
POV Luna
Aku mencuci wajahku di washtafel agar terlihat lebih segar. Aku lanjutkan dengan memakai skincare malam lalu memakai body cream ke seluruh tubuh. Perpaduan wangi bunga dan buah membuat tubuhku sangat wangi. Kusemprotkan parfum ke leherku dan beberapa bagian tubuh. Wangi parfum yang kupakai langsung menyatu dengan body cream.
Kubuka koper milikku lalu mengeluarkan sebuah baju tidur berbahan satin warna merah marun. Baju tidur bertali tipis yang menunjukkan dengan jelas lekuk tubuhku. Kini aku sudah terlihat seksi dan menggoda.
Aku menunggu Mas Bahri keluar kamar sambil duduk bersandar di header board tempat tidur. Kusetel musik romantis dari TV dan kunyalakan lilin aromaterapi yang disediakan pihak hotel. Aku sudah siap menyambut suamiku.
Tak lama suara pintu kamar mandi terdengar dibuka dari dalam. Mas Bahri keluar dengan mengenakan handuk putih yang melilit di pinggangnya. Aku terdiam dan terpesona melihat tubuh kekarnya dengan perutnya yang rata dan berotot. Wow, kenapa Mas Bahri menyembunyikannya selama ini? Kemana saja aku sampai tak tahu kalau Mas Bahri ternyata memiki tubuh seseksi itu?
Sama sepertiku, Mas Bahri juga terdiam di tempat sambil menatapku. Ia tersenyum dan berjalan pelan ke arahku. "Nakal ya! Suaminya baru keluar kamar mandi sudah digoda!"
Aku balas tersenyum. "Habisnya, suaminya terlalu sayang sih untuk dilewatkan," balasku.
"Makin nakal saja ya! Harus mendapat hukuman nih!" Mas Bahri semakin dekat denganku. Bisa kulihat perutnya yang datar dan otot kekarnya. Tanganku kalau tidak ditahan sudah ingin menyentuh saja.
"Jangan hukum aku, Mas. Aku takut ... takut ketagihan dengan hukuman kamu," balasku sambil tertawa menggoda.
"Ish, makin nakal saja. Sini! Mas hukum!" Mas Bahri duduk di tepi tempat tidur dan menepuk pahanya yang berselimut handuk. "Duduk di pangkuan Mas!"
__ADS_1
"Sekarang?" tanyaku pura-pura tak tahu.
"Iya, dong. Mau Mas tambah hukumannya?"
Aku bangkit dan duduk di pangkuan Mas Bahri. "Jangan dong, Mas. Aku takut."
"Takut apa?" Mas Bahri menatapku dengan lekat. Aku pun demikian. Aku menatap Mas Bahri yang begitu dekat denganku. Kalau aku tidak menahan diriku, aku pasti sudah menerjangnya.
Sabar Luna, sabar.
Walau gemas, aku harus sabar.
"Takut sama hukuman, Mas."
"Mas mau coba?" tawarku dengan nada menggoda.
"Mau dong, tentu saja," Mas Bahri memajukan tubuhnya dan mencium bibirku dengan lembut. Oh, aku suka sekali dengan ciumannya. Aku merasa diriku begitu dipuja. Kukalungkan tanganku di leher Mas Bahri dan membalas ciumannya.
Perlahan ciuman kami berubah memanas. Apalagi sejak tanganku yang tak sabaran membelai dadanya yang kekar, Mas Bahri semakin menciumku dengan hot. Aku suka. Suka sekali.
__ADS_1
Tangan Mas Bahri yang membelai wajahku lalu mulai turun ke leher dan akhirnya menurunkan tali baju tidurku. Mas Bahri melepaskan pagutan kami, ada rasa tak rela namun ternyata ia mau mengagumi aset milikku.
"Cantik sekali." Tangan Mas Bahri menyentuhnya dengan lembut, membuat tubuhku bak tersengat aliran listrik. Apalagi saat Mas Bahri mencicipinya, aku menyerah. Aku ingin Mas Bahri memilikiku seutuhnya. Kubiarkan Mas Bahri melakukan apapun yang ia inginkan.
Kami bergerak bersama, menikmati setiap kenikmatan demi kenikmatan yang terasa amat luar biasa. Kami menyatu, mendesaah bersama sampai kami mencapai puncak kepuasan bersama.
"Terima kasih, Sayangku." Mas Bahri mengecup keningku sebelum berbaring lelah di sampingku. Nafasnya terlihat naik turun bahkan keringatnya masih membasahi dadanya.
Aku masuk ke dalam pelukan Mas Bahri dan membisikkan sesuatu di telinganya. "Kamu hebat sekali, Mas. Tak perlu ya pakai obat kuat lagi!"
Mas Bahri kini menatapku sambil tersenyum penuh kemenangan. "Serius? Aku masih fit loh. Aku hanya mengumpulkan nafas sebentar sebelum menyerang kamu lagi."
"Uh ... mauuu," jawabku sambil tersenyum menggoda.
Mas Bahri mencubit hidungku dengan gemas. "Nakal ya kamu! Tunggu aku hukum kamu sampai berteriak-teriak lagi ya!"
"Jangan, Mas, jangan ragu-ragu!"
"Makin nakal nih ya, hukumannya dua kali! Tuh 'kan, sudah on lagi nih. Kamu sih menggoda aku terus. Ayo, siap-siap. Kali ini akan kubuat kamu kehabisan suaramu!"
__ADS_1
"Siap, ayuk!"
****