Transmigrasi : Aku Antagonis?!

Transmigrasi : Aku Antagonis?!
Part. 48 : Everything Will Be Fine


__ADS_3

Sena hanya ingin keluarga yang utuh. Apakah tidak bisa terwujud? Tanpa ada masalah yang menerpa mereka berkali-kali, tanpa ada penyelesaian dari masalah itu.


Keputusan keduanya sudah bulat, dan bagi Sena, mungkin dia sudah tidak bisa menjalankan rencananya untuk menyatukan kembali orang tuanya. Dia sadar.


Kesalahannya pada Tuhan sudah benar-benar banyak. Hancur semua! Egoiskah dia, jika dia meminta untuk mengembalikan semuanya seperti dulu?


"ARGHHHH!!" Teriaknya setelah di dalam kamar, untung saja dia pernah memasang alat pengedap suara di dalam kamarnya. Dia luruh di lantai, dengan air mata yang terus bercucuran di pipinya.


Air mata yang sedari tadi ia tahan di depan ibunya, sekarang tak terelakkan lagi. Sena memukul lantai bertubi-tubi untuk melampiaskan amarahnya, membuat tangannya terluka.


Dengan sesegukan dia mencoba menghentikan tangisnya. Dan mendudukkan diri di karpet samping tempat tidur. Mengambil sebuah foto yang berisikan empat orang. Dirinya, ibunya, ayahnya, dan abangnya, Edward.


"Sena. Lo harus kuat, gue gak boleh keliatan lemah. Gue harus semangat menghadapi ini," ujarnya Sena pada dirinya sendiri, dengan nafas yang tersengal-sengal sehabis menangis.


"Everything will be fine."


Sebuah suara dari luar, yang bisa dipastikan itu berasal dari ibunya yang berada di lantai bawah. Dan sebuah suara menyahut dengan sentakan, suara ayahnya.


Perlahan Sena menguping, berangsur ke arah pagar tangga. Diam dan mendengarkan.


"INI SUDAH KEPUTUSAN SAYA! JADI GAK USAH DIBICARAKAN LAGI!" Teriak sang ayah. Lalu mengeluarkan selembar kertas dari amplop coklat di tangan nya.


"DAN INI, TANDA TANGANI SURAT PERCERAIAN KITA. DAN TUNGGU DI PERSIDANGAN, TENANG, SAYA SUDAH MENANDATANGANI NYA." Bentakan ayahnya membuat telinga Sena berdengung.


Mata nya kembali mengeluarkan air, dalam diamnya diam-diam dirinya menjadi mengepalkan tangannya, menahan marah. Nafas berat dan tubuhnya bergetar, menahan tangis.


"MAS! KAMU GAK MIKIRIN ANAK-ANAK KITA?!"


Ibunya membalas dengan nada tinggi dan hendak merobek selembar kertas itu. Tapi tangannya di tahan, dan tubuhnya terdorong, menabrak meja di sebelahnya.


Seketika Sena menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, tangannya menggenggam erat pagar pembatas. Kakinya melangkah untuk turun, dua, dan tiga tangga dia lewati.

__ADS_1


"MAS, SAKIT!" Rintih ibu nya. Mata nya memerah, dan berlari turun, saat ibunya kesakitan, kerah pakaian yang dipakai ibunya ditarik kasar, dan di bawa keluar. Dia menepis tangan Ayahnya dan membawa ibunya ke dekapan.


"Mulai hari ini, kita gak punya hubungan apapun! Anak-anak silahkan kamu bawa. Dan semua ini adalah kekayaan saya, jadi mungkin kamu hanya mendapatkan sedikit harta gono-gini. Saya sudah tidak peduli."


Ayahnya menepuk tangannya beberapa kali, dan dua bodyguard mendatangi nya. "Bereskan barang dia dan anak-anak!"


Mereka berdua menurut dan masuk untuk membereskan barang-barang mereka. Sena memeluk tubuh ibunya yang kini bergetar hebat. Kaget, sakit, dan kecewa. semua bercampur jadi satu.


"I hate you! Anda bukan ayah saya, sampai kapan pun!"


...🥀🥀🥀...


Vina duduk sendirian tanpa ada yang menemani, memejamkan matanya untuk menetralkan pikirannya. Ingatan yang semua kacau kini telah menyatu.


Puzzle yang seharusnya dia belum pecahkan, sekarang dia bisa tuntaskan. Tinggal satu, mengenai Veronica.


"Gue butuh bukti, buat kejutan Lo di ulang tahun sekolah, Vero. Itu terhitung dari sekarang sampai dua Minggu ke depan. Lo gak sebaik dibayangkan orang, gue bakal membersihkan nama 'adik' gue!"


Kenapa pemuda itu tidak ikut di penjara bawah tanah nya Red Blood? Atau apakah dia ke sini untuk menyerahkan diri.


"Vina." Panggil Avrenzo saat sudah berada di samping nya. Vina meneruskan perjalanan nya, namun ditahan Avrenzo. "Gue mau ngomong sesuatu!" Lanjut nya.


"Apa?" Tanya Vina dengan datar. Lalu menghempaskan tangan Avrenzo dari nya. Muak, mengapa selalu orang seperti Avrenzo yang datang di saat dia pusing, tambah pening kepala nya jadinya.


"Gue cuman mau nanya, apa di hati Lo benar-benar gak ada gue lagi?"


Vina menghembuskan nafasnya lelah, "gue gak perlu jawab. Tapi untuk kesekian kalinya, di hati gue gak ada lagi nama Lo, dan gak akan lagi. Camkan itu!"


Avrenzo menunduk, dan mata nya mulai berkaca-kaca. "Maaf, kesalahan gue terlalu banyak. Itu semua ngebuat gue sadar, kalau Lo lebih berharga dari semuanya."


Vina tersenyum sinis. Lagi dan lagi, kata maaf yang keluar dari orang-orang yang telah menyakiti adiknya ini. Bukan kata maaf yang dia inginkan, bukti, dan juga ketenangan yang dibutuhkannya sekarang.

__ADS_1


"Udah? Udah ngomong nya kan, gue mau pergi dulu. Gue punya pekerjaan yang gak menyia-nyiakan waktu, hanya untuk berbicara dengan orang seperti anda!"


"Pergi dari sini, sebelum Red Blood membunuh Lo." Lanjut nya.


Lagi, pemuda itu terpaku di tempatnya. Badan nya berat, tidak bisa bergerak bahkan hanya sekedar menahan Vina yang telah menjauh. Dia juga seharusnya kembali segera, agar dirinya tidak tertangkap kelompok Red Blood.


Avrenzo berbalik, berjalan ke arah yang berbeda dengan Vina. "Mungkin hanya ini yang bisa ku lakukan untuk kamu, Vin. Menjauh, dan tidak ada di sekitar mu. Aku akan menghilang dari dunia ini!"


...🥀🥀🥀...


Vina masuk ke rumah sakit itu. Dan duduk berselonjor di depan kamar Keyla yang kosong. Gio pun tidak ada, hanya ada Keyla di dalam sana, sendirian, dan tertidur.


"Siapa, orang-orang yang ngejar gue, ya? Gue harus cari tau," gumam Vina.


Di dalam pikirannya, salah satu motor yang paling diingatnya adalah, sebuah stiker berbentuk bulat dan silang ditengahnya serta sebuah tengkorak yang ada di sana.


"Motor itu, gue kayak nya gak asing. Tapi siapa? Gak mungkin gue gak tau!" Vina menggaruk tengkuknya,dan sedikit menguap.


"Gue gak pernah nyari masalah, kenapa ada aja yang benci gue, sampe mau nyakitin gue gitu." Vina menggigit kuku jempolnya. Dan tangan satunya memijat pangkal hidung.


"Di rumah! Gue pernah liat di rumah. Jadi motor itu yang ada di sana. Motor milik.. Calos?"


Vina membulatkan matanya, kaget atas sesuatu yang baru dia dapatkan. Tatapannya kembali seperti semula, dan semua modifikasi motor Calos juga.


"Apa ini yang dikasih tau Carlos pas itu? Oh, dia mau bermain-main dulu seperti nya. Kalau mau nya kayak gitu, mari kita mulai."


Vin bangun dan meregangkan otot-otot tubuhnya, dan berjalan ke depan, mengelus pintu kamar. Kemudian pergi ke arah kanan, jalan keluar utama.


"Calos! Lo mau main-main, maka gue bakal bersikap lebih dari ini!"


...🥀🥀🥀...

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2