Transmigrasi : Aku Antagonis?!

Transmigrasi : Aku Antagonis?!
Part. 74 : What's wrong with you Vero?


__ADS_3

"Loh, kripik gue mana?"


Seseorang di sampingnya hanya cengengesan menatapnya. "Gue abisin."


"Yeu, dasar senter!"


"Ya maap. Lagian ada kripik depan mata, ya gue ambil. Maap ye, Vin."


"Iye dah. Keknya cemilan udah mu abis juga, gue mau ke minimarket dulu dah." Sembari berdiri dari tidur terlungkup nya, Vina pun lalu berjalan ke arah pintu dan mengambil kunci motornya.


"Eh, gue ikut~" Sena berlari mengikuti Vina. Tapi Vina langsung memberhentikan Sena, agar tidak mengikuti nya.


"Udah, gak usah. Gue bisa sendiri," ujar Vina lalu melanjutkan jalannya. Ia hanya jalan kaki menuju minimarket terdekat. Dia ingin menikmati me-time juga sebenarnya.


Masuk ke dalam minimarket, dan memilih beberapa cemilan yang biasanya dibeli olehnya, dan membeli minuman kaleng, minuman beer yang sudah lama dia tak sentuh. Tapi tenang saja dia tahan tidak mabuk, terlebih persenan alkohol dalam beer itu juga tidak tinggi.


Vina duduk dan menikmati beer nya di depan minimarket, ada tempat duduk di sana. Tak berselang lama, mata nya menyernyit, melihat perempuan yang sudah lama tak ia lihat. Tapi ada yang aneh, kenapa perutnya seperti sedikit membesar. Seperti dipaksa masuk ke dalam sebuah mobil. Tentu perempuan itu memberontak.


"Vero!" Panggil Vina, dan sebelum terlambat, dia berlari dan memukuli laki-laki yang cukup kekar. Untuk menyelamatkan perempuan yang ia panggil itu. Vina menarik pelan tangan Vero dan membawanya ke belakang punggung.


"V.. Vina," ucap orang itu terkejut siapa yang membantu nya. Matanya yang berkaca-kaca akhirnya mengalir. Tangannya sedari tadi sudah bergetar takut. Vina dengan lincah melawan para laki-laki yang tadi memaksa Vero masuk ke dalam mobil itu.


Semua nya kalah, tapi tetap berhasil membuat Vina sedikit terluka. Dengan cepat ketiga laki-laki itu terhempas ke tanah tanpa ampun. Vina menarik salah satu dari orang yang di tanah.


"Siapa yang nyuruh kalian?" tanya Vina dengan nada dinginnya. Aura nya terasa berbeda, dia menjadi Rissa yang menyeramkan sekarang. Vero yang melihat itu juga sedikit mundur melihat Vina yang berubah seperti itu.


"Kau tidak perlu tau," decih orang itu. Membuat Vina semakin menekan leher laki-laki itu, dan mengumpati laki-laki itu.


Tapi sesi selanjutnya yang sudah lama tidak Vina lakukan, terhenti akibat dadanya yang terasa nyeri kembali. Dia menarik nafas dan terengah, tangannya yang meremat leher laki-laki biadab itu meregang.

__ADS_1


"Pergi, sebelum hal yang tak kalian duga terjadi." Suruh Vina, setelah mengontrol diri, dan berdiri, dan berjalan menjauh dari tiga orang yang tergeletak. Lalu menarik tangan Vero menjauh, dia tidak secuek itu untuk tidak memerhatikan Vero yang takut dan berbeda dari terakhir ia bertemu.


Dia menggenggam erat tangan Vero, memberi nya kekuatan. Jujur saja, dia masih membenci orang yang berani menyakiti adiknya. Namun, entah kenapa, hati beku dan dingin yang tak tersentuh ini, berubah menjadi sosok yang peduli akan sesama.


Kemana sosok nya dulu yang bahkan kejam, dan tak peduli pada sekitar. Vina memejamkan mata nya, dan mereka berdua berjalan menyusuri pinggir jalan.


"V.. Vin," panggil Vero saat keheningan terjadi di antara mereka. "Maaf~"


Satu kata dari Vero, dengan nada bergetar dan terbata-bata itu, membuat Vin terhenti dari langkah nya. Dan menengok pada Vero, yang menunduk. Tangan kanannya digenggam oleh Vina, dan tangan kirinya memegang perutnya.


"Maafin aku~" Vero menangis sejadi-jadinya. Vina tersentak karena Vero malah menangis, dia melihat sekeliling, yang seperti biasa, sepi.


"Kalau mau ngomong, di rumah gue aja." Vina kembali menarik tangan kanan Vero dengan lembut. Tangan kanan Vina masih setia memegang plastik dari minimarket.


Dan mereka sampai di rumah Vina. Orang-orang yang di dalam sedang bercanda ria, tiba-tiba terdiam melihat Vina yang membawa seseorang yang sangat mereka benci.


"Kenapa ada dia, Vin?" Tanya Sena yang sedang tiduran di atas karpet, dan terbangun.


Vina melihat ke Vero, "ayo duduk. Gue butuh tau kenapa Lo gini."


Vero dengan ragu menunduk, dan mengangguk.


"Cerita apa?" Tanya Keyla yang meminum gelas isi air berwarna merah nya. Itu hanya sirup dari kulkas.


Vero duduk dan meremat rok nya, merasa dirinya sangat berdosa pada mereka, terutama Vina. Mata nya masih mengeluarkan air.


"Kenapa Lo bisa kayak gini?" Tanya Vina, keluar dari dapur membawa minuman untuk Vero.


"G.. gue hamil," ucap Vero sembari memegang perutnya yang terlihat membesar, tapi tidak terlalu besar. "Dan gue gak tau siapa yang buat," lanjutnya, dan semakin menangis.

__ADS_1


Vina menarik Vero kepelukannya.


"I hate this world, Vin~ Gue benci. Bahkan gue hampir nyerah sama dunia ini. Dari dulu gue selalu iri ke Lo, yang selalu disayangi oleh keluarga Callandra. Padahal kita tau Lo bukan anak dari keluarga ini, tapi Lo bahkan disayang. Tapi, gue apa? Gue diambil jadi anak keluarga Callandra, tapi gak pernah dianggap. Gue memang dipenuhi kebutuhan nya, tapi apa gue egois ya? Gue egois, mungkin, karena meminta perhatian, dari orang tua angkat gue."


Vero menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Vina. Dia mengeluarkan semua nya. Dan yang tadi berkumpul mendengar dengan seksama cerita.


"Maaf, Vin. Gue terlalu iri ke Lo, sampai gue menerima karma dari perbuatan gue ke Lo selama ini." Vero meregangkan pelukan itu. "Malam itu, malam di mana gue terakhir ketemu Avrenzo, di situ karma terjadi. Pertama kali gue nolak untuk gak ambil perkejaan gue yang biasanya, dan keluar dari club itu. Dan ternyata orang yang gue tolak tetap kejar gue, dan terjadi kayak gini, kenyataan nya minuman yang gue minum udah dia masukin sesuatu, dia bawa gue kesuatu tempat, dan gue gak ingat lagi," jelas Vero dan kembali menangis sejadi-jadinya.


"Dan entah siapa mereka yang mau bawa gue, entah kemana. Dan terima kasih Lo mau dateng nyelamatin gue. Nyelamatin orang yang selalu buat Lo tersakiti."


Yang lain melihat Vero dengan tatapan mata yang sulit dijelaskan. Vin mengelus kembali kepala Vero, dan memeluknya. Vero meracau, dan meminta maaf berkali-kali, pada Vina.


'Entah kenapa, gue merasa kasihan ke Vero. Dia sebagai perempuan seharusnya gak harus mendapatkan ini.' Batin Vina menatap Vero yang terus meracau.


...🥀🥀🥀...


"Dia tidur?" Tanya Sena pada Vina yang baru saja keluar dari kamar nya. Vina mengangguk.


"Dia baru bisa tidur nyenyak saat gue bilang dia aman sama gue. Gue harus nenangin diri dia, dia kayak nya memang bener-bener banyak pikiran." Vina duduk di sofa melihat satu persatu dari mereka.


"Tapi Lo yakin? Dia udah berubah?" Tanya Audi yang sedari tadi diam.


Vina tersenyum tipis, "gue memang gak bisa menjanjikan apapun untuk dia yang udah berubah atau belum. Tapi setidaknya, mari kita lihat ke depannya."


Roby menatap kamar itu, kamar yang ditempati oleh Vero dengan tatapan sendu. 'Maaf, gue bahkan gak bisa jaga Lo, Veyo.' Batinnya.


Gio menatap Roby yang terlihat aneh dari awal Vero datang ke rumah ini. Tatapan nya seperti rindu, dan sedih. 'Apa dia mengenal Vero?' Gio bertanya-tanya dalam hatinya.


...🥀🥀🥀...

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2