Toxic Love

Toxic Love
Berhenti Meminta Maaf


__ADS_3

Note: Episode ini mengandung kadar baper yang tinggi. Baca pelan-pelan karena tak terasa sudah habis saja 😊


POV Author


Luna semakin merasa bersalah saja. "Maaf, Mas."


Bahri menyugar rambutnya dan mengusap wajahnya dengan kesal. Ia lalu menatap Luna dengan lekat. "Sudah berapa kali sih aku bilang, kamu tak perlu minta maaf terus. Kamu mau menolakku atau menerimaku, itu hak kamu."


"Maaf, Pak."


"Sekali lagi kamu minta maaf, maka aku akan melakukan hal yang kamu tak pernah duga!" ancam Bahri.


Luna menutup mulutnya. Ia menunduk dan tanpa terasa air matanya menetes. Bahri jadi merasa bersalah.


"Ja-jangan nangis. Come on, Luna. Aku tak ada maksud menyakiti kamu." Bahri mulai panik. Diambilnya tisu dan diusap air mata Luna. "Jangan nangis, oke?"


Luna mengangguk namun air matanya yang konyol terus saja menetes. Ia sendiri heran kenapa kalau di dekat Bahri, ia mudah sekali menangis. Air matanya terasa begitu mudah mengalir kalau ada Bahri. Entah kenapa bisa begitu.


Bahri berhenti mengusap air mata Luna. Jarak mereka begitu dekat. Bahri bisa melihat betapa cantiknya Luna. Matanya yang berbinar, hidungnya yang mancung dan bibirnya yang penuh dan seksi.

__ADS_1


"Maaf, Mas. Aku-"


Belum selesai Luna berkata Bahri memajukan tubuhnya dan mencium bibir Luna yang seksi. Luna terbelalak kaget saat ciuman lembut Bahri menyapu bibirnya.


Bahri membuang asal tisu yang dipegangnya lalu menyentuh pipi Luna yang halus. Ia tak melepaskan pagutannya. Bibir Luna yang seksi dan menggoda sudah lama ia ingin rasakan dan kini saat ia merasakannya rasanya ia tak mau lepas.


Sampai Bahri merasakan air mata Luna menetes kembali barulah ia melepas pagutannya. "Kenapa?" tanya Bahri dengan lembut.


Sorot mata Luna begitu sedih. "Mas ... menciumku karena merasa aku ... aku wanita yang begitu murah ya?"


Bahri sangat marah mendengar pertanyaan Luna. Sudah Bahri duga, apa yang dikatakan mantan kekasih Luna sudah membekas di hati wanita cantik yang kini berada di dekatnya.


"Sial!" maki Bahri.


Bahri kini menatap Luna lekat. "Apa kamu melihat aku ini sedang menatap kamu dengan tatapan merendah seperti itu?"


Luna menatap Bahri lalu menjawab pertanyaannya dengan menggelengkan kepalanya.


Bahri mendekati Luna dan mencium bibirnya lagi lalu melepaskannya. Bahri kembali bertanya pada Luna. "Apa ciumanku sama kamu karena aku berpikir kamu wanita murahan? Demi Tuhan Luna, aku mencium kamu ya karena aku suka kamu! Sudah lama aku mengancam kamu, kalau kamu minta maaf lagi, aku akan melakukan sesuatu. Aku mencium kamu karena ini hukumanku sama kamu yang selalu minta maaf. Aku mencium kamu ya karena bibir kamu menggoda untuk aku cium. Aku mencium kamu karena ... aku tak mau ada lelaki lain yang menciummu."

__ADS_1


Luna tak percaya dengan apa yang didengarnya. Seolah ciuman saja tak cukup membuatnya terkejut, Bahri malah menyatakan perasaannya di saat yang tak terduga.


"Aku ... tak pantas untuk Mas Bahri."


Bahri kembali memajukan dirinya dan mencium Luna. "Sudah aku bilang kalau kamu berkata seperti ini lagi, aku menciummu!"


"Mas, aku serius!" Luna merasa putus asa. Ia tak mau Bahri menyukainya. "Aku sudah tak suci lagi, aku-"


Bahri kembali memajukan bibirnya dan mencium Luna. Kali ini bahkan ia meluumat bibirnya cukup lama sebelum melepaskannya. "Terus saja kamu bicara begitu, aku yang untung. Atau ... kamu memang senang aku cium?"


"Mas, please. Aku serius. Masih banyak wanita lain yang lebih baik dariku. Aku sudah tidak berharga, Mas. Aku sudah-" Belum selesai Luna bicara, Bahri sudah memotongnya.


"Kalau begitu, ayo kita nikah!"


"Mas-"


"Aku serius. Ayo kita nikah agar kamu tahu betapa berharganya kamu di mata aku."


"Jangan, Mas. Jangan nikahi wanita kotor sepertiku." Tangis Luna semakin kencang. Bahri menarik Luna dalam pelukannya.

__ADS_1


"Kamu berharga, Luna. Kamu baik. Hati kamu lebih bersih dari wanita yang masih suci sekalipun. Itulah yang membuatku menyukaimu. Kamu yang membuat hatiku yang sudah mati rasa kembali mencair." Bahri mengusap lembut rambut Luna dan mengecupnya. "Aku juga tak sebaik yang kamu pikir. Masa laluku tak kalah kelam. Apakah mantan narapidana sepertiku layak mendapatkanmu?"


****


__ADS_2