
POV Luna
"Luna, kamu bawa makan siang tidak?" tanya Bu Sari, seniorku.
"Bawa, Bu," jawabku jujur.
Dalam rangka menghemat uang karena aku belum gajian, aku selalu membawa bekal. Mama kasihan harus double pengeluaran karena aku mulai bekerja. Banyak pengeluaran dadakan yanh harus dikeluarkan, saat diterima bekerja aku harus membeli kemeja, rok, celana bahan dan sepatu pantofel. Tabungan Mama sudah terkuras untuk membayar jasa pengacara saat mengajukan gugatan cerai dulu, itulah mengapa kami benar-benar harus hemat dan hidup prihatin.
"Ikut saja yuk ke kantin, bawa bekal kamu dan ikut kita makan. Kamu bisa jajan es campur, enak loh es campurnya. Ada jus juga. Yuk ikut yuk!" bujuk Bu Sari.
Aku agak ragu menerima tawaran Bu Sari, tak kuterima ajakannya, aku tak enak hati karena terkesan sombong. Diterima aku malu. Sifatku yang tertutup membuatku sulit berada di tempat yang banyak orang.
"I-iya, Bu." Akhirnya aku mengiyakan ajakan Bu Sari dengan terpaksa.
Aku bersama Bu Sari dan teman-teman satu bagianku makan siang di kantin, kecuali Mas Bahri yang sedang keluar kantor. Kurasakan banyak pasang mata yang melihat ke arah kami, lebih tepatnya ke arahku.
Aku terus menunduk dan menunggu di tempat. Aku tak memesan makanan hanya jus alpukat saja. Kurasakan makin banyak sorot mata yang melihat ke arahku. Kenapa ya? Apa aku salah kostum? Atau kemejaku terlihat norak?
"Lun, kamu dapat salam dari Mas Andri, bagian purchasing."
"Lun, kamu ditanyain tuh sama Pak Heru, bagian marketing."
"Lun, aku disuruh tanya sama Mas Ridwan bagian umum, kamu sudah punya pacar atau belum?"
Satu per satu teman-temanku yang datang sehabis memesan makanan menyampaikan apa yang mereka dengar padaku. Aku jadi bingung dan malu. Ternyata benar, banyak pasang mata yang melihat ke arahku namun penuh maksud dan tujuan.
"Cie ... Luna banyak fansnya loh!" goda Bu Sari disambut riuh teman-temanku yang lain.
Aku hanya menunduk malu sambil tersenyum. Mereka masih menggodaku sampai selesai makan dan kami kembali ke dalam ruangan. Mas Bahri sudah kembali dan duduk di tempatnya.
"Jadi kamu pilih siapa, Lun? Mas Andri, Pak Heru atau Mas Ridwan? Gila ya kamu, Lun, baru sekali ke kantin saja sudah 3 orang yang nanyain kamu. Oh iya, kamu belum lihat anak baru ya namanya Mas Azka. Ganteng juga loh, Lun. Kalau dia melihat kamu bisa naksir juga mungkin sama kamu, Lun," ledek salah seorang rekan satu bagianku yang diikuti tawa yang lain.
__ADS_1
"Sudah ah, Mbak, aku malu." Aku melirik sekilas ke arah tempat duduk Mas Bahri, nampak ia sedang menatap ke arahku. Sesaat mata kami bertemu sebelum aku kembali menunduk karena malu.
"Pak, anak baru di ruangan kita jadi idola baru kantor ini loh," lapor Bu Sari pada Mas Bahri.
"Oh ya? Kalau begitu, besok Luna makan di ruangan saja. Biar tak ada yang menggodanya," jawab Mas Bahri.
"Betul juga tuh, Pak. Kita sembunyikan Luna, jangan sampai Luna tenar sendirian."
Aku beranikan diri mengangkat kepalaku dan melihat Mas Bahri masih menatap ke arahku. Tatapannya tak bisa kudefinisikan apa artinya.
****
Keesokan harinya, aku kedatangan tamu tak terduga. Pak Heru dari bagian marketing datang. Mulai deh teman-teman di ruangan menggodaku.
"Lun, ada yang mencari kamu tuh," goda Bu Sari.
"Bukan, Bu. Saya mau bertemu Pak Bahri, ya ... ketemu Luna anggap saja bonus," jawab Pak Heru seraya mendekat ke meja Mas Bahri yang terlihat dingin.
"Mau reimburse untuk biaya pameran minggu kemarin, Pak." Pak Heru memberikan map pada Mas Bahri.
"Oke. Nanti saya lihat dulu. Ditinggal saja, lain kali bisa suruh OB untuk datang," kata Mas Bahri dengan nada kurang suka.
"Baik, permisi, Pak."
Aku melirik ke arah Mas Bahri dan lagi-lagi tatapan kami beradu. Aku seperti orang yang kedapatan mencuri saja. Kenapa ya Mas Bahri melihat ke arahku terus? Apa aku berbuat salah?
****
Di kamar kostanku
"Bagaimana Lun di kantor baru? Betah?" tanya Rina yang belum mendapat pekerjaan sejak wisuda. Alhamdulillah aku lebih beruntung karena langsung mendapat pekerjaan yang lumayan enak.
__ADS_1
"Betah. Mas Bahri baik sebagai atasan. Teman-teman seruanganku juga ramah." Aku memakaikan masker ke wajah Rina. Beginilah kami kalau sedang berdua. Kadang rujakan, kadang maskeran dan tak jarang main congklak.
"Syukurlah. Kamu beruntung bisa satu kantor dengan Kak Bahri. Andai aku diterima di perusahaan tempat kalian bekerja, pasti akan tambah seru. Sayang aku tak lolos seleksi. Kamu sih enak, cantik dan pintar, wajar kalau mudah mencari pekerjaan. Aku? Standar. Pintar juga standar. Kapan ya aku dapat pekerjaan?" keluh Rina.
"Jangan patah semangat, Na. Terus berjuang. Kamu punya kelebihan kamu sendiri kok. Semangat!" kataku menyemangati Rina.
Sedang asyik mengobrol, salah seorang teman satu kost mengetuk pintu kamarku. "Kak Luna, ada yang mencari."
Aku pergi ke bawah dan mendapati Papa sedang duduk di teras rumah. Aku memaksakan senyum di wajahku dan salim sebagai wujud hormatku pada Papa.
"Mau minum apa, Pa?" tanyaku. "Dingin atau panas?"
"Tak perlu, Lun. Papa mau bicara sama kamu."
Aku duduk di kursi dekat Papa. "Ada apa Papa mencariku? Jangan katakan Papa mau aku membujuk Mama agar mau rujuk lagi dengan Papa. Jawabanku tetap sama, aku tak mau," kataku dengan dingin.
"Sebenarnya memang itu tujuan Papa dan Papa tahu kamu akan menolak permintaan Papa. Papa ke sini karena kangen sama kamu, Lun. Kamu katanya sudah bekerja ya? Hebat, Papa bangga sama kamu!" puji Papa.
Aku menatap Papa dengan tatapan heran. Tak biasanya Papa memujiku. "Iya, alhamdulillah."
"Kamu ... kapan menginap di rumah, Lun? Papa sudah membeli TV baru yang lebih besar. Sekali-kali, menginap yuk Lun, di rumah. Nanti kita nonton TV dan pesan makanan di restoran kesukaan kamu. Ajak Mamamu sekalian. Kita makan di luar," kata Papa penuh harap.
Dulu, memang itu kebiasaan kami. Nonton TV bersama dan dilanjutkan dengan makan di luar. Sungguh kegiatan weekend yang hangat dan membahagiakan Sayang semua itu hanya tinggal kenangan. Hancur bersama sikap Papa yang mulai melupakan aku dan Mama demi kebahagiaannya sendiri.
"Papa ... kesepian di rumah sendirian, Lun." Papa menuduk dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.
"Kalau kesepian kenapa tidak nikah lagi, Pa? Nikah saja, sekarang Papa bebas mau nikah dengan siapapun. Papa bisa berkeluarga lagi. Bukankah ini yang Papa mau?" kataku dengan pedas.
Aku melirik ke arah Papa yang terlihat menghapus air mata di sudut matanya. Sepertinya kata-kataku agak keterlaluan namun sikap Papa terhadap Mama lebih keterlaluan lagi.
"Ternyata ... bukan ini yang Papa inginkan, Lun. Papa malah berakhir kesepian tanpa kalian berdua. Memang Papa bodoh ya, Lun. Menyia-nyiakan kalian berdua yang seharusnya Papa syukuri. Apa Papa tak punya kesempatan kedua, Lun? Papa mau memperbaiki semua kesalahan Papa sama kalian. Maafin Papa, Lun. Kamu mau maafin Papa?"
__ADS_1
****