membuatku hidup dengan perasaan tak enak terus.


Aku merasa mengantuk karena hanya tidur beberapa jam saja. Aku berangkat ke kantor sendiri dan harus mengerjakan banyak laporan. Mas Bahri belum datang ke kantor sampai jam 10. Aku kasihan padanya. Aku mengirim pesan padanya saja tidak dibalas. Aku tak tahu dia tidur jam berapa. Pasti dia lelah sekali karena menemaniku dan harus bekerja lembur.


Rencananya hari ini aku akan menjenguk Ariel sepulang kerja namun aku ingat kalau aku punya janji untuk pulang bareng dengan Mas Bahri. Aku pun memutuskan untuk menunggu Mas Bahri di parkiran mobil. Aku mendengar percakapan yang terjadi di dalam tangga darurat saat menuju ke lantai basement. Kebetulan, lift sedang penuh, aku memutuskan untuk lewat tangga darurat saja.


Mas Bahri terdengar tegas menolak Kak Azizah. Tak lama Kak Azizah pun menangis lalu ada seseorang yang menghiburnya dan menawarinya minum. Aku menunggu sampai Kak Azizah dan laki-laki itu pergi baru melanjutkan langkahku ke parkiran mobil.

__ADS_1


Mendengar penolakan Mas Bahri terhadap Kak Azizah, aku semakin yakin untuk melanjutkan hubungan kami. Aku tak mau kehilangan lelaki baik seperti Mas Bahri. Semua yang aku idamkan ada dalam diri Mas Bahri apalagi yang akan aku cari?


"Dor! Melamun aja kamu?" Mas Bahri mengagetkanku yang melamun sambil berdiri di dekat mobilnya.


Aku terkejut dengan ulahnya. "Jahil ya kamu? Aku lama loh nungguin kamu. Ayo, kita pulang!" ajakku.


"Kok pulang sih? Kita 'kan mau menjenguk Ariel? Kamu lupa?" kata Mas Bahri mengingatkanku.


"Bukannya lupa, Mas. Aku cuma enggak enak aja sama kamu. Kamu kurang tidur dan pasti mengantuk bukan sehabis mengerjakan laporan? Kalau kamu menemani aku ke rumah sakit, bukankah waktu istirahat kamu malah berkurang ya?" tanyaku.


"Terserah Mas aja deh." Mas Bahri lalu mulai menjalankan mobilnya. Aku memilih menatap pemandangan di luar jendela karena perkataan Azizah kembali terngiang dalam benakku.

__ADS_1


Sebuah tepukan di tanganku membuatku tersadar dari lamunanku. "Tuh 'kan melamun lagi deh. Kenapa sih? Cerita dong sama aku."


"Mas, aku mendengar apa yang kamu bicarakan dengan Kak Azizah di tangga darurat tadi. "


"Lalu?"


"Kok Mas Bahri menanggapinya dengan santai begitu sih? Tadi Kak Azizah sampai menangis loh."


"Mau bagaimana lagi? Aku tak mungkin memaksakan perasaanku. Aku tak bisa membalas perasaannya. Aku hanya menyukai kamu. Kalau aku memberinya harapan terus, bukankah aku semakin menyakiti hatinya nanti? Tak apa dia menangis saat ini, waktu yang akan menyembuhkan rasa sakitnya, daripada ia terus berharap dan membuat dirinya semakin terluka pada akhirnya," kata Mas Bahri dengan tegas.


Ucapan Mas Bahri membuatku merasa sedikit tenang. Lagi-lagi Mas Bahri menyelesaikan masalah di sekitar kami. Beginilah rasanya kalau berpacaran dengan lelaki yang lebih dewasa. Aku cuma tinggal duduk manis dan lelaki itu yang menyelesaikannya. Aku menatap Mas Bahri yang terlihat tampan sekali sedang menyetir mobil.

__ADS_1


Tanpa aku sadari aku tiba-tiba bertanya padanya. "Mas, kapan kamu nikahi aku?"


****


__ADS_2