
POV Bahri
Luna. Anak kuliahan yang kost di samping kamarku. Aku tahu darimana? Ya tentu saja dari dirinya.
Sejak anak itu tinggal di samping kostanku, aku sering mendengar suara berisiknya. Saat mataku begitu mengantuk dan ingin tidur eh dia tiba-tiba bernyanyi lagu yang sudah terkenal lalu di edit sendiri liriknya sesuka hati.
"Bebas ... lepas ... Luna sudah bebas dari Papa dan Mama ... Melayang Luna melayang jauh. Jauh dari Papa yang gokil."
"Wulan ... si polos anak Kakek Yono dan si Tedjo ... bapak-bapak tukang doyang janda. Berdua lalu menikah dan lahirlah Luna ... hingga kini beranjak gede. Hilang Tedjo yang dulu baik, lembut, ramah dan kebapakan. Berganti Tedjo yang centil dan pelit serta doyan janda. Wulan menangis ...."
Aku geleng-geleng kepala setiap mendengar lagunya. Dasar anak aneh! Tak tahukah dia kalau di samping kamarnya ada aku?
Ya ... memang sih aku lebih sering mengurung diri di kamar dibanding keluar. Mau bagaimana lagi? Pekerjaanku menumpuk. Pak Rezvan bahkan menyuruhku WFH (Work From Home) agar pekerjaanku cepat selesai dan urusan kantor dipegang sementara oleh Bu Sari.
__ADS_1
Hari ini aku mendengar suara-suara aneh. Suara mendesaaah bercampur menahan rasa sakit. Apa yang terjadi dengan penghuni sebelah kamarku? Jangan-jangan dia ....
Ketakutanku tak beralasan karena tak lama kemudian suara laki-laki yang menyebut nama Luna berbaur dengan suara Luna yang sakit-sakit nikmat. Aku langsung menyimpulkan kalau mereka sedang ehem ehem di kamar sebelah. Gila ya, masih kuliah sudah kayak begitu! Eh, Kak Dewi juga dulu begitu deh. Kok mereka mudah sekali sih menyerahkan diri pada laki-laki? Bodoh!
Aku berusaha konsentrasi dengan pekerjaanku. Mereka tak lagi bersuara. Aku bisa kembali begadang mengerjakan pekerjaanku.
Saat pekerjaanku selesai, kudengar suara pintu dibuka. Aku jadi penasaran seperti apa sih wajahnya Si Luna yang begitu mudahnya menyerahkan mahkotanya pada kekasihnya?
Aku lalu mengintip dan terkejut. Ternyata Luna itu cantik, mirip artis Ariel Tantrum. Wah, kenapa mau ya dia berkorban demi kekasihnya? Luna berbalik badan seakan menyadari ada yang mengintipnya. Cepat-cepat aku sembunyi, jangan sampai dia tahu.
Aku lalu ditugaskan ke Bandung oleh Pak Rezvan. Ada proyek yang diminta Pak Rezvan untuk aku pantau langsung karena beliau sedang berada di Bali. Oke, aku kerjakan. Lumayan hotelnya bagus dan aku butuh udara segar karena kebanyakan mengurung diri di kamar kost.
Tak kusangka ternyata aku bertemu lagi dengan Luna dan kekasihnya. Ya ampun, dunia sempit sekali sih? Aku berusaha menghindari mereka dan fokus dengan pekerjaanku. Sayangnya di malam hari aku lapar, terpaksa aku keluar untuk mencari makan.
__ADS_1
Lagi-lagi aku bertemu Luna. Ada beberapa anak muda yang melihat ke arahnya sambil berbisik, seakan ada niat tersembunyi. Kursi di depannya kosong. Aku bersikap sok kenal dan meminta ijin untuk duduk di depannya. Ia mengijinkan.
Untuk pertama kalinya aku melihat Luna dari jarak yang sangat dekat. Anak ini beneran cantik, sayang agak bodoh. Ah, bicara bodoh aku jadi teringat dengan Baby, cinta pertamaku. Baby juga bodoh karena mau saja mengejar-ngejar lelaki yang tak mencintainya bahkan sampai melamarnya pula!
Tidak, Baby bukan Luna! Baby menyerahkan mahkotanya setelah menikah dengan Zaky. Luna jauh lebih bodoh dari Baby!
Aku cepat-cepat menyelesaikan makanku lalu membayari makanan miliknya agar anak muda yang sedang nongkrong di dekat warung seblak tidak menggodanya karena berpikir kami sepasang kekasih. Aku sendiri tak tahu kenapa aku melakukan hal ini. Mungkin karena ku pikir dia lebih bodoh daripada Baby?
Lagi-lagi aku bertemu dengannya saat sarapan. Kenapa aku jadi sering bertemu dengannya ya? Aku acukan saja dia sambil berpura-pura bekerja. Ternyata dia duluan yang datang hampiriku dan mengucapkan terima kasih karena semalam aku sudah membayar makanannya.
Kulirik kekasihnya yang menatap kami dengan tatapan tajam. Kasihan kalau nanti mereka jadi bertengkar karena dia berterima kasih padaku. Aku pun beralasan kalau aku membayarinya karena tak punya uang kembalian. Luna terlihat kesal dan kecewa mendengar jawabanku. Biarlah, aku tak mau berurusan dengannya. Pekerjaanku lebih penting.
****
__ADS_1
Note: Lanjut part 2. Double Up 😁