Toxic Love

Toxic Love
Pekerjaan Baru


__ADS_3

POV Luna


"Mama tak menyangka kalau ketakutan Mama selama ini ternyata tak berdasar. Mama terlalu takut untuk bercerai karena tak siap menghadapi keluarga besar Mama. Ternyata, saat bersama kamu Mama seperti mendapat kekuatan penuh. Kamu mendukung Mama dan membela Mama dengan sangat hebat. Terima kasih ya, Luna. Berkat kamu, Mama berani keluar dari zona tak nyaman," kata Mama.


Aku dan Mama sedang berbaring di atas tempat tidur kecil di kamar kosanku. Meski kini kami kembali berada di titik nol, tak memiliki apapun termasuk rumah untuk berlindung namun kami saling mendukung dan memberi semangat. Itu harta berharga yang kami miliki saat ini.


"Luna sudah berjanji sama Mama kalau Luna akan membela dan menemani Mama. Mama tak perlu khawatir, Luna akan berada di garda terdepan yang akan memperjuangkan kebahagiaan Mama!" Aku menghirup aroma tubuh Mama yang terasa hangat dan menenangkan. Mama mengusap punggungku dengan lembut, membuatku merasa nyaman dan tak lama aku pun tertidur lelap.


Keesokan pagi aku dan Mama memulai kembali aktivitas kami. Dimulai dari shalat subuh, memasak bersama lalu mempersiapkan bekal untuk Mama bawa kerja.


Tak mau terus menyusahkan Mama, aku sibuk mencari pekerjaan paruh waktu seperti mengajar les anak sekolah SD. Rupanya ada juga yang mau belajar denganku. Lumayan hasilnya untuk membeli perlengkapan wisuda.


Di malam hari aku dan Mama akan mengobrol sebelum tidur. Kami saling menceritakan apa saja kegiatan kami hari ini. Hal yang dulu tak pernah kami lakukan. Kini sedikit demi sedikit komunikasiku dengan Mama mulai aku perbaiki.


Papa yang masih belum terima diceraikan oleh Mama terkadang datang ke kosanku hanya untuk bertemu kami berdua. Karena sekarang Papa bukan mahrom Mama lagi, Mama tak bisa lebih lama menemuinya. Mama hanya berbicara sebentar lalu pamit ke kamar. Papa selalu meminta tolong padaku agar aku mau membujuk Mama untuk rujuk dengannya lagi. Aku tak pernah mengiyakan keinginan Papa. Aku lebih senang melihat Mama yang sekarang, lebih bahagia dengan hidupnya.


Meski tak punya rumah dan harus tinggal di satu kamar kostan kecil berdua, aku dan Mama malah lebih bahagia. Saat Mama gajian, Mama akan mengajak makan di luar bertiga dengan Rina. Sibuk menghabiskan waktu bersama Mama membuatku lupa dengan Noah. Aku sudah belajar ikhlas dan menerima kalau aku sudah salah langkah dan tak mau mengulanginya lagi. Noah beberapa kali mendekatiku namun selalu kutolak. Sebisa mungkin aku menjauh dan tak mau berbicara lagi dengannya.

__ADS_1


Semua berjalan lancar sampai aku berhasil menyelesaikan kuliahku dan wisuda tepat waktu. Mama sangat bangga padaku, di tengah keterbatasan kami, aku tetap fokus pada kuliahku dan nilai IPK-ku membuat Mama bangga. Aku tak mau berlama-lama menganggur dan hanya menumpang hidup pada Mama. Setelah mendapat surat keterangan lulus dan transkrip nilai, aku langsung melamar pekerjaan di beberapa tempat. Banyak yang menolakku karena aku fresh graduate. Mereka butuh yang berpengalaman agar tidak buang-buang waktu untuk mengajariku bekerja. Aku tak putus semangat, setiap hari aku selalu mengirim banyak lamaran pekerjaan, aku yakin dari sekian banyak surat lamaran yang aku kirimkan, pasti ada satu atau dua perusahaan yang melirikku.


Aku juga tak putus berdoa. Aku dan Mama selalu menunaikan shalat lima waktu dan rajin puasa senin kamis, karena hanya dengan berdoa kami merasa lebih dekat dengan Allah. Allah yang menolong kami agar bisa melewati segala rintangan dan ujian dalam hidup ini.


Rupanya Allah sangat baik padaku. Aku akhirnya dipanggil untuk bekerja di sebuah perusahaan yang tidak jauh dari tempat kostanku. Hanya memerlukan waktu setengah jam saja jika naik angkot. Perusahaan tersebut adalah salah satu perusahaan besar di mana aku ditempatkan di bagian Finance.


"Masa percobaan kamu selama 3 bulan, jika dalam 3 bulan kamu bekerja dengan baik dan benar, kamu bisa diangkat menjadi karyawan tetap. Kamu akan ditempatkan di bagian Finance menjadi salah satu staf di sana. Untuk pekerjaannya yang lebih rinci nanti akan dijelaskan langsung di bagian Finance ya," kata staff bagian HRD padaku.


Aku sangat senang bisa bekerja di perusahaan ini apalagi aku ditempatkan di bagian yang sesuai dengan jurusanku kuliah. Dengan diantar oleh staf HRD, aku pun pergi ke ruangan Finance. Di sana hanya ada 5 orang staff dengan manajer Finance yang kebetulan sedang meeting di luar. Aku lalu diperkenalkan dengan staff yang lain. Aku bersyukur karena teman-teman satu bagianku sangat baik.


Hari pertama bekerja aku belum bertemu dengan manajer financeku. Pekerjaan yang kukerjakan juga masih belum berat. Aku masih harus belajar mengenai sistem perusahaan dan hal-hal mendasar lainnya.


Keesokan harinya, aku datang ke kantor lebih pagi. Sebagai anak baru, aku belum berani berulah, lebih baik datang pagi daripada aku kesiangan.


"Selamat pagi!" sapa sebuah suara laki-laki yang amat aku kenal dengan nada riang.


Secara spontan aku berbalik badan dan terkejut melihat siapa yang datang. "Selamat pagi, Pak," jawab seluruh anggota timku dengan kompak.

__ADS_1


Mata kami lalu bertemu. Wow ... kenapa dunia ini begitu sempit? Dari sekian banyak perusahaan yang ada di muka bumi ini kenapa aku harus bertemu dengan dia? Yang lebih membuat aku tak sangka adalah ternyata dia adalah manajer di tempatku bekerja? Daebak!


"Pak, ini anak baru yang kemarin diantarkan oleh HRD, Pak." Salah seorang senior menghampiri manajer keuanganku dan memperkenalkan diriku. "Namanya Luna!"


"Oh.. kamu anak baru di sini ya? Perkenalkan, nama saya Bahri. Senang bertemu dengan kamu. Belajarlah yang benar, kalau ada yang tidak kamu mengerti kamu bisa tanya sama senior kamu atau dengan saya langsung." Bahri lalu berjalan menuju meja kerjanya dan bersikap seolah tidak mengenalku sama sekali.


Wow ... apakah ini karma untukku? Aku sempat berpikir kalau dia adalah orang aneh yang suka membuntutiku kemanapun aku berada. Sekarang, aku malah berpikir sebaliknya, kalau aku adalah orang yang suka membuntutinya di manapun dia berada.


Kenapa pula kami harus satu kantor? Gila. Dia pura-pura tidak kenal sama aku lagi. Aku harus bagaimana dong? Apakah aku juga pura-pura tidak mengenalnya saja?


Aku berusaha fokus dengan pekerjaanku namun rasa penasaranku begitu tinggi. Aku pun melirik ke arah meja kerja Bahri. Dalam barutan kemeja dan dasi yang dikenakan ia terlihat begitu tampan dan berwibawa. Apakah benar dia itu Bahri, tetangga sebelah kamar kostku dulu? Aduh kalau dia mengungkit tentang masa laluku dengan Noah bagaimana ya? Aduh kenapa sih aku harus bertemu lagi dengannya bahkan di tempat kerja ini?


"Luna! Kamu salah, nih! Perbaiki ya!" omel senior kerjaku yang ternyata lumayan bawel.


Tuh 'kan karena memikirkan Bahri, aku jadi tidak konsentrasi. "Baik Mas. Aku perbaiki dulu ya."


*****

__ADS_1


__ADS_2