
Roby melihat ke belakang, menatap lurus pada tiga orang yang harus saja masuk. Dua laki-laki, dan satu gadis. Roby terkekeh, matanya hampir tertutup saat tertawa. Aiden hanya diam memberontak.
"Jadi, apa aja yang udah dia kasih tau?" Tanya Paul. Kakinya berjalan mendekati Roby yang masih anteng duduk di kursi nya.
Roby menjelaskan apa saja yang Aiden katakan. Membuat merek bertiga terkejut, apalagi mengenai Kakek William yang ternyata ikut serta dalam pembuatan mesin illegal itu.
"Tapi dia gak bohong kan?" Tanya Gio.
Vina ikut menyeletuk, "nah, betul kata Gio. Dia gak bohong kan? Karena bisa aja, kebohongan ditutupin dengan kebohongan lagi."
"Kayak Papah Radit," lanjutnya namun dalam hati.
Mereka langsung menatap Aiden yang gemetar. Roby menunjukkan kembali foto perempuan yang baru saja dipanggil Elin. Aiden menggeleng cepat.
"Itu semua bener! Gue gak bakal bohong, ini semua demi nyawa satu orang perempuan, yang gue sayangin!" Sentak Aiden, merasa dirinya tidak dipercaya. Padahal dia sudah jujur sejujurnya.
Roby menatap mata elang milik Aiden. Menelisik lebih dalam, dan setelah itu mengangguk singkat.
"Dia jujur." Ucap Roby. Membuat Vina, Gio, dan Paul menengok ke Roby.
"Tau dari mana Lo?" Tanya Paul.
"Lah, kan gue sarjana psikologi." Jawab Roby, mendelik kesal. Begitu-begitu dirinya sarjana, walau ikut dalam kelompok mafia seperti ini. Toh, kemampuan nya terpakai kan dalam keadaan seperti ini.
Walaupun mereka ikut dalam kelompok mafia seperti ini, mereka juga pernah belajar.
"Oh iya ya, santai bro, santai. Kayak di pantai," ujar Paul. Roby menyandarkan tubuhnya pada kursi, sembari merengut.
"Tolong lepasin Elin. Tolong," mohon Aiden dengan nada melemah, tidak lagi memberontak, yang berakhir kesakitan pada kulit-kulit tubuhnya.
Vina menyernyit. "Elin? Siapa Elin?"
Gio menoleh pada Vina, saat gadis yang dianggapnya baru saja masuk ke dalam dunia permafiaan ini bertanya. Bagaimana tidak bertanya, ingatan Vina kan belum sepenuhnya pulih, dari awal dia bangun.
Tapi mereka tidak ada yang tahu, hanya gadis itu seorang yang tahu.
"Crush nya dia. Kasian sih, tapi mau gimana lagi. Dia harus dibuat buka mulut." Gio seperti nya sudah mulai terbiasa, dengan keberadaan Vina, yang asing, tapi semakin ke sini, semakin akrab.
Vina mengangguk paham. Dan memijit kepalanya singkat, sedikit pusing, karena memaksakan diri untuk mengingat-ingat kembali.
"Lalu, kenapa kalian tau, tentang Elin?" Tanya Vina semakin penasaran.
"Yah, waktu dulu kan, boss sahabat Aiden. Jadi tau semuanya termasuk crush nya, gak tau deh kenapa jadinya si laki-laki ini ngajak musuhan." Jelas Paul.
Oke, padahal sejauh itu dia tahu mengenai Aiden. Tapi kenapa dia sama sekali tidak ingat apa-apa. Ah, susah kalau lupa ingatan seperti ini. Penyebab dari mereka bermusuhan, sekarang, hanya Aiden yang tahu. Dia, bahkan tidak mengenal Aiden seperti dulu Rissa mengenalnya.
"Eh, kalau gue tau gini, gak papa emangnya?" Jangan berlagak sok polos, Vina. Namun, ia merasa dirinya seperti baru masuk, dan sudah mengetahui banyak hal. Apa anggota nya se-ramah ini? Dulu, sepertinya tidak.
Gio, Paul, dan Roby tersenyum. "Kalau Lo dibolehin tau kayak gini berarti Lo udah diterima di Red Blood. Apalagi ketua yang nyuruh kita untuk perlakuin Lo dengan baik, kayak dia ke Lo. Terus, kata Keyla juga, Lo itu pinter untuk menentukan pilihan." Jawab Gio.
Menentukan pilihan? Maksudnya? Keyla tidak memberitahu macam-macam kan? Jadi apa yang perlu dia tentukan. Vina hanya menyernyit bingung. Tapi dia kembali mengondisikan wajahnya seperti semula.
"Oh, thanks. Udah percaya sama gue."
Roby menepuk tangannya sekali. "Oke, jadi gimana nih? Kita apain Elin, atau si Aiden ini?"
__ADS_1
Gio menatap Vina, seakan tahu maksud Gio. Ini maksudnya?
"Gue yang nentuin?"
Ketiga pemuda itu mengangguk membenarkan. Gadis itu berdecih pelan. Jangan-jangan Keyla mengangkatnya menjadi wakil nya, sebagai orang yang dapat dipercayai ketua, disaat ketua tidak ada.
"Kata Keyla, Lo bakal diangkat jadi wakil nya."
Nah 'kan, pikiran nya benar. Gadis itu hanya dapat mengumpat dalam hatinya, seenaknya saja Keyla mengangkatnya untuk menjadi wakil. Padahal dia bertekad tidak masuk lagi ke dunia permafiaan.
"Gue mau liat dulu. Siapa Elin." Vina penasaran wajah perempuan itu. Sudah tua kah? Seperti tante-tante girang. Atau masih muda kah? Secantik dirinya.
Aiden hanya dapat berharap, jika perempuan yang disayanginya tidak diapa-apakan. "Vin. Tolong jangan apa-apain dia ya. Dia kan sahabat Lo juga. Elin gak salah, gue yang salah disini."
BRAK!
Gio menendang salah satu kursi yang ada di dekatnya. Pemuda itu mengepalkan tangannya.
"Siapa yang nyuruh Lo ngomong?" Gertak nya. Aiden memejamkan matanya sambil mengernyitkan dahi nya. Dan menghembuskan nafas berat.
Vina menahan amarah Gio. "Yo, sabar. Dari pada Lo marah terus, anterin gue, ya, ke tempat Elin disekap," cengir Vina.
Pemuda itu mengangguk. Dari pada ruangan ini menjadi tempat pertumpahan darah lagi. Sudah lelah dirinya untuk bertarung.
"Roby, Paul. Gue sama Vina ke Bogor dulu. Mau liat si Elin. Jaga in Keyla di sini ya."
"Kalau jagain Keyla mah gak usah dibilangin, kali."
"Ke Bogor?" Batin Vina.
...🥀🥀🥀...
Vina yang sedari tadi melihat ke luar jendela, melirik Gio. Dan membuka pembicaraan, menghentikan keheningan diantara mereka.
"Gio." Panggilan itu hanya dijawab dehaman oleh pemuda yang sedang fokus menyetir.
"Lo suka gak sama Keyla?" Tanya Vina. Gadis ini memang dari dulu selalu bertanya to the point. Karena malas berbasa-basi, yang membuat waktunya terbuang sia-sia dengan obrolan aneh.
Gio yang sedang menyetir sedikit oleng, karena terkejut, untung nya tidak terjadi kecelakaan. Tidak lucu jika mereka terjadi kecelakaan, hanya karena pertanyaan yang tiba-tiba seperti itu keluar dari mulut Vina.
Gadis yang harus saja bertanya, tersenyum miring. "Oh gue udah dapat jawabannya, terutama sikap Lo, keliatan banget."
Gio melirik Vina, dan kembali menatap jalanan. Dia berusaha tetap tenang, tapi jantung nya ketar-ketir. Apa se-kentara itu?
"Maksud Lo apa? Sikap gue ke Keyla kan hanya sebagai anak buah ke bos nya," jawab Gio, padahal peluh nya sudah menetes, sampai tangannya yang berada di setiran sedikit basah.
Vina tertawa. "Iya, iya. Gue tau kok, muka Lo tegang banget dah."
Mengapa gadis yang di sampingnya ini, seperti nya tahu? Vina selalu memperhatikan segala kondisi di sekitarnya. Pemuda itu hanya dapat menghela nafas.
"Kita udah nyampe." Mereka keluar dari mobil, dan melangkah masuk. Vina hanya mengikuti Gio dari belakang.
Sebuah rumah tanpa tingkat, bercat putih dan abu-abu. Tanpa pagar, yang dapat menunjukkan halamannya. Cukup bagus untuk tempat menyekap seseorang. Pintu utama diketuk dan menampakkan seorang pemuda dan perempuan yang membuka pintu itu.
Vina membulatkan matanya. Kedua orang di depannya sungguh tidak asing. Sejak kapan mereka ikut dalam kelompoknya?
__ADS_1
"Hai, Kevin, Amanda. Loh, mana si Jane?"
"Noh di dalam. Lagi nyuapin si perempuan yang gue gak tau namanya," ujar Amanda.
"Wanjir. Selama itukah gue di Jakarta, sampe-sampe gak tau perkembangan Red Blood!" Batin Vina.
Matanya berkedip beberapa kali. Selagi Vina masih terperangah melihat keduanya, Gio menarik nya masuk. Membuat dua orang yang di pintu mempersilahkan masuk.
Di dalam rumah ini, interior nya lumayan bagus. Aesthetic tempatnya, tata letaknya terbilang nyaman. Lampu tumblr berwarna putih cerah. Sofa kulit yang berwarna putih kekuningan. Juga cat ruangan yang enak dipandang.
Semua kesukaan Rissa. Yang simple seperti ini, bahkan warna kesukaannya dipakai di sini. Juga ada poster-poster yang jadi kesukaannya, fotonya saat menjadi Rissa. Seperti kembali ke zaman dulu, sebelum dirinya meninggal.
Keasikan melihat sekitar, tidak sadar dua orang pemuda dan dua orang perempuan menatap nya aneh. Jari jemarinya mengelus bingkai foto, foto dirinya bersama Keyla.
"Vin. Lo kenapa?" Tanya Gio khawatir. Karena sejak tadi Vina hanya diam dan memperhatikan segala sisi ruangan dengan rindu.
Vina tersadar, laku tersenyum dan menggeleng. "Gak papa. Interior nya bagus, gue suka."
Gio mengangguk singkat. Tidak mempersalahkan kalau Vina suka dengan ini. Karena Red Blood sudah membuat rumah ini, seperti museum. Museum Rissa. Ada-ada saja.
"Oh iya. Vin, kenalin ini sahabat nya Keyla, sama Rissa. Yang ini Amanda, Kevin, sama Jane." Gio memperkenalkan ketiga orang yang hanya diam menatap Vina.
Vina masih mempertahankan senyuman nya. "Clarissa Davina."
Nama gadis ini mirip dengan seseorang. Membuat ketiga nya menghela nafasnya.
Vina mengulurkan tangannya. Disambut oleh perempuan yang sekarang berpenampilan layaknya anak jalanan. Blazer hitam, berpadukan kaos putih, juga jeans hitam. Mata nya yang ungu, seperti mampu menghisap orang masuk ke dalamnya.
"Gue Jane Leteshia."
Perempuan satu nya menyambut uluran tangan Vina yang telah dilepas Jane. Penampilan nya hampir sama seperti Jane. Mata hitam kecoklatan nya membuat Vina bergidik.
"Amanda Almahyra Anindra" Singkat dan jelas. Vina tersenyum maklum.
Dan sekarang giliran laki-laki yang wajahnya kaku, namun, terlihat ramah. Menggenggam tangan nya. Penampilan nya tidak banyak berubah, seperti terakhir dia melihat nya.
"Sorry ya, kedua sahabat gue emang gitu. Sejak kejadian waktu itu." Wajah Kevin terlihat murung, namun kembali cerah, menutupi kesedihannya. "Ngomong-ngomong kenalin gue Kevin Aprilio Aberdeen. Panggil aja Kevin."
"Gak usah bawa-bawa yang dulu, Kevin!" Ujar Amanda dengan dingin. Gio yang melihat itu hanya menggelengkan kepala pasrah.
"Yang dulu maksudnya, kematian Rissa?"
Amanda menatap tajam Vina. "Lo tau?!"
"Gue sama yang lain yang kasih tau." Potong Gio. Membuat Amanda berhenti membentak, dan terdiam.
"Hayiraa, Jin, Abeden. Salam kenal ya, gue harap kita bisa berteman dengan baik." Plesetan nama mereka, dipakai sebagai panggilan.
Membuat ketiga orang itu menegang. Panggilan itu, mengingatkan mereka pada Rissa.
"Yo. Temuin gue ke Elin." Pinta Vina, setelah membuat ketiganya terdiam. Gio mengangguk dan membawanya masuk ke suatu kamar.
"Reuni yang gak gue kira, ya. Untuk kalian bertiga, gue harap sebagai Vina, kita bisa sahabatan, dan bisa habisin waktu bareng. Bukan kek dulu gue, yang sekalipun gak bisa pergi bareng kalian."
...🥀🥀🥀...
__ADS_1
BERSAMBUNG...