Transmigrasi : Aku Antagonis?!

Transmigrasi : Aku Antagonis?!
Se.2_ #96. Bonchap 2 : Kevin, Amanda, Jane!


__ADS_3

Amanda memandang pemuda yang sedang sibuk berolahraga di tengah lapangan dibantu oleh Roby yang sama semangat nya. Dan gadis di sebelahnya menatap Amanda dengan tenang.


"Manda.. Kevin gak akan kemana-mana. Mandang nya biasa aja," ledek gadis itu dihadiahi tatapan mata tajam.


"Diam, Jane."


Jane, gadis itu menyadarkan tubuh nya di kursi. "Manda.. Kalau Kevin punya orang yang dia suka, reaksi Lo gimana?"


"Nggak gimana gimana."


Jane mengkondisikan wajah nya yang mulai sebal kembali. Amanda hanya bisa melihat gadis-gadis yang mendekati Kevin dan Roby, dalam diam. Jane berdiri dan meninggalkan Amanda yang seperti nya terlihat tak senang dengan Kevin yang berinteraksi dengan gadis-gadis cantik itu.


"Eh, Jane!" Sapa Kevin dengan riang, disambut sapaan Jane juga.


"Lo nggak capek-capek apa? Olahraga terus?"


"Kevin.. Roby.. Dia siapa?"


"Adik kamu ya ganteng?


"Gak mungkin pacar sih."


Jane mengepalkan tangannya. Dan menyambut telinga Roby dan Kevin yang malah tersenyum senang saat digoda.


"Kak Roby, ingat istri! Kevin ingat Lo cuman mau olahraga, bodoh!"


Jane menarik keduanya, "minggir minggir gak usah kecentilan!"


"Aww... Gue gak ikut-ikutan, Jane!" Ringis Roby. Sedikit dikendurkan oleh Jane.


"Gue kan jomblo, Jane. Lumayan lah— A.. Aw! Sakit jir!" Semakin dikencangkan saat Kevin berbicara mengenai itu.


Amanda yang melihat itu memilih ikut pulang mengikuti langkah Jane.


"Apa.. Aku udah Kevin lupain?"

__ADS_1


...🥀🥀🥀...


Kevin telah mandi dan sedang duduk sendiri di meja makan, menyeruput mie yang telah lama tak dia makan, tersenyum tipis. Dia merindukan rasa ini. Memandang keluar jendela, menatap seseorang yang sedang berayun di ayunan depan halaman.


"Manda.."


Melihat gadis itu, mengingatkan dirinya mengenai perasaan yang seharusnya sudah dilupakan. Tangannya masih menyuapkan makanan pada mulutnya, tapi pikirannya telah berkelana.


"Udah lebih dari beberapa bulan ini, gue gak ngobrol santai sama Manda.. Semenjak pas itu."


Dia membereskan makanannya. Ditaruh dicucian, dan pergi ke halaman. Dia menghela napas, menatap Amanda yang membelakanginya. Kevin sudah membuat dirinya yang akan pertama berbicara.


"Amanda."


Amanda berjengkit kaget. Melihat ke belakang, saat tahu ada yang memanggilnya. "Ke.. Kevin?"


Kevin tersenyum, dan ikut masuk ke ayunan itu, duduk di hadapan nya. "Udah lama kita gak ngobrol, ya?"


Amanda mengangguk tegang. Dan mengalihkan pandangannya dari Kevin, proporsional tubuhnya sudah agak berbeda dari sebelumnya. Kalau ditatap lamat-lamat itu pasti akan aneh.


"Gue minta maaf, karena kemarin udah bentak Lo. Gue sadar itu buat kesehatan gue juga."


Amanda menatap terkejut pada Kevin, ini pertama kalinya Kevin bisa mengucapkan maaf padanya. Dia menggeleng, "gak, bukan Lo yang salah.. Gue yang salah, seharusnya gue gak ikut campur sama hidup Lo, Kevin."


"Bukan gitu, Manda. Lo.. Jane.. Rissa, kalian semua keluarga gue, orang yang gue sayang. Jadi pantes kok buat kalian negur gue, yang memang hidupnya berantakan."


Kevin mengambil tangan kanan Amanda, mengarahkan telapak tangan itu pada dadanya, tepat di detak jantung nya. "Tapi.. Cuman Lo yang bisa buat jantung gue seakan berdetak tanpa jeda."


"Mungkin Lo risih, mungkin Lo capek dengerin gue yang selalu ngungkapin perasaan, berkali-kali ditolak, sakit hari ini bukan setara dengan sakit Lo yang nahan diri buat melakukan hal yang terbaik buat gue, Rissa, dan Jane. Lo ketua yang baik buat 4 inti ini, Manda."


Amanda merasakan pipi nya memanas, dan mata nya memerah. Tangannya meremat kaos yang dipakai Kevin, dia menaruh dahinya di bahu Kevin. Menangis tanpa suara, membasahi kaos abu-abu milik pemuda itu.


"Gue.. Egois ya?"


"Gue cuman gak mau nyakitin hati semuanya. Gue tau Jane suka Lo, Kevin. Gue tau Lo suka gue, gue tau, hati ini satu-satunya buat Lo. Dan gue tau derita Rissa, dengan apa yang dia sembunyikan. Gue cuman mau yang terbaik, tanpa memikirkan semuanya." Batin Amanda.

__ADS_1


"Kamu.. Gak egois Amanda."


Keduanya terkejut saat Jane mendekat. Amanda melepaskan tangannya dari Kevin, membuat Kevin kehilangan kehangatan dirinya. Amanda keluar dari ayunan itu mendekati Jane.


"Jane.. Ini gak—"


"Manda.. aku gak papa. Aku malah mencoba mendekatkan kalian."


"Ta.. tapi kamu 'kan.."


Jane tersenyum menepuk pundak Amanda, "kamu cinta dia? Maka, lakukan seperti yang hati kamu ingin lakukan. Aku ikhlas."


Amanda menggigit bibir bawahnya. Dan memeluk erat Jane. "Maaf, untuk kali ini aku egois."


"Bukan egois, Manda."


Mereka melepaskan pelukannya. Jane menarik tangan Amanda dan Kevin, menyatukan keduanya. "Kalian cocok loh!"


"Kevin.. Jaga Amanda ya." Jane menatap Kevin dan kemudian beralih pada Amanda, "Manda.. Jangan kecewain Kevin lagi, ya. Karena kalian saling mencintai."


Jane memberikan ruang untuk keduanya. Meninggalkan keduanya dalam keheningan.


"Aku tau, kamu begitu karena Jane, Amanda. Aku tau. Jadi, aku gak maksain kamu untuk jujur, tap—"


BRUK..


Tangan Amanda melingkar di pinggang Kevin. Wajahnya menghirup harum tubuh pemuda itu, menenggelamkan wajahnya di dada bidang Kevin. Dia merasa tidak ada lagi tekanan.


"Aku mencintaimu juga, Kevin."


Ucapannya tenggelam di dalam dada bidang milik Kevin, tapi Kevin masih bisa mendengarkannya. Keduanya tersenyum bahagia.


Dari jauh, Jane menatap Kevin dan Amanda dengan lekat. "Akhirnya Lo jujur sama perasaan Lo, Manda."


"Lo harus jaga dia, Vin. Manda sahabat gue yang paling gue sayang. Kalau dia sampai kenapa-napa, gue gak segan-segan pukul Lo, walau Lo orang yang pernah gue suka."

__ADS_1


..._-_-_...


__ADS_2