Toxic Love

Toxic Love
Mama Sayang Padaku


__ADS_3

Luna


"Maaf jika Luna sudah banyak menyakiti hati Mama," kataku dengan suara bergetar.


Mama mendekatiku dan menghapus air mata di wajahku. Tangan Mama terasa hangat dan suara Mama terdengar lembut serta menenangkan di telingaku. "Justru Mama yang sudah banyak mengecewakan kamu, Lun. Mama terlalu banyak kekurangannya sebagai ibu kamu. Mama tak bisa memberikan kamu kehidupan yang layak seperti anak-anak lain. Mama juga tidak bisa memberikan kamu keluarga yang harmonis. Pertengkaran Mama dan Papa pasti sangat menyiksa kamu. Mama yang banyak salah sama kamu, Lun."


Aku yang salah, Ma. Aku malah sudah melakukan sesuatu yang melebihi batas. Argh ... rasanya aku mau mengaku dan membiarkan Mama memarahiku bahkan memukulku agar rasa bersalah ini hilang.


Mama mengusap rambutku dengan penuh kasih sayang. "Mama lihat kamu lebih bahagia sejak tinggal di kostan. Awalnya, Mama mau membujuk kamu untuk pulang, kayaknya tak perlu."


Mama lalu duduk dan menatap kosong ke arah pintu kamar yang kubiarkan terbuka. Angin dari kipas angin kecilku menerbangkan sedikit anak rambut Mama. "Kamu benar, Lun. Di sini lebih tenang. Tak ada suara pertengkaran Mama dan Papa. Tak ada tangis Mama. Tak ada suara barang pecah yang pada akhirnya kamu juga yang harus bereskan karena Mama sibuk menangis dan terlalu lelah dengan semua ini."


Aku menatap Mama yang terlihat tertekan dan sedih. Aku dan Mama sama-sama korban dari keadaan ini. Sama-sama tak berdaya untuk keluar dari zona merah Papa. Kini aku memberanikan diri meninggalkan zona tersebut, tentunya ada Noah yang mendukungku. Kalau tak ada Noah, aku mana berani melangkah?


"Mama memang egois ya, Lun. Mama memaksa kamu bertahan dan menemani Mama. Jujur saja, Mama terlalu takut kehilangan Papa kamu. Terlalu takut dengan pandangan orang dengan status Mama jika menjadi janda nanti. Melihat kamu hidup tenang seperti ini, Mama tak tega mengajak kamu menemani Mama lagi."


Mama kini menatap ke arahku sambil tersenyum pasrah. "Kamu tetap tinggal di kostan ini saja. Mama tak akan melarang kamu, Lun. Ingatlah untuk selalu menjaga diri dimana pun kamu berada. Masalah Papa, sudah kepalang tanggung. Papa toh sudah marah sama Mama. Biarkan saja. Mama hanya perlu lebih sering lembur agar bisa membiayai hidup kamu selama di kostan."


"Tak perlu, Ma. Luna akan mencari pekerjaan. Mama tak perlu lembur. Ingat kondisi kesehatan Mama. Mama tak lagi muda. Luna akan berusaha mencari pekerjaan sampingan. Kebetulan jadwal kuliah Luna sudah senggang, hanya perlu revisi skripsi saja dan beberapa mata kuliah. Luna tak mau menyusahkan Mama terus. Kalau Luna boleh mengajukan permintaan, Luna tetap mau Mama berpisah dari Papa. Pasti Mama tak mau bukan?" Aku tersenyum sinis. Pertanyaan yang tak perlu Mama jawab, aku sudah tahu jawabannya.


"Maafkan Mama, Lun. Mama belum siap."


"Baiklah, lakukan yang Mama suka. Kita jajan yuk, Ma. Bagaimana kalau kita ngerujak?" Tak mau merusak suasana pertemuanku dengan Mama, aku mengajak Mama membeli makanan di sekitar tempat kost. Kami membeli gado-gado dan rujak.


Saat hendak masuk ke kostan, kami berpapasan dengan Ariel. Anak itu berpenampilan rapi seakan baru pulang dari suatu tempat.


"Ariel? Kamu darimana?" sapa Mama.

__ADS_1


Ariel tersenyum dan salim dengan Mama. "Habis ada keperluan, Tante. Tante lagi main ke kostan Luna ya? Main ke kamarku juga yuk, Tante!" ajak Ariel.


"Boleh. Tante dan Luna habis membeli rujak dan gado-gado. Kita makan sama-sama ya!"


Aku dan Mama akhirnya pergi ke kamar Ariel. Nampak kamar Ariel agak berantakan dengan tumpukan baju miliknya. Cepat-cepat Ariel mengumpulkan baju tersebut lalu menaruhnya di keranjang baju. Aku melihat beberapa baju tanpa lengan dan agak seksi yang tak pernah aku lihat dikenakan Ariel sebelumnya.


"Maaf ya Tante, kamarku agak berantakan. Tugas kuliahku sedang banyak jadi aku belum sempat bereskan," kata Ariel.


"Tak apa, Riel. Rumah Tante juga berantakan sejak Luna pindah. Tante terlalu lelah untuk membereskan rumah. Hari ini mau Tante bereskan eh Tante malah pergi nengokin Luna. Memang ya kalau sudah rencana belum tentu terealisasi," jawab Mama sambil tersenyum kecil.


Kasihan Mama. Kalau ada aku, pasti rumah akan kubersihkan. Mama pasti lelah bekerja dan harus bereskan rumah di saat libur. Kapan Mama istirahatnya?


"Ayo kita ngerujak sambil mengobrol. Tak masalah jika berantakan. Tante senang loh kalian tinggal satu kostan bareng," ajak Mama.


Kami bertiga pun mengobrol bareng. Membahas segala macam hal. Sambil mengobrol, aku mengamati isi kamar Ariel. Ternyata lumayan lengkap. Ada TV android yang terpasang di dinding, lemari es kecil, dispenser dan sebuah laptop yang ia taruh di atas meja kecil.


Seingatku Ariel pernah cerita kalau untuk menyekolahkannya sampai kuliah, kedua orang tuanya sampai berhutang di sana sini. Bagaimana Ariel bisa mendapatkan semua barang-barang yang nilainya lumayan mahal ini?


Aku jarang sekali main ke kostan Ariel. Pulang kuliah aku biasanya langsung pulang ke rumah karena pekerjaan rumah sudah menunggu. Seingatku, dulu barang-barang miliknya hanya sedikit. Kenapa sekarang jadi banyak?


Setelah puas mengobrol, Mama mengajakku kembali ke kamarku. Hanya sebentar Mama di kamarku lalu Mama pamit pulang. Aku membawakan cemilan yang Noah kirimkan padaku untuk Mama bawa pulang. Aku juga mengantar Mama sampai ojek online yang dipesannya datang. Kupeluk tubuh Mama dengan hangat sebelum wanita yang melahirkanku itu pergi dengan senyum di wajahnya.


Kamarku kini banyak makanan. Ada buah segar, ayam ungkep di lemari es yang siap digoreng, susu bubuk kesukaanku, vitamin dan yang lain. Mama sangat perhatian padaku.


Aku bertekad akan menyelesaikan kuliahku secepat mungkin. Aku mau membantu Mama mencari uang. Aku mau Mama istirahat di rumah, biar aku yang akan membiayainya nanti.


Aku pun membuka laptop milikku dan mulai menyelesaikan skripsiku. Semangat membara dalam diriku harus dimanfaatkan sebelum rasa malas datang.

__ADS_1


🤍🤍🤍


Hari ini aku tak ada jadwal kuliah. Semangatku masih membara jadi kuputuskan untuk mencari bahan skripsi di perpustakaan saja. Aku tak mau kebanyakan membuang waktuku yang berharga ini.


Aku asyik sendiri di perpustakaan. Noah mengirimkan pesan menanyakan keberadaanku. Aku katakan kalau aku berada di perpus.


Tak lama Noah datang dan duduk di sampingku. Ia mengenakan jaket hoodie warna hitam. "Sayang, ke kostan kamu yuk!" ajak Noah.


"Mau ngapain? Kamu tidak lihat kalau aku sibuk mencari bahan untuk skripsi?" tanyaku balik.


"Mau lihat kamu pakai dress seksi yang baru kamu beli. Boleh 'kan?" rayu Noah.


Aku menghela nafas dalam. Baru saja aku berjanji pada diriku sendiri, tak mau mengecewakan Mama, eh cobaan datang lagi.


"Aku lagi sibuk, Sayang. Jangan sekarang ya. Nanti saja aku fotoin," jawabku.


"Yah ... melihat langsung itu beda rasanya dengan difotoin. Kalau foto hanya bisa dipandang, kalau lihat langsung 'kan aku bisa pegang. Mau ya, please ...." pinta Noah.


"Aku lagi konsentrasi sih. Jangan ganggu aku dulu," tolakku lagi.


Noah memanyunkan bibirnya. Kecewa dengan penolakanku berkali-kali hari ini. "Padahal pengen banget. Kamu cinta enggak sih sama aku?"


"Ya ... cinta dong, Sayang," jawabku dengan lembut. Aku tak mau Noah marah nanti padaku.


"Kalau cinta kenapa nolak aku?"


****

__ADS_1


__ADS_2