
Vina keluar dari ruangan Keyla, lalu merogoh sakunya untuk mengambil handphone nya. Dan mengetikkan sebuah pesan kepada abangnya.
Bawa orang yang tadi bantu gue bang, ke rumah sakit yang sama dengan gue di rawat.
Begitulah isi pesannya. Vina diam, mengingat kejadian tadi. Dia membenci dirinya, yang tidak bisa berbuat apa-apa. Dia benci!
"Rasa sakit yang paling dalam tidak terlihat oleh mata. Kesedihan yang paling dalam tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata."
Vina menghela nafas, sembari menunggu mereka datang, Vina pergi ke kantin rumah sakit. Langkahnya gontai, tidak ada semangat.
Memesan satu gelas berisi susu hangat, dan menyeruput minumannya. Melihat balasan dari Abangnya, mereka sangat gerak cepat ya. Membawa gelas itu bersamanya ke depan ruangan rawat Keyla.
Lalu notifikasi terbaru datang, itu dari nomor Sena. Oh iya, bagaimana kabar anak itu ya?
"Vin. Ar u ok?"
Singkat, padat, dan jelas. Vina membalas.
"Yeah, why?"
"Gak papa. Perasaan gue gak enak soalnya."
Vina merasakan hal yang sama seperti Sena. Perasaan tidak enak mulai menyeruak di hatinya. Memikirkan pesan dari Sena.
"Lo masih dirawat?"
Vina belum membalas pesan sebelumnya, sudah ada pesan baru yang dikirim Sena.
"Besok udah keluar dari rumah sakit."
"Syukurlah."
Sebuah tangan menepuk pundak nya, setelah dirinya membaca pesan terakhir dari Sena. Reflek tangan nya menangkap nya. Lalu memelintir nya.
"Ini gue, Carlos! Sakit Woi!" Vina melepaskan tangannya, dan mendongak menatap tajam Carlos.
"Gak usah kagetin, bisa?!" Sentak Vina. Carlos hanya menyengir, membuat Vina berdecih kasar.
"Jadi, mana Keyla?" Tanya seseorang dari belakang Carlos, diikuti Calos yang berada di sebelahnya. Vina mendelik.
"Di dalam kamarnya." Jawab Vina sembari menunjuk pintu kamar Keyla. Pemuda di samping Calos, langsung masuk tanpa berkata-kata lagi. Vina hanya menatap datar Gio yang sudah menghilang di balik pintu.
"Gak ada sopan santun." Desisnya kecil. Tidak ada pembicaraan di antara mereka bertiga, yang ada hanyalah kecanggungan.
"Vin." Panggil Calos, Vina hanya berdeham menjawabnya.
"Gue.. balik dulu ya. Lo gak jadi pergi ke tempat yang Lo mau tadi?"
__ADS_1
"Gak jadi, Lo pergi aja sana." Usir Vina tanpa menatap Calos, fokusnya hanya di handphone milik nya membalas pesan dari Sena.
"Lo ngusir gue?" Tanya Calos pelan. Mungkin marah karena respon Vina yang masa bodo terhadap nya, alis nya menukik. Carlos hanya diam memandangi wajah Vina.
"Vin. Gue gak tau, apa yang buat Lo semakin terlihat asing. Tapi gue harap maaf gue, masih bisa Lo terima." Carlos hanya terkekeh lirih, melihat nasibnya bahkan dibenci oleh adik nya sendiri.
Pandangan Vina beralih dari handphone, menatap sinis Calos. "Lo gak usah sok peduli, cukup diam. Bahkan, Lo diam aja salah, Calos. Karena apa? Karena Lo selalu buat gue seakan semua kesalahan gue. Udah, gue gak mau berdebat!"
Calos diam. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras, dan bahkan kepalanya sedikit miring menatap Vina dengan tatapan menjengkelkan menurut Vina.
"You really should get punished, Vina." Ujar Calos dalam hatinya. Tanpa berdebat lagi, Calos berbalik meninggalkan mereka berdua. Carlos menatap punggung sang adik dengan tatapan yang sulit diartikan.
Vina hanya mengendikkan bahunya, lalu tersenyum tipis. Menurutnya Calos cukup pintar, dan cukup licik. Maka dirinya harus lebih licik lagi dari pemuda itu!
"Lo gak ikut pergi, Carl?" Tanya Vina, tangan nya hanya mengotak-atik handphone dan sedikit menyandarkan tubuhnya pada kursi. Carlos menggeleng samar.
"Gak. Aku mau disini aja."
Vina menatap jijik pada Carlos. Sejak kapan orang ini bisa aku-kamuan.
"Ih. Gak gue gak kenal, suer! Gue gak kenal sama manusia di depan."
...🥀🥀🥀...
Telepon berdering. Seseorang mengangkatnya, namun sebelumnya dirinya melihat nama kontak yang tertera.
"Bagaimana? Apakah alat nya sudah beres?" Tanya orang yang ada di seberang.
"Maaf tuan. Alat belum beres, dikarenakan semua bahan-bahannya baru beberapa yang datang, setelah kami pesan." Jelas nya, yang pasti saja berbohong. Dia baru saja memakai alat yang dimaksudkan; Transmigration Communicate.
"Apa?! Selama itu? Kenapa tidak ada laporan pada saya, jika saya tidak menelepon." Orang di seberang meninggikan suaranya.
"Maaf tuan. Tapi kami disini sibuk untuk merakit alat tersebut." Handphonenya ditaruh di telinga dan dihimpit dengan pundaknya. Tangannya sembari mengikatkan bathrobe yang ada di badannya.
Dada bidangnya terlihat kokoh. Tangannya mengusap rambut model Front Puff nya yang basah, karena baru saja dirinya keluar dari kamar mandi. Kelihatan manly.
"Saya sudah bayar mahal untuk ini! Jadi saya tidak mau ada yang gagal!" Telepon ditutup. Membuat pemuda itu mengumpat mendengarkan orang yang baru saja menelponnya.
"Illegal aja bangga! Ntar ditangkap polisi baru tahu rasa! Eh, kan gue ikutan, ya. Ih bodoh!" Ia ngomel-ngomel sendiri tanpa sebab.
Lalu berjalan menuju kaca yang ada di kamar dalam gedung nya. Menunjukkan pose yang benar-benar sexy.
"Aiden. Lo udah kembali jadi laki-laki!" Teriak nya senang. Lalu menyeringai.
"Well, tubuh ini lebih baik dari pada tubuh wanita tua itu!" Kaki nya melangkah keluar dari kamar, dan membawa dirinya ke dalam tempat, dimana alat tersebut berada.
Tiga orang yang terlihat lemah terikat di antara tiang. Ya, mereka adalah Raditya, cewek berkacamata yang pastinya adalah Audi, dan juga Maya dengan jiwa yang sebenarnya.
__ADS_1
Dirinya tidak menyiksa mereka dengan menguliti kulit mereka lalu melempari nya dengan jeruk nipis. Atau mungkin hanya menggoreskan pisau. Tapi mereka hanya sebagai umpan untuk Vina, oh Rissa maksudnya.
Agar cewek itu bisa bertekuk lutut di hadapannya, dan ini akan menjadi kekalahan terbesar kelompok Red Blood. Benar-benar dirinya tidak sabar. Dan pada hari itu, dirinya akan benar-benar menguasai Red Blood, yang sudah mendunia.
Raditya menatap nya dengan dingin. "Lepaskan kami! Lepaskan istri saya!" Teriaknya di depan wajah Aiden.
Aiden mengusap wajahnya dengan jijik, "jangan berteriak di depan saya, sialan! Mulut mu bau!"
"Lepas!"
"Jangan harap! Bawakan saya penutup mulut!" Perintah Aiden pada salah satu anggota nya. Dengan cepat ada tiga penutup mulut di tangan Aiden, karena memang sudah disiapkan oleh nya.
"Jangan banyak tingkah kalian! Duduk diam!" Bentaknya, setelah menutup mulut mereka sedikit bersusah payah karena mereka bertiga memberontak.
Seorang dari anggota Shadow Legion berlari mendekati Aiden. Dengan nafas tersengal-sengal, dirinya akan melaporkan sesuatu pada Aiden.
"Permisi, boss. Saya datang akan melapor sesuatu." Katanya sedikit menunduk, karena takut akan Aiden.
"Apa?" Aiden menatap dingin dirinya.
"Saya punya berita buruk, untuk bos." Ucapnya takut-takut, badan bahkan sudah gemetar sebelum menjelaskan nya. Aiden tersenyum melihat tingkah anggota nya yang satu ini
Aiden menempatkan tangan kanan nya di pundak cowok itu, senyuman nya tidak luntur. "Jelaskan lah. Saya menunggu."
"Kami.. kalah. Martin juga."
BUAGH!
Pukulan telat diberikan Aiden pada perut cowok yang baru saja melaporkan. Senyuman nya masih bertahan, perlahan terganti dengan kekehan.
"Lalu, kenapa kamu bisa selamat?" Tanya dengan aura mencekam di sekitarnya. Cowok itu sudah tersungkur karena pukulan Aiden, meringkuk kesakitan.
Karena tidak mendapat jawaban darinya, Aiden mendongak menatap anggota lainnya yang hanya diam berdiri di tempat nya.
"Bunuh dia."
...🥀🥀🥀...
"Aiden. Anda bisa bermain-main dengan saya. Tapi tidak dengan para pengikut Red Blood. Karena mereka diciptakan sebagai mesin pembunuh."
"Keluarga saya anda sakiti. Maka saya akan membalasnya."
"Bagiku. Bagi Rissa Arabella William. Mata dibalas mata. Nyawa dibalas nyawa!"
"Dan ini bukan hanya omong kosong lagi!"
...🥀🥀🥀...
__ADS_1
BERSAMBUNG...