
POV Luna
"Masih sakit tidak Lun? Mau duduk di depan saja agar kamu bisa meluruskan kaki kamu?" tanya Mas Bahri saat kami bersiap untuk pulang ke Jakarta.
"Tak apa, Mas. Sudah tidak begitu sakit lagi. Aku di belakang saja sama Rina," tolakku dengan halus.
"Bilang ya kalau sakit," kata Mas Bahri lagi.
Aku mengangguk sambil tersenyum. "Iya."
Kami pun pamit pada kedua orang tua Rina. "Maafin Luna ya Pak, Bu. Luna malah merepotkan Bapak dan Ibu," kataku dengan sungguh-sungguh.
"Jangan berkata begitu, Neng. Musibah tak ada yang tahu. Kita malah senang ada teman Rina yang datang," jawab Bapaknya Rina.
"Iya, jangan bilang begitu ah. Lain kali mampir lagi ya, Neng Luna. Nanti Ibu buatkan teh poci dan singkong rebus yang baru dicabut langsung dari pohonnya!!" tambah Ibunya Rina.
"Pantas enak ya, Bu? Iya, insya Allah aku akan main lagi." Aku tersenyum dengan tulus pada kedua pemilik kostanku yang sebenarnya.
__ADS_1
Kami pun berangkat ke Jakarta. Rina selalu duduk di dekatku. Kami begitu akrab. Beginilah sahabat yang sebenarnya, bukan sahabat yang malah menikung kekasih sahabatnya sendiri.
"Mau request lagu apa? Dangdut, pop atau lagu kosidahan?" tanya Mas Bahri mencairkan suasana.
"Luna mau dangdut," jawab Rina cepat.
"Ish siapa yang bilang? Bukannya kamu mau lagu kosidahan?" balasku.
Kami berdua tertawa dan saling mengelitiki. Mas Bahri terlihat ikut tersenyum sambil melirik dari kaca spion. Beruntungnya aku mengenal Rina. Aku bisa menjadi diriku sendiri dan hidupku lebih baik semenjak mengenal Rina.
Lelah becanda dan tertawa, kami saling bersandar dan menatap jalan toll yang membosankan. Kiri dan kanan kami sawah. Sesekali kami bernyanyi mengikuti musik yang mengalun. Lama kelamaan kami terdiam dan ketiduran.
"Mereka berdua lucu. Akrab sekali. Memang cocok menjadi sahabat," kata Mas Bahri.
"Ya ... semoga saja Luna tidak membawa pengaruh kurang baik untuk Rina," kata Kak Azizah agak pedas.
"Pengaruh buruk bagaimana?" tanya Mas Bahri.
__ADS_1
"Kamu lupa bagaimana Papanya begitu bersemangat mencarikan putrinya kostan yang baru? Kenapa coba? Pasti putrinya berbuat sesuatu bukan? Kalau bukan kamu yang meminta, aku sebenarnya tak mau menawarkan kostanku. Ternyata dia malah dekat dengan Rina. Aku semakin takut dia akan membawa pengaruh buruk untuk Rina," kata Kak Azizah dengan pedas.
Ya Allah, aku tak tahu kalau Kak Azizah segitu tidak menyukaiku. Apa salahku coba? Apa dia tahu apa yang sudah kualami? Kenapa menuduhku begitu?
"Kamu jangan berkata begitu. Setiap orang punya masalahnya sendiri. Jangan menilai sesuatu yang kamu tak tahu sendiri kebenarannya. Luna tidak seburuk yang kamu pikir kok. Dia anak baik. Wajar kalau Rina senang berteman dengannya," kata Mas Bahri membelaku.
"Kamu tuh terlalu baik jadi orang. Awas dimanfaatkan. Kamu tidak tahu bukan, di hari pertama dia kost saja sudah tidak pulang ke rumah. Alasannya mau pulang ke rumah orang tuanya. Jujur aku tak percaya dengan alasannya. Sekarang malah tinggal berdua Mamanya di kostan. Kalau bukan bujukan Rina, aku tidak setuju. Mamanya saja pulang malam terus. Kerja apa coba?" Perkataan Kak Azizah semakin membuat hatiku sakit. Aku ingin menangis rasanya namun aku tahan. Aku tak mau mereka tahu kalau aku mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Belajarlah berbaik sangka sama orang lain, Zah. Kita tak tahu masalah mereka apa. Aku enggak suka kalau kamu berpikir jelek begitu. Aku memang belum kenal lama dengan dia, hanya teman kamar sebelah kostku dan kebetulan sekarang menjadi anak buahku. Dia baik kok. Pekerjaannya juga rapi dan rajin. Istighfar kamu. Aku tak mau mendengar kamu berkata seperti itu lagi!" tegur Mas Bahri.
"Tuh, kamu selalu saja membela dia. Kenapa? Kamu suka sama dia? Kamu sudah move on dari Carmen? Yakin?" tanya Kak Azizah.
Carmen? Itukah gadis yang membuat Mas Bahri gagal move on? Siapa Carmen?
"Jangan bahas lagi," kata Mas Bahri dengan kesal.
"Aku lebih suka kamu belum move on dari Carmen dan menolakku, dibanding kamu akhirnya move on dan memilih dia. Aku enggak suka. Maaf, aku bukan orang yang bisa menyembunyikan rasa ketidaksukaanku pada orang lain. Kalau bukan karena Rina, aku juga tak mau mengajaknya ke rumahku," kata Kak Azizah semakin pedas saja.
__ADS_1
Kurasakan tanganku digenggam. Apa Rina juga mendengar percakapan mereka sama sepertiku?
****