
POV Luna
Aku mengikuti langkah Mas Bahri masuk ke dalam gang-gang sempit sebelum akhirnya sampai di sebuah rumah yang terlihat cukup nyaman. Rumah dua lantai yang bergaya minimalis dengan pagar hitam di depannya.
"Itu adalah rumah keluargaku. Kecil bukan? Terletak di dalam gang lagi. Aku bukan berasal dari orang kaya. Lihat saja rumahku di dalam gang. Bapak dan ibu enggak mau pindah meskipun sekarang kami sudah lebih baik dalam hal perekonomian. Kata bapak dan ibu tinggal di sini lebih nyaman, banyak tetangga yang sudah baik pada kami, tak seperti dulu yang suka mencibir dan takut kami meminjam uang."
Mas Bahri membuka pagar besi rumahnya dan masuk. "Ayo!"
Aku membuka sepatuku dan ikut masuk ke dalam. Kudengar Mas Bahri mengetuk pintu dan mengucap salam. Tak lama terdengar suara ibu-ibu yang menyambut kedatangannya. Tebakanku itu adalah ibunya Mas Bahri.
Mas Bahri salim dan memeluk Ibunya dengan penuh kasih sayang. "Ibu sehat?"
"Sehat alhamdulillah. Kamu jarang pulang nih. Jangan terlalu sibuk bekerja sampai lupa waktu. Kok kurusan sih? Suka lupa makan ya?" Ibu Mas Bahri menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Terlihat betapa sayangnya sang Ibu pada anak lelakinya.
__ADS_1
"Malu ah, Bu." Maa Bahri seakan menyadari keadaanku yang melihat pemandangan di depan yang begitu hangat.
"Ayo, Lun. Masuklah!" Bahri menarik tanganku dan mengajakku masuk ke rumahnya yang sangat nyaman. "Bu, kenalin, Luna, pacar Bahri!"
Aku terkejut mendengar kalau aku diperkenalkan sebagai pacarnya. Sejak kapan aku menjadi pacarnya Mas Bahri? Kenapa ia menyebutku pacarnya? Aku segera melihat bagaimana ekspresi ibunya Mas Bahri. Wajah Ibunya Mas Bahri terlihat tersenyum lebar dan bahagia mendengar apa yang putranya katakan. "Beneran pacar kamu? Wah syukurlah. Akhirnya Ibu akan segera punya menantu lagi!"
Aku salim dan rambutku diusap dengan lembut oleh Ibunya Mas Bahri. "Siapa namanya, Nak? Cantik banget, pantas Bahri luluh dan bisa melupakan masa lalunya.
"Luna, Bu," jawabku sambil menunduk malu.
Aku duduk di sofa yang terlihat nyaman. Ada sebuah TV flat di dinding. Rumahnya lumayan bagus dan rapi meski berada di dalam gang.
"Ibu ambilkan minum dulu. Bapak kamu sedang ke masjid. Ratna belum pulang masih menjaga laundry." Ibu Mas Bahri pun masuk ke dalam.
__ADS_1
Mas Bahri duduk di sampingku sambil tersenyum. "Bagaimana? Kecil bukan rumahku?"
"Lebih kecil kamar kostku, Mas. Enak kok rumahnya, nyaman."
Bahri tersenyum lebar. "Sekarang nyaman, dulu tempat yang kamu duduki adalah tempat tidurku. Di atas kasur Palembang tipis bersebelahan dengan motor Bapak. Di sana kamar Kak Dewi dan Ratna. Saat ada rejeki, kami merenovasi rumah ini. Di atas kamar Ratna dan kamarku. Di bawah ruang tamu , kamar Bapak dan Ibu serta dapur. Aku ternyata malah lebih suka ngekost di dekat kantor daripada bolak-balik ke rumah, jadinya kamar di atas kosong deh."
"Mas, aku mau nanya sama kamu. Kenapa kamu bilang kalau kamu adalah pacarku? Memang kapan kita-" Belum selesai aku bicara Mas Bahri sudah memotong ucapanku.
"Lantas aku harus bilang apa? Calon istriku? Tidak bukan? Aku harus bilang sama Mama kamu dulu sebelum memperkenalkan kamu sebagai calon istriku. Jadi ... kapan aku bisa ngomong sama Mama kamu?"
"A-apa? Ngomong apa?"
"Ya ngomong kalau aku mau ngajak kamu nikah."
__ADS_1
"Hah?"
****