
Sudah lama diri nya tidak begini. Dalam hatinya bertanya-tanya, apakah bela dirinya akan hilang, jika pindah raga seperti ini. Mari dicoba. Dengan larinya yang masuk ke dalam kerumunan itu, memang orang-orang fokus saling memukul dan menangkis, tidak ada yang sadar adanya seorang perempuan.
Semakin masuk ke kerumunan, mencari sang adik. Di tengah kerumunan itu, dirinya sadar jika seharusnya dia menyembunyikan wajahnya. Bukan karena malu, tapi pasti nya aneh, seorang gadis cantik nan imut datang ke tengah perkelahian, untuk berkelahi. Seorang gadis 'kan seharusnya feminim.
Eh, sejak kapan dirinya memikirkan itu. Narsis!
"Ini dimana Keyla nya," gumam nya sedikit panik. Seperti anak hilang di kerumunan, gadis itu celingak-celinguk mencari keberadaan Keyla.
"ARGH!" Teriakan perempuan yang ditangkapnya, membuat nya penasaran. Mencari suara.
SAT!
Mata nya membulat, saat dirinya melangkah maju beberapa meter ke depan. Keyla, adiknya, dengan wajah memerah, dan perut diinjak dengan keras, oleh orang yang dibenci. Mungkin sekarang akan semakin besar rasa bencinya pada sosok itu.
"MARTIN!" Vina berlari, dan memukul sosok itu telak di pinggul nya, lalu pelipis nya. Dengan dua kali pukulan itu, membuat Martin tersungkur dan kesakitan. Vina mendekati adiknya yang kesakitan.
"Kak.. akhirnya Lo datang," ujar Keyla sedikit terbata-bata, dan nafas tersengal. Senyuman lirih nya membuat hati Vina kacau.
Wajahnya memar, dan ada darah di keningnya. Bahkan saat dirinya sedikit mengangkat baju Keyla di daerah perutnya sudah ada sebuah memar berbentuk tapak kaki, yang ia yakin milik Martin.
Vina menahan tangisnya, dan menggeleng, "maaf, gue telat."
Lagi. Keyla hanya menanggapinya dengan senyuman, lalu perlahan matanya tertutup, dan tubuh nya melemas.
"Key. Lo harus tahan, gue bawa Lo ke rumah sakit." Vina berusaha mengangkat tubuh adiknya. Orang yang berada di belakangnya bangkit dan dengan tatapan menyeramkan menghunus pada Vina.
Martin mengeluarkan sebuah pisau lipat dari saku nya, mengarahkan pada punggung Vina yang hanya berjarak 5 meter darinya.
SAT!
DAGH!
Saat Martin hendak menusukkan pisau itu, sebuah kaki menendang tangannya. Otomatis dia melepaskan pisau lipat dari tangannya.
"Jangan macam-macam dengan adik gue!" Teriak nya. Membuat kepala Vina menoleh ke belakang.
Kedua abangnya menjadi benteng pertahanan untuk nya, agar siapapun tidak dapat melukai gadis itu. Vina tersenyum puas, dia tahu bahwa keduanya bisa diandalkan.
"Pergi, Lo. Bawa Keyla!" Seorang pemuda yang sangat dikenalnya berteriak. Dan melempar kunci padanya. Giovanni. Pemuda itu menghajar Martin, dibantu Carlos dan Calos.
__ADS_1
"Makasih."
...🥀🥀🥀...
"Carlos Calos, dan Vina?! Kenapa mereka ada di sana?!" Gumam seseorang yang bersembunyi dalam kegelapan, mengigit kuku nya dengan panik.
"Permisi, nyonya." Panggil seorang bodyguard mendatangi nya. Yang hanya dijawab dehaman.
"Dua orang yang berada di markas sudah sadar, nyonya." Lapor seorang bodyguard berkepala botak mengkilap.
"Baiklah. Ayo kembali ke markas." Orang itu berjalan masuk ke dalam mobil, yang sudah dibukakan oleh bodyguard berkepala botak barusan.
Mobil dinyalakan dan membelah jalanan Jakarta, menuju sebuah gedung rusak. Lalu dirinya turun dan berjalan ke arah suatu ruangan. Di dalam ruangan ada dua orang yang terikat dan dikenakan penutup wajah.
HAP.
Tangannya menarik penutup wajah di kedua orang yang sedang memberontak. Salah satunya membulat ketika melihat orang di hadapannya. Mata laki-laki itu seketika berkaca-kaca, apalagi melihat senyum miring nan mengerikan dari orang itu.
"Maya."
...🥀🥀🥀...
Mengendarai mobil sport mewah milik Gio dengan kecepatan di atas rata-rata. Untung saja gadis ini bisa mengendalikan mobil dengan baik. Decitan ban mobil dengan aspal terdengar nyaring.
"Key, gue telat nolong Lo! Lagi-lagi gue gak bisa jagain Lo!" Vina menahan tangisnya. Benar, dia mempunyai kelemahan. Kelemahannya adalah keluarga nya, sangat mudah ditebak bukan?
Bahkan ketika neneknya meninggal di hari yang sama saat mendengar kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan. Dia benar-benar hancur, membuat nya benci, sangat benci terhadap dunia.
Kenapa takdirnya harus merasakan hal seperti ini, dia menangis, lagi. Tangisan nya tidak terdengar, hanya air mata yang keluar dan diusap kasar olehnya.
Yang diinginkan nya saat ini, hanya tempat bersandar. Kepalanya benar-benar tidak bisa berpikir lagi, tapi dia sadar, jika masih banyak yang harus dijaga.
Mulai dari Keyla, Kakeknya, dan juga semua 'Red Blood'. Dan banyak lagi beban di pundaknya, yang sudah tidak dapat ditahan lagi.
"KENAPA SELALU GUE! KENAPA KELUARGA GUE LAGI!"
Sekitar beberapa menit kemudian, akhirnya mobil sport yang dibawanya memasuki area rumah sakit. Rumah sakit yang sama dengan tempatnya dirawat.
"Dokter! Suster! Tolong adik saya!" Teriak Vina panik, dan membawa Keyla dalam gendongannya. Dokter dan suster yang ada, langsung menyiapkan brangkar.
__ADS_1
Brangkar rumah sakit dibawa ke depannya dan perlahan Vina meletakkan Keyla di ranjang itu. Para suster menjalankan brangkas ke arah ruang operasi. Pintu ditutup, orang dilarang masuk. Termasuk dirinya.
Vina berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang operasi, mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Dek. Jangan buat kakak takut. Kamu kuat dek," gumam Vina dengan nada sedikit bergetar. Duduk di salah satu kursi tunggu di depan ruangan. Kaki nya mengetuk-ngetuk lantai.
"Kalau kamu sampai kenapa-napa, aku gak akan biarin Martin. Aku gak akan biarin dia hidup!"
...🥀🥀🥀...
"Siapa Lo?! Kenapa ganggu gue?!" Tanya Martin dengan nada dingin yang menusuk.
"Gue gak ganggu Lo, kalau Lo gak ganggu adek gue! Lo juga siapa, berani beraninya lawan cewek!" Teriak Carlos.
"Banci, tau gak?! Lawannya cewek," ujar Calos dan berdecih.
"Tutup mulut kalian! Gue bisa aja remukin badan kalian sekarang juga!"
Carlos dan Calos menyiapkan kuda-kuda nya, dan satu orang ikut dipihak nya. Dia Gio. Carlos dan Calos tidak mengenalnya, tapi mereka tahu kalau pemuda itu berada di pihaknya.
Melihat ketiganya, Martin hanya terkekeh kecil. Dan matanya seperti meremehkan kekuatan tiga pemuda di hadapannya.
"Jangan sok jago. Kalau pada akhirnya, gue yang menang." Perkataan terakhir dilontarkan Martin.
Kaki nya berlari mendekat pada ketiga orang itu. Carlos menghindar saat Martin melayangkan pukulan padanya, Calos memukul punggung Martin saat hal itu terjadi, tapi tidak membuat Martin jatuh.
Gio melihat benda tajam yang hendak kembali bertengger di tangan Martin. Lalu kaki nya menendang dada Martin, dan tangan nya yang sedari awal sudah memakai sarung tangan, mengambil pisau lipat dari tanah.
Kedua abang dari Vina memukul keras secara bersamaan pada Martin, dan ditangkap oleh Martin. Gio terdiam mematung, matanya tiba-tiba menjadi biru kelam.
Pisau yang ada di tangannya dipegang erat, diarahkan pada Martin. Carlos dan Calos tidak menyadari itu, bahkan Martin juga. Tangan kedua nya diputar, siap untuk dipatahkan Martin.
"ARGH!" Kedua nya berteriak kesakitan. Carlos menendang betis belakang Martin, begitu pun Calos. Membua Martin berlutut. Ikatan batin antara kedua nya sangat kuat, gerakan mereka mirip.
Gio yang mematung, tiba-tiba berjalan, tatapan kosong dari mata nya. Dan senyum mengerikan menghiasi bibirnya. Tangan nya menghunus pisau yang dipegang.
"Martin. Mati."
JLEB...
__ADS_1
BERSAMBUNG...