
POV Author
"Jujur saja, Ma, Luna memang sudah mengagumi Mas Bahri sejak lama. Rasa kecewa Luna terhadap Noah mulai hilang sejak Luna mengenal Mas Bahri. Ternyata, bukan sekali saja Mas Bahri pernah menolong Luna. Sebelum kami kenal lebih dekat, dia sudah beberapa kali menolong Luna tanpa Luna sadari,"
"Sikap Mas Bahri yang dulu menyayangi Luna membuat Luna merasa Mas Bahri itu terlalu baik untuk Luna. Luna tak menyangka saat Mas Bahri mengatakan kalau ia ingin menikahi Luna. Rasanya seperti mimpi. Ada orang baik yang ingin menikahi Luna yang sudah tidak sempurna ini,"
"Sebenarnya Luna merasa rendah hati, Ma, karena saingan Luna adalah Kak Azizah. Mama tahu sendiri bagaimana Kak Azizah bila dibandingkan dengan Luna. Sangat jauh lebih baik. Sikap Mas Bahri yang milih Luna bukan Kak Azizah itulah yang membuat Luna merasa kalau diri Luna ini masih berharga dan masih layak untuk bahagia karena selama ini Lina takut, Ma, karena kesalahan Luna di masa lalu,"
__ADS_1
"Luna juga takut untuk membina rumah tangga karena melihat Mama dan Papa yang tak bahagia. Mas Bahri yang meyakinkan Luna kalau rumah tangga kami akan bahagia. Mas Bahri juga yang meyakinkan Luna kalau dia akan menjadi laki-laki yang bertanggung jawab dan membahagiakan Luna. Hal itu yang membuat keraguan dalam diri Luna seakan menghilang,"
"Mas Bahri adalah lelaki yang baik. Luna tak tahu jika Luna menolak lelaki sebaik Mas Bahri belum tentu Luna akan mendapatkan yang lebih baik lagi. Daripada Luna kembali dengan Noah, lebih baik Luna menerima lamaran Mas Bahri. Luna mau hidup Luna mulai sekarang berada di jalan yang lurus,"
"Mas Bahri bisa menjadi imam yang baik untuk rumah tangga kami, Luna yakin itu. Luna dan Mas Bahri sama-sama punya masa lalu yang buruk, namun kami belajar dari masa lalu tersebut untuk menjadi lebih baik lagi. Kalau Mama memang merasa pernikahan kami terlalu cepat, Luna akan bilang sama Mas Bahri agar ia mau menunggu. Namun tak bisa terlalu lama ya, Ma. Luna setuju dengan pendapat Mas Bahri kalau berpacaran terlalu lama cuma menambah dosa saja," kata Luna menjelaskan panjang lebar.
"Mama percaya kok sama pilihan kamu. Kalau kamu sudah sangat yakin, Mama bisa apa? Niat kalian menikah itu baik untuk ibadah dan menjauhkan dari dosa. Mana mungkin Mama bisa menolaknya? Mama ikut saja apa yang menjadi keputusan kamu. Kalau masalah Papa, biar nanti Mama yang bilang sama Papa. Nanti kamu bawa saja Bahri menemui Mama. Mama mau bicara langsung dengan anak itu."
__ADS_1
Luna tersenyum senang mendengar dukungan dari sang Mama. Ia pun tersenyum lebar dan memeluk Kamanya. "Terima kasih, Ma. Aku udah duga kalau Mama pasti akan setuju. Doakan aku terus ya, Ma. Pokoknya setelah aku nikah dengan Mas Bahri, Mama harus tetap tinggal bareng sama aku. Aku enggak akan ninggalin Mama. Selamanya Mama harus ikut kemanapun aku pergi."
Wulandari tersenyum haru mendengar perkataan Luna. "Iya. Mama akan selalu bersama kamu. Cuma kamu yang Mama punya saat ini. Kita tidaj punya harta, kita tidak punya rumah, tidak punya mobil tapi kita punya rasa saling memiliki satu sama lain. Itu adalah hal yang mahal bagi Mama, belum tentu orang lain punya. Papa kamu saja yang punya rumah dan mobil, tidak punya kita berdua. Kita lebih beruntung, kamu adalah harta berharga bagi Mama. Terlepas dari masa lalu kamu yang kelam, Mama mau kamu tidak terus-menerus merendahkan diri kamu,"
"Bahri sudah membuat harga diri kamu kembali lagi. Bahri membuktikan kalau dia adalah laki-laki yang menerima kamu apa adanya. Dia begitu mencintai kamu dan menghormati kamu. Mama setuju dengan kamu, laki-laki seperti itu harus dipertahankan. Jarang loh ada laki-laki yang seperti itu. Mama tak sabar ingin bertemu dengannya. Jangan lupa ya bilang sama Bahri, Mama tunggu kedatangannya."
"Siap, Ma."
__ADS_1
****