
POV Author
Luna begitu terpukau melihat kecantikan Baby. Pantas saja Bahri tak bisa cepat move on, ternyata emang benar kalau baby itu cantik sekali.
"Kamu yang sombong, udah enggak pernah memantau bisnis lagi dan sibuk jadi ibu rumah tangga," sindir Bahri sambil tersenyum ramah.
Bahri lalu berdiri dan menyalami suami Baby. Terlihat sekali mereka begitu akrab bagaikan keluarga. Luna tak menyangka Bahri terlihat baik-baik saja di depan dua pasangan super ideal tersebut padahal sebenarnya hatinya sulit untuk move on. Wajar sih, Baby sangat cantik. Pasti Bahri sangat menyukai kecantikannya tersebut.
Luna jadi merasa rendah diri. Ia tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan Baby namun cara Bahri memperkenalkan dirinya kemudian membuat rasa percaya dirinya perlahan bertambah.
"Kenalin, ini Luna, pacar aku!" kata Bahri dengan bangganya.
"Cie ... sekarang udah punya pacar nih? Sombong banget?" ledek Baby lagi. Baby lalu menghampiri Luna dan mengulurkan tangannya. "Kenalin, aku Carmen. Biasa dipanggil Baby.
Luna membalas uluran tangan Baby sambil tersenyum. "Aku Luna."
"Cantik banget, pantes Bahri sampai tergoda. Kamu mirip artis tau. Selera Bahri banget," puji Baby dengan santai.
__ADS_1
"Udah deh, jangan digodain terus anak orang. Kalian berdua aja? Anak-anak mana?" tanya Bahri sambil memberikan dua buah kursi plastik kepada Baby dan Zaky untuk duduk.
"Udah tidur. Udah malam nih. Kamu sendiri habis dari mana? Udah malam belum pulang malah jajan nasi goreng!" sindir Baby.
"Habis dari rumah Ibu dan sekarang mau pulang," jawab Bahri dengan jujur.
"Kayaknya hubungannya makin serius nih, udah dikenalin ke orang tua kamu segala lagi? Beneran? Aku senang loh kalau sampai benar."
"Ya ... begitulah. Aku enggak mau kelamaan pacaran. Cuma nambah dosa. Maunya langsung nikah aja, biar langsung nyusul kamu!" balas Bahri membuat Baby kembali tersenyum.
"Iya susul aja. Pokoknya, undang aku loh di acara nikahan kalian! Kalau kamu enggak mau ngundang, aku bilangin Kak Dewi. Biar Kak Dewi yang ngundang aku!" ancam Baby.
Baby melirik kemesraan yang ditampilkan oleh Bahri. Dalam hati Baby sangat senang karena akhirnya Bahri bisa move on darinya. "Iya, aku doakan. Aku juga pengen lihat kamu bahagia. Kamu orang baik, kamu berhak mendapatkan jodoh yang terbaik. "
Saat melihat kedekatan hubungan antara Bahri dan Baby, dalam hati Luna tak nampak kecemburuan. Keduanya nampak saling mendukung, tidak seperti hubungan Luna dengan Noah yang berakhir buruk.
Baby pamit setelah pesanannya matang. Ia menyalami Luna dan berpesan pada Bahri agar secepatnya meresmikan hubungan Bahri dan Luna. Luna kini mengerti kenapa Bahri gagal move on dari Baby. Cantik, baik dan ramah. Saingan yang berat untuk Luna.
__ADS_1
Setelah pesanan mereka tiba, Bahri mengajak Luna pulang. Sudah malam, besok mereka harus kembali bekerja. Bahri mengantar Luna sampai depan pintu kostan lalu pamit pulang.
Mama Luna sudah pulang dan agak aneh melihat Luna pulang malam. "Tumben kamu pulang malam, Lun. Habis darimana? Lembur?"
"Bukan lembur, Ma, tapi Luna habis dari rumah keluarganya Mas Bahri," jawab Luna jujur.
"Dari rumah keluarga Bahri? Memang ada acara? Kok Rina tidak ikut?" tanya Mama Luna lagi.
Luna mencuci mukanya lalu duduk di samping Mamanya yang sudah mandi. Harum sekali. Luna suka saat di dekat Mama. "Tidak ada acara, Ma. Kami pergi sepulang dari kantor."
"Kalau tak ada acara, untuk apa kamu ke rumah keluarganya Bahri? Memangnya kalian pacaran?"
Luna menatap Mamanya dengan tatapan serius. "Sebelumnya memang tidak pacaran, namun Mas Bahri memperkenalkanku ke kedua orang tuanya lalu ... mengajakku menikah."
"Apa? Menikah? Secepat ini? Jangan bilang kalau kamu ...." Mama menatap perut rata Luna.
"Ma, please. Mas Bahri tak sejahat itu. Mas Bahri lelaki yang bertanggung jawab dan baik. Mas Bahri justru mengajak Luna untuk menikah karena tak mau kami berpacaran terlalu lama. Mas Bahri bilang, pacaran hanya menambah dosa saja. Secepatnya Mas Bahri akan bicara langsung sama Mama. Bagaimana pendapat Mama?"
__ADS_1
****