Toxic Love

Toxic Love
Orang Baik


__ADS_3

POV Luna


Brakk!


Mataku membola saat melihat iga bakar yang aku bawa terjatuh dan isinya tumpah semua. Sia-sia aku menahan lapar di kantor agar bisa memakan iga bakar bersama Mama, ternyata malah terbuang begitu saja. Setetes air mata jatuh membasahi pipiku.


Lelah sekali rasanya hari ini. Aku capek, aku mau menangis, aku ingin marah dan aku ingin teriak. Rencanaku makan malam dengan iga bakar yang lezat, gagal karena sikap Noah yang memaksaku untuk kembali padanya.


"Kenapa sih kamu terus saja mengganggu hidupku? Kenapa sih kamu begitu keras kepala dan menginginkan aku untuk kembali padamu? Antara kita sudah tidak ada apa-apa. Sudah putus. Kamu yang menghianatiku. Kamu yang menjahatiku. Sekarang, di saat aku ingin memulai hidupku yang baru dan tenang dengan lingkungan yang baru, kamu malah mengganggunya." Aku meluapkan amarahku yang selama ini kupendam pada Noah.


Noah terkejut melihatku yang biasanya penurut kini terbakar emosi. Kutenangkan diriku. Kuhapus air mata yang berderai turun di wajahku. "Mau kamu apa? Kamu mau kita balikan? Aku tidak mau. Aku tak mau berpacaran yang malah membuat aku jatuh ke dalam lubang dosa. Aku sudah taubat. Apa yang kita lakukan di masa lalu itu salah. Aku mau memulai hidupku yang baru. Aku mohon ... aku mohon jangan ganggu aku lagi. Lupakan aku. Biarkan aku hidup tenang," kataku sambil mengatupkan kedua tanganku.


"Aku tak bisa kehilangan kamu, Lun. Aku cinta sama kamu. Aku enggak bisa melepas kamu. Aku sangat sayang sama kamu." Noah berusaha memelukku namun segera aku tepis tangannya. Rasanya tubuhku begitu jijik saat Noah menyentuhnya. Bayangan Noah berhubungan dengan Ariel kembali melintas dalam benakku. Bagaimana peluh mereka menyatu dengan suara desahaaan yang menjijikkan. Membangkitkan kembali rasa sakit yang telah susah payah kukubur.


"Kamu tidak mencintaiku, Noah. Kamu tak pernah sayang sama aku. Apa yang kamu lakukan terhadapku ini adalah sebuah obsesi, kamu merasa aku tidak bisa dimiliki dan kamu semakin penasaran. Kamu tak pernah benar-benar mencintaiku, Noah. Sadarlah! Bukan cinta ini namanya. Demi Tuhan Noah, berhentilah mengejarku!" kataku sambil berurai air mata.


Aku menghempaskan tangan Noah dan masuk ke dalam kamar kostanku. Aku menangis karena marah pada sikap Noah dan karena aku kehilangan iga bakar yang sejak tadi aku sayang untuk kumakan sendiri. Ya Allah, sampai kehilangan iga bakar saja aku sangat sedih seperti ini. Benar-benar aku berada di titik nol, padahal dulu saat Papa belum mengenal para janda kami sering makan di restoran enak. Aku sangat sedih, untunglah Mama belum pulang. Aku tak mau Mama melihatku bersedih.


****

__ADS_1


Keesokan harinya aku bekerja dengan lebih giat lagi. Saat teman-temanku membicarakan tentang betapa lezatnya iga bakar semalam, aku hanya bisa menunduk sedih. Aku menyibukkan diriku dengan mengerjakan pekerjaanku saja. Aku pergi ke sana kemari mengerjakan pekerjaan yang diperintahkan oleh para seniorku tanpa mengeluh. Aku mau nilaiku bagus selama 3 bulan ini dan akhirnya aku bisa diangkat jadi karyawan tetap. Seperti yang dikatakan oleh Mas Bahri semalam, perusahaan ini bagus untuk masa depanku kelak.


Malam ini aku tidak lembur. Aku sengaja pulang cepat agar bisa ikut pengajian sehabis shalat magrib. Dulu aku begitu menghindari acara pengajian ini, tapi sekarang jika tidak ikut serta rasanya ada yang kurang. Siapa yang akan mengoreksi bacaan Al-Quranku kalau bukan teman-temanku di sini?


Selesai mengaji, Rina memanggilku dan mengajakku keluar. Aku pikir, anak itu mau jalan-jalan di malam hari sambil mencari tukang jajanan seperti yang biasa kami lakukan, ternyata tidak. Rina mengajakku ke kostan lamaku dulu. Aku tidak mau masuk ke dalam karena banyak kenangan buruk yang masih melekat di kepalaku.


Rina masuk seorang diri dan tak lama kemudian dia keluar dengan membawa dua paper bag di tangannya. Rina tersenyum dan memberikan sebuah paper bag yang berukuran lebih besar padaku. "Buat kamu dari Kak Bahri."


Aku melihat isi paper bag yang Rina berikan. Isinya adalah iga bakar yang kemarin dipesankan untuk makan malam tim kami. Sama persis. Bahkan ini porsi jumbo yang jika aku dan Mama makan akan sangat kenyang. "Kenapa buat aku?"


Rina mengangkat kedua bahunya. "Enggak tahu. Aku juga dikasih tapi punya kamu lebih banyak. Kak Bahri bilang, kamu bisa makan berdua sama Mamamu. Sudah yuk kita makan, mumpung masih hangat!"


Kenapa orang sebaik Mas Bahri sudah dimiliki oleh Kak Azizah? Dan kenapa aku harus menyerahkan mahkotaku pada orang sejahat Noah? Andai waktu bisa kuputar, aku akan menjaga mahkotaku namun sayang semua sudah terjadi dan meninggalkan kenangan buruk yang tak bisa aku perbaiki lagi.


****


"Pak, terima kasih atas makanannya semalam," kataku saat hanya ada aku dan Mas Bahri saja di dalam ruangan.


"Iya, semoga kamu suka ya!" jawab Bahri sambil tersenyum.

__ADS_1


"Suka sekali. Mama juga suka," jawabku jujur.


Percakapan kami terganggu ketika kulihat ponsel Bahri berbunyi. Azizah menelepon. Azizah kakaknya Rina? Apa benar Bahri ada hubungan spesial dengan Kak Azizah?


"Lun, ada lagi yang mau dibicarakan? Aku mau angkat telepon dulu," kata Bahri mengagetkanku yang sedang terpaku melihat ponsel miliknya.


"Oh ti-tidak ada, Pak. Saya permisi." Aku pergi dari ruangan menuju toilet. Sesampainya di dalam toilet, aku mengunci pintu dan memukul dadaku yang terasa agak sesak.


Kenapa ya denganku? Kenapa aku tak suka melihat kedekatan Mas Bahri dengan Kak Azizah. Mereka mau ada hubungan pun itu bukan urusanku. Kenapa di dalam dadaku ini terasa sesak?


Aku mendengar ada yang masuk ke dalam toilet dan membicarakan tentang Mas Bahri. Kuurungkan niatku keluar toilet dan memilih untuk menguping pembicaraan mereka.


"Kamu lihat 'kan tadi saat meeting, Pak Bahri itu presentasinya bagus di depan Pak Rezvan. Pantas saja di mata Pak Rezvan cuma kerjaan Pak Bahri yang paling sempurna. Tak pernah sekalipun dimarahi," kata cewek pertama.


"Iyalah. Pak Bahri itu teliti. Dulu dia ditempatkan di luar kota. Dia yang minta. Gosip yang kudengar sih katanya dia patah hati karena ditolak sama sahabatnya. Sejak itu jarang yang dekat dengan Pak Bahri. Hanya Bu Azizah, karyawan kantor konsultan pajak yang terlihat akrab dengannya. Apa mereka benar pacaran ya?" sahut cewek kedua.


"Entahlah. Aku juga dengar tentang kedekatan mereka. Mereka cocok, ganteng dan cantik. Semoga saja Bu Azizah bisa menyembuhkan luka hati Pak Bahri ya!"


Dadaku semakin sakit. Ya, Kak Azizah mungkin bisa menyembuhkan luka hati Mas Bahri. Lantas, siapa yang akan menyembuhkan luka hatiku?

__ADS_1


****


__ADS_2