
Brakkk!
Seorang kakek tua melemparkan berkas-berkas di tangan nya ke meja. Menatap tajam gadis di depannya. Bersedekap dada. "Keyla, apa kamu jarang mengontrol sekolah, hah? Kenapa ada masalah di sekolah malah saya yang turun tangan?"
Keyla memejamkan matanya dan, menahan napasnya saat mendengar bentakan kakeknya. Tangannya terkepal. Kakeknya ini tiba-tiba datang ke markas, setelah sehari sesudah mengalahkan Xlovenos. Dan membicarakan hal ini.
Mana Vina, kakaknya belum pulang ke rumah, dan masih berada di markas. Dia jadi ingat perkatan kakak nya dulu.
"Jawab, Keyla!”
Keyla menatap wajah kakek nya yang sudah banyak keriputnya itu. "Kakek selalu melimpahkan semuanya pada saya, tapi saya tak pernah mengeluh. Mulai dari menjadi kepala sekolah di umur ku yang seharusnya masih sekolah, lalu menjadi ketua Red Blood."
Kakeknya menyeringai, "itu.. itu jawabannya. Jawaban yang saya mau."
Kakek itu berjalan ke tengah ruangan, melihat sekeliling. Seperti ber-nostalgia, dirinya saat dulu yang mengontrol kelompok ini. "Saya tau, tanggung jawab mu bahkan lebih besar dari Rissa, Key. Kakak mu hanya saya perintahkan untuk menjaga Red Blood setelah ayah kalian tidak bisa, saya juga sudah tua."
Tubuh ringkih nya berbalik menghadapnya, melihat Keyla yang menatap nya datar. Dirinya tersenyum tipis, "kamu kuat, seperti kakak mu. Keyla, kalau kamu ingin berhenti, mengapa tidak bilang ingin berhenti?"
Lalu dari ruangan lain, Vina keluar. Menghampiri keduanya, merangkul Keyla yang terkejut melihat kakaknya keluar.
"Keyla, kakek sudah bertemu dengan cucu kakek, adek kamu. Dengan jiwa yang diisi oleh kakak mu. Sebenarnya kakek tua ini terlalu pintar," kata nya.
"Saat pertemuan terakhir kita di dekat alat Transmigration communicate itu. Aku tahu, kalau kakek akan terus mencari tahu, siapa diri ku. Dan tentu aku yang sama licik nya dengan kakek, gak mungkin gak menyadari berapa banyak pasang mata yang melihat dan memperhatikan kita, untuk menggali informasi."
Penjelasan dari Vina membungkam keduanya, tepat, tepat sekali yang dibicarakan Vina. Kakek itu benar-benar dibuat berdecak kagum.
"Dan kamu tau kan, apa yang jadi alasan saya untuk membuat Transmigration communicate?" Tanya kakeknya.
"..ya. Untuk membuat saya pindah ke tubuh lain," jawab nya.
"Tentu, tapi ada satu yang terlewat. Agar cucu saya lengkap. Vina yang sebenarnya ada kan, di diri kamu? Maka dari itu, saya bertujuan untuk membuat kamu pindah ke tubuh lain, dan membiarkan Vina yang sebenarnya tetap hidup!"
"Itu namanya egois. Vina yang sebenarnya sudah lelah akan kehidupan nya, biarkan dia bahagia, Kek!"
__ADS_1
Keyla menatap wajah keduanya, sang kakak, dan kakek. "Dia bahkan lebih merasakan berapa pelik nya kehidupan."
'Vina asli' menatapnya, dan kakek itu merasakannya. Tatapan dari Rissa berbeda dengan yang sekarang.
"Ku mohon, ikhlas aku, Kek. Walaupun aku gak pernah punya kenangan, tapi melalui kak Rissa, aku bisa melihat kehidupan yang lebih baik. Aku cuman mau lepas dari dunia kejam yang dilingkupi oleh orang-orang yang bahkan gak tau kesakitan aku."
"Kalian tau, aku datang saat ini, karena kalian, keluarga ku, berkumpul di sini. Aku hanya ingin mengucapkan sesuatu, yang akan menjadi akhir pertemuan aku, Clarissa Davina sama kalian."
Keyla menyernyit tak suka mendengar perkataan dari nya, kenapa bis dia berkata seperti itu? Bahkan wajah kakeknya sudah mengeras.
"Kakek William, Keyla. Walaupun kedekatan kita hanya melalui Kak Rissa, tapi setidaknya aku bisa melihat keluarga kandung ku yang sebenarnya. Aku tau, takdir yang Tuhan hadapkan pada ku akan berakhir seperti ini. Setidaknya aku bersyukur, dalam beberapa bulan ini, aku bertemu kalian di sisa-sisa waktuku."
'Vina asli' meneteskan air matanya, isak tangisnya terdengar jelas di dalam ruang yang hanya diisi mereka bertiga.
"Kakek, aku cuman mau bilang terima kasih, akan kakek yang mencoba menginginkan kami, aku dan kak Rissa kembali, dan mengisi hidup kalian. Tapi aku capek, ini semua terlalu berat, aku udah melihat perjuangan kak Rissa dan Kak Keyla, begitu sakit dan lelah. Ku sempat diberikan kesempatan untuk kembali menjadi manusia, tidak, aku tidak mau, aku menjawabnya dengan tegas."
Mata nya menatap kakeknya yang memalingkan wajahnya, menutupi wajahnya yang entah menangis atau tidak. Tapi bisa dilihat tubuh ringkih milik kakek itu bergetar.
"Lalu, kak Key. Aku melihat betapa kamu menyayangi kakak mu yang begitu keras kepala ini. Dan dengan itu, aku bis merasakan kehangatan. Aku nyaman, seperti rasanya ingin kembali ke bumi. Namun aku sadar sekali lagi, takdir memang main-main pada ku. Entah itu, nyaman atau cinta yang diberikan, itu bukan milikku melainkan kak Rissa."
"Aku cukup sadar diri."
Melihat adiknya yang begitu polos dengan keadaan dunia ini, lalu melangkah menghampiri nya. Menggapai nya dan menarik ke dalam pelukan hangat nya.
"Davina.. kamu tau, kalau kamu ada pun, di dalam keluarga William, kamu itu tetap disayangi. Aku menyayangimu, dan juga kak Rissa, karena kalian sama sama saudara ku. Entah mengapa aku pun tak tau, kenapa bisa kita terpisahkan, tapi setidaknya aku tau bagaimana wajah dan sikap kamu, Vina. Sikap kamu memang sangat berbeda dari kami," kelas Keyla menutup matanya, merasakan basah di pundaknya.
Dia menepuk-nepuk punggung Davina, lama-kelamaan yang berhenti, dan tak terdengarlah suara lagi.
"Untuk semuanya, terima kasih dan selamat tinggal. Mungkin kita bisa bertemu lagi, tapi di lain tempat."
Ucapan nya setelah melepaskan pelukannya dari Keyla, lalu menatap Keyla dan kakeknya. Dan setelahnya gelap.
...🥀🥀🥀...
__ADS_1
"Jadi ini akhir?"
Gadis di depannya menggeleng. Dia menatap belakang nya yang terang sekali kelihatannya, melihat kedua orang tua kandungnya melambai-lambai padanya.
"Bukan ini adalah awalnya dari semuanya kak."
Kaki itu melangkah menjauhi gadis satu nya yang melihatnya dengan sendu.
"Awal bagi kehidupan kakak, yang menjadi lebih baik lagi. Dan awal bagi ku, hidup di dunia yang lebih bercahaya. Ikhlaskan kepergian ku ya kak, agar kita sama sama tenang di dunia ini, ataupun di bumi sana."
Senyuman indah dari adiknya yang sangat cantik dipancarkan padanya. Dengan gaun putih yang bertengger di tubuhnya, dan sebuah mahkota yang ada di kepalanya, itu semua berlaku pada orang-orang di dalam sana, di dalam cahaya yang bahkan sulit dilihat.
Gadis yang baru saja ditinggal, melambaikan tangannya pada gadis yang baru saja menghilang dari pandangan nya, dan masuk ke dalam cahaya terang tersebut bersama orangtuanya.
Senyuman indah itu tak pernah bisa ia lupakan. Betapa bahagianya dia melihat adiknya masuk ke sana. Apakah itu surga seperti yang diiming-imingi oleh beberapakali manusia yang berharap juga bisa masuk ke sana setelah kematian nya? Apakah itu firdaus tempat orang-orang bisa bahagia terus?
Rasanya dia juga ingin. Tapi dia tahu, ini bukan waktu untuk dirinya. Dia tersenyum, menurunkan tangannya, saat pintu gerbang yang begitu besar, kuat, dan kokoh itu tertutup.
"Selamat tinggal adik kecil ku. Setidaknya aku bisa melihat kamu bahagia, ya, bahagia di sini. Di surga."
Semua yang diciptakan ke bumi, akan kembali lagi ke tangan sang pencipta. Karena itu adalah takdir bagi kita semua. Karena bagi semua manusia tentunya, kematian adalah awal dari kehidupan yang sebenarnya.
...🥀🥀🥀...
FIN
UNTUK SEMUANYA, TERIMAKASIH YANG SUDAH MENGIKUTI SEJAK AWAL SAMPAI AKHIR. OH MENGINGATKAN KEMBALI, BAHWA SETELAH INI AKAN ADA EPILOG.
BY THE WAY, AKU MAU PROMOSI JUGA, UNTUK NOVEL IN MY NOVEL, DAN HOW FAR. DI BACA JUGA YA.
TERIMAKASIH JUGA ATAS DUKUNGAN NYA.
SALAM DARI AKU,
__ADS_1
Nothing_JustMe
Sampai jumpa..